Kau tahu mengapa sebagian orang kerap kali dengan mudahnya ingkar janji?
Karena mereka menaruh kepercayaan diri yang tinggi. Perihal hatimu yang "katanya" terlampau luas untuk selalu memaafkan mereka.
10.33 p.m || 31 Juli 2023
seen from United Kingdom
seen from China
seen from China
seen from Türkiye

seen from Lithuania
seen from Argentina

seen from Germany
seen from Malaysia
seen from China
seen from China

seen from United States

seen from Singapore
seen from Netherlands
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Türkiye
seen from China
seen from United States
Kau tahu mengapa sebagian orang kerap kali dengan mudahnya ingkar janji?
Karena mereka menaruh kepercayaan diri yang tinggi. Perihal hatimu yang "katanya" terlampau luas untuk selalu memaafkan mereka.
10.33 p.m || 31 Juli 2023
New SasuSaku Fic
I’m going to be starting a new SasuSaku fic today!
The storyline is going to be about Sasuke and Sakura traveling together and how their relationship grew into marriage and “baby making” ;)
I hope you all enjoy it!
Pernikahan seharusnya tidak lantas membuatmu berubah dalam segi semangat menuntut ilmu agama. Pun seharusnya tidak membuatmu mengubah penampilan syar'i menjadi trendy.
Pernikahan seharusnya semakin membawamu pada nilai-nilai agama yang pernah begitu menyala di dalam dada. Pernikahan seharusnya semakin mendekatkanmu pada Allah Yang Maha Pemurah.
Karena pernikahan adalah jalan paling kuat dalam menuju ketaatan. Karena di sana telah kau temui partner untuk bekerjasama dalam memikul segala beban yang ada. Di sana seharusnya seruan untuk kokoh di atas sunnah tersampaikan dengan berulang.
Pernikahan seharusnya tidak mengubah apa-apa pada diri kita. Tidak menjadikan kita menanggalkan kaos kaki. Tidak membuat kita lupa perihal siapa itu lelaki ajnabi? Tidak menutup mata kita perihal menjaga diri.
Karena menikah adalah bantu-membantu. Menikah adalah rangkul-merangkul. Dan menikah adalah nasihat-menasihati.
Jika pernikahan mengubah diri seseorang - dari ketaatan menuju kelalaian - maka perlu dipertanyakan. Di manakah peran seorang pasangan?
11.17 p.m || 27 Oktober 2023
Kepadamu, Lelaki Yang Entah Siapa.
Jika nanti kau baca tulisan ini, pahamilah.
Bahwa kelak mungkin aku akan menjadi sedikit posesif. Untuk kita yang tidak perlu mengumbar apa pun di sosial media kita masing-masing. Baik foto bahagia atas pernikahan kita atau sebingkai foto keluarga. Baik itu foto pribadi kita atau foto berdua.
Kupikir untuk hal yang begitu rahasia, baiknya cukuplah kita dan orang-orang sekitar saja yang menjadi saksinya. Tidak perlu lagi para tamu dunia maya turut menjadi penonton atas bahagia yang kita tampilkan dari balik layar kaca.
Tidak peduli jumlah followers kita sebanyak apa.
Rumah tangga adalah rahasia yang harus kita jaga dari banyak pasang mata. Rumah tangga bukanlah pertunjukan sirkus yang layak dijadikan bahan tontonan demi memuaskan ribuan mata. Rumah tangga adalah kehidupan paling rahasia yang harus dijaga bahkan kepada ibu-bapak kita.
Rumah tangga adalah ibadah kita kepada-Nya. Sesuatu yang harus dilakukan sembunyi-sembunyi agar tidak mengundang hasad dan dengki. Sesuatu yang harus dibangunkan padanya tembok paling tinggi agar jerat-jerat 'ain tidak menodai.
Kelak untuk urusan dunia maya, aku mungkin akan mati-matian mengingatkanmu tentang kita yang tidak perlu dipublish walau hanya sesekali. Atau mungkin tentang betapa bahagianya memiliki buah hati.
Silakan berdakwah di sana, silakan untukmu menebar risalah Rasulullah, menulis atau mungkin men-share kebaikan-kebaikan yang bisa mendatangkan hidayah pada hati siapa saja.
Namun tolong, jangan jadikan rumah tangga kita sebagai alasan untukmu berdakwah. Jangan jadikan romantisme keluarga kita sebagai alasan untukmu menampilkan apa saja yang tidak layak ditampilkan.
