Hegemoni media sosial kerap kali
Menjadi bahan yang begitu renyah
Untuk kita jadikan cemilan ringan sesaat rindu melanda (?) , atau jadi jamuan wajib hingga habis tak bersisa.
Beberapa isi konten tersaji setiap harinya
Memaksa kita untuk mencap rasanya, lalu santap membaca. Terlebih jika itu yang sedang menjadi hype di sosmed; Feed-feed instagram, snap wa, dan hal lain yang berseliweran di jagat maya. Asyik sampe lupa waktu biasanya.
Akal pun aktif memilah, memilih, berikut memformulasikan semua didalamnya.
Mana yang patut ia terima, Ia catat dalam memori dan dijadikannya acuan dalam mencipta dirinya. Menjawab siapa dirinya.
Terkadang lupa akan adanya hati sebagai penawarnya.
Dan, secara tak sadar pula feed-feed insta, snap wa, berita-berita, sedikit banyaknya berpengaruh/mempengaruhi warna kita. Yang secara tak sadar pula menjadilah diri kita sekarang ini. Dengan sudut pandang yang beragam adanya.
Adanya konflik, acap kali disebabkan perbedaan itu, perbadaan cara melihat, sisi lainnya standar yang dipakai tiap orang tidaklah sama (sama-sama menggunakan hawa nafsunya masing-masing, keinginan dirinya masing-masing). Itulah yang menyebabkan konflik tercipta.
Singkat, untuk mengurangi intensitas terjadinya konflik tersebut, mungkin perlu adanya kesamaan acuan, yaitu syariat islam. Apa yang haq, benar menurut-Nya lah yang seharusnya kita jadikan acuan utama.
Jadilah a good influencer; apa yang ditulis, di baca, di share adalah hal-hal baik menurut-Nya. Peran kita juga sedikit banyaknya mewarnai mereka (pembaca) bukan?
Jangan sebaliknya, mewarnai dengan hal-hal yang kurang baik.
Bukankah kelak akan dimintai pertanggung jawabannya?