Perlawanan Namla (Bagian 1)
Tubuh-tubuh kekar itu kini terbaring di jalanan. Jiwa-jiwa yang membara itu telah padam nyalanya. Dimatikan oleh keserakahan yang memaksa kawanan prajurit menjerit, para pemuda berhenti bersuara, dan para wanita kehilangan anaknya. Namla masih mengamati jasad kawan-kawannya dari jendela. Puluhan semut melewatinya tak seperti biasanya, mereka lewat tanpa bertegur sapa. Wajah-wajahnya murung. Langkah mereka berat, seberat rasanya ditinggalkan kekasih dan keluarga untuk selamanya.
Monster yang telah membunuh mereka telah pergi beberapa saat yang lalu. Kali ini mereka dibekali senjata yang lebih mematikan. Cairan beracun, cairan yang menghujani pasukan semut beberapa saat saja telah membuat mereka mati.
“Pak, aku gagal lagi,” sesal Namla.
“Aku tahu ini berat, nak,” jawab Raya, “tapi tugasmu di pasukan pengalih telah berjalan baik.”
“Kau tahu, kan? Kali ini yang terbunuh sangat banyak.” Namla berjalan mendekati kawan-kawannya telah terbujur kaku saling bertumpuk.
“Benar, tetapi kita semua tak pernah mengira mereka punya cairan yang begitu mematikan.” Raya menenangkan.
Namla masih diam. Raya menepuk-nepuk bahunya.
“Sudah, relakan teman-temanmu yang telah disapu di sana.” Raya berjalan pergi.
Malam itu berlalu dengan pembunuhan massal pasukan semut. Dari lima ratus ribu semut yang berangkat dalam komando Namla, hanya seratus ribu yang sampai dengan selamat.
Sementara di dalam lubang seluruh pasukan masih berkumpul, rupanya rapat besar sudah dimulai. Dari bawah pohon pucuk merah itu, Namla berjalan menuju lubang memasuki ruang pasukan.
“Besok sore setelah matahari terbenam,” kata Raya, “monster-monster akan berpesta. Di sanalah kita akan mencari bekal untuk persediaan umat Trava. Kadang kalau kita beruntung kita mendapatkan gula sisa di gelas-gelas. Pernah suatu kali wadah besar berisi gula terbuka, hari itu umat Trava yang berpesta. Trava berhari raya.”
Semut-semut berkumpul tenang, termasuk Namla. Raya berada di pusat kumpulan itu. Semuanya serius mempersiapkan keberangkatan berikutnya. Sebuah perjalanan mulia, demi pembebasan dan kesejahteraan umat Trava. Perjalanan yang membuat anak-anak bercita-cita menjadi bagian darinya.
“Tugasmu bersama pasukan pengalih adalah masuk ke celana monster itu,” perintah Raya.
“Siap, Pak.” Namla menjawab cepat.
“Ketika kau masuk, dia akan berdiri untuk melawan kita. Agar serangan kita maksimal, kau harus bisa masuk ke bagian paling dalam. Kau harus bergerak cepat atau kalau tidak kau akan mati terjepit.”
Raya melanjutkan, “ketika pasukan pengalih berhasil membuat monster pergi, kita serbu. Bawa semua makanan yang bisa kalian bawa. Biarlah anak-anak saja yang mengambil jatah di genangan teh.”
Hari telah berganti. Matahari telah sempurna tenggelam. Monster-monster telah selesai berpesta. Sisa-sisa makanan teramati telah tersebar di beberapa titik. Namla dan pasukannya telah berada di bawah kursi, bersiap masuk ke celana sang monster.
-Bersambung-














