Bingung mau mulai nulis darimana, mau cerita kayak gimana. Berapa hari ke belakang rasanya risau, resah, gelisah plus galau bergabung jadi satu. Kayak baru dapat ilmu terus diliatin langsung prakteknya. Itu bikin kagok, reaksi nggak menentu. Cuma bisa diam terus renungin ini maknanya apa, ini ada apa, kok gini?
Kemarin itu abis baca buku yang judulnya Takdir Allah Tak Pernah Salah karya Agus Susanto. Isinya kayak ngobrolin tentang takdir itu gimana, kenapa Allah netapin suatu kejadian, takdir itu apa aja, dan seterusnya. Yang intinya adalah apapun ketetapan Allah atas kita itu ya itu yang terbaik menurut Allah. Sesuatu yang harus selalu kita ingat. Mau itu senang, sedih, kabar duka , kabar bahagia ya Allah yang tau terbaiknya. Kita harus bisa menemukan apa sih pesan Allah dari kejadian yang kita alami, apa nih yang mau Allah sampaiin. Dan ya sebisa mungkin legowo menerima kehendak Allah, walau pastinya di awal kita kadang nolak, mempertanyakan bahkan protes. Tapi akhirnya kita emang harus ambil pelajaran buat ke depannya.
Aku nggak mau terlalu mengaitkan , tapi setelah baca buku itu satu dua kabar di luar dugaan masuk ke layar ponselku.Pertama, kabar duka dari seorang senior satu kosan dulu di Semarang, yang sudah terlebih dahulu menebus rindu dengan Allah. Allah panggil pulang. Mbak yang kamarnya sebelahan sama kamarku, yang baik, ceria dan asik. Sendal bulu-bulu garfield nya yang selalu nangkring depan kamar. Sate bawaan orangtuanya waktu beliau wisuda. Belum sempat hadir di acara nikahan eh udah punya dua anak perempuan lucu-lucu dan cantik. Sekarang mbak udah tenang. Tapi aku masih terkenang. :(
Semalaman aku cuma mikir, “ini apa ya Allah? ada apa?” langsung buru-buru ingat bahwa kematian sekalipun nggak pandang umur, mau tua muda, sehat sakit. Kalau sudah Allah tetapin ya musti terima. Tinggal kitanya gimana nunggu jadwal pulang diisi apa. Aku jadi nggak bisa merem, takut, takut dijemput nyatanya emang belum siap, bekalnya belum ada :( setakut itu. Semoga aku takut matinya bukan karna cinta dunia ya, bukan karna takut pisah sama dunia yang fana dan sementara ini. Tapi karna emang sadar amalanku masih standar atau belum capai standar, masih jauuuuuuh dari kata “bisa menerangi kubur dan membawa ke surgaNya”
Belum kelar kaget dengan berita pertama disambung berita kedua, bencana alam gempa di Banten. Haduh apalagi ini? Kok beruntun??? Allah ada pesan lagi. 7,4 sangat bisa membuat orang-orang yang sedang sibuk sama aktivitasnya lari kocar-kacir. Iya aku cuma bisa lihat di layar televisi, tapi apa yang terlihat memutar kembali kenangan beberapa tahun silam saat bencana yang sama sempat aku alami. Gempa itu seram, bagiku. Dulu saking traumanya aku sering kaget kalau ada getaran sedikit aja, bahkan mungkin itu cuma karna ada orang gerak di tempat tidur. Gempa-gempa kecil bisa bikin aku lari keluar rumah sambil teriak (salahnya aku malah teriak manggil mama, bukannya ingat Allah). Kalau papa bilang aku sepenakut itu, sampai akhirnya nggak diijinin kuliah di dekat rumah (maksudnya 80 km dari rumah :D, kota Padang). Karna papa tau gimana reaksi pertamaku kalau gempa, bisa-bisa malah nyelakain diri sendiri , lari nggak tau arah. Di Banten ini gempanya potensi tsunami, kebayang gimana paniknya orang-orang disana. Harus lari nyelamatin diri malam-malam. Nah ini, takdir Allah kan udah ada, kalau takdirnya di sana ya mau gimana, eitsss,, Allah nggak nyuruh kita terima takdir plek tanpa usaha . Usaha dulu selamatin diri, sembari terus terus ingat sama Allah minta perlindungan sama Allah.
Iya itu pesan Allah, kamu harus percaya sama ketetapanKu tapi jangan manja juga, jangan pasrah dan putus asa. Usaha dulu, tunjukin usaha terbaikmu, nanti hasilnya Aku yang tentuin.
Daaaan, pesan Allah dari kejadian ini, jangan lengah sama dunia. Saat sudah lengah kita mulai jengah beribadah. Mulai jumawa dan lupa siapa yang kasih semua yang kita dapat. Saat itulah Allah menyentil kita dengan kejadian-kejadian di luar dugaan.
Lega rasanya sudah menulis di sini. Menumpahkan semua resah dan semoga Allah jaga hati ini dari segala prasangka yang bisa merusak iman di dada.
Hanya kepadaMu lah tempat kami memohon perlindungan dan kembali, ya Allah.