"Aku kira dengan membaca, mendengarkan semua yang kamu ceritakan, aku bakal lebih memahami kamu, Ra." Dia bicara sendiri di pikirannya.
Semua lamunannya tak membawa ia kemanapun, selain memikirkannya. Ia juga tak mengerti mengapa tiba-tiba seisi otaknya dipenuhi bayangan manusia itu. Semuanya terjadi begitu cepat, bahkan sebelum aku benar-benar menyapanya dengan benar.
Sudah lima tahun kita saling mengenal, tapi tak sedikitpun yang aku ketahui darimu. Apa kau yang terlalu menutup diri atau aku yang terlalu sibuk sampai tak bisa memperhatikanmu?
Ia terus mengatakan semua itu sembari menatap langit yang kebetulan bersih, seperti sudah dipel.
"Ra, kalo kamu lagi di luar, coba keluar, deh. Langit malem ini bagus banget." Ia berkata pada sunyinya malam.
Semesta selama ini tidak pernah memisahkan kita. Sejauh ini. Kita masih bisa bertemu dalam satu ruang yang sama. Tapi kenapa kita tak pernah bicara secara intens mengenai kita?
"Ra, apa aku salah? Apa aku salah pernah bicara itu padamu? Aku bahkan tak tahu bagaimana lagi untuk menyimpan itu semua sendiri. Aku sudah tak tahan. Aku benci menyimpan itu diam-diam." Seketika air mulai menetes ketika langit sedang menampakkan cuaca cerahnya.
Sehebat apapun lelaki, sekuat apapun ia, di suatu waktu ia juga bisa terlihat begitu rapuh. Kebanyakan mereka berlagak kuat dan periang. Sampai mereka lupa, bahwa mereka juga hanyalah manusia biasa yang perlu sedih dan menangis.


