Karena benar, 'ain itu ada.
Dan aku tidak ingin jika dengki yang tertanam di hati para penonton kita, justru mendatangkan celaka bagi keluarga kecil kita.
Maka jika kau ingin segalanya benar-benar berjalan sesuai apa yang sudah kita ikrarkan bersama, mulailah dari sekarang. Tahan jemarimu untuk menampilkan apa pun yang tidak perlu. Tahan keinginan hatimu untuk dilihat dan disaksikan banyak orang.
Karena tampil atau tidak, semuanya tidak begitu penting, kan?
Kita pun tidak akan meraih nilai sempurna pada meja penonton akibat pertunjukan yang kita tampilkan itu, kan?
Jadi tolong, rahasiakan dirimu dari fitnah. Seperti engkau yang senantiasa berpesan pada banyak laman sosial media agar para wanita merahasiakan dirinya dari mata pria.
Karena perihal ini memang terdengar sederhana, namun dampaknya begitu luar biasa.
Sebab 'ain bisa menimpa siapa saja, termasuk benda mati yang tak bernyawa. Apalagi kita yang statusnya hanya seorang hamba.
Rahasiakan dirimu.
Bukankah hal-hal baik adalah kebiasaan yang dibentuk sejak dini?
Maka tentang kebiasaan pamer diri adalah sesuatu yang bisa diubah, juga dicegah.
Aku menyayangimu dan kupastikan aku akan menjadi wanita yang paling pencemburu saat hidup bersamamu nanti.
Karena tentang bahagia, ia adalah apa yang menjadi milik kita semata. Bukan sesuatu yang perlu disaksikan jutaan mata.
Karena tentang bahagia, ia adalah apa yang kita rasakan bersama. Bukan sesuatu yang berdasar dari penilaian manusia.
Apalagi jika semua hanya berkisar dalam bingkai sosial media.
10:47 p.m || 20 Oktober 2020
Aku tidak ingin selain dia, Tuhan. Aku tidak ingin selainnya.
Maka kumohon. Beri aku satu kesempatan untuk memeluk, menjaga, juga mengabdi padanya.
Beri aku satu kesempatan untuk menjadi bagian dari hidupnya.
Bukan! Bukan hanya sebagai seseorang yang ia kenali dari jarak terjauh. Namun juga sebagai sesosok perempuan yang mampu ia arahkan pada jalan menuju-Mu. Sebagai sosok perempuan yang mengucap aamiin dari belakang shafnya. Sebagai sosok perempuan yang menjadi peneman shalat malamnya.
Beri aku kesempatan untuk memeluknya, Tuhan. Juga menenangkan resahnya, menjadi sandaran untuknya kala ia lelah, menjadi mata pertama yang ia temui kala ia terbangun di pagi hari. Menjadi tempatnya berpulang setelah lelah mencari.
Beri aku kesempatan.
Karena sebanyak doa yang ditampung oleh langit-Mu, sebanyak itu pula perasaanku untuknya.
Aku ingin dekat, Tuhan.
Aku ingin dekat dengannya.
Aku ingin bersamanya dalam banyak keadaan.
07:43 a.m || 13 September 2020
Mau bertahan atau menyerah, itu semua pilihan.
Pilihan yang membawa kita pada konsekuensi yang harus ditanggung seorang diri.
Tapi semoga.
Dari banyaknya alasan yang tertampung di kepala perihal pilihan itu, justru tidak menggiring kita pada penyesalan.
Karena bertahan berarti siap dengan segala keadaan.
Dan menyerah berarti ikhlas melepaskan.
Keduanya memang tidak mudah.
Tapi kita dicipta bukan untuk meraba apalagi meramal tiap sesuatu yang bahkan belum terjadi.
Maka kuncinya adalah hadapi, jalani dan nikmati.
Bertahan untuk melihat seberapa panjang proses yang hendak dilalui hingga akhir.
Atau menyerah di tengah jalan tanpa pernah mengizinkan marcapada mengaminkan doa-doa kita yang belum terlahir.
Namun untuk aku yang keras kepala ini, tentu akan memintamu bertahan hingga puluhan kali. Sampai kita lupa caranya untuk menyerah pada keadaan.
Karena berlari tidak pernah ada dalam kamus pilihan.
10:44 p.m || 28 Juli 2020
Pada akhirnya yang kita butuhkan adalah orang-orang yang mau menerima kita apa adanya.
Orang-orang yang mau memupuk sabar tanpa lelah.
Orang-orang yang senantiasa mengarahkan tanpa amarah.
Orang-orang yang menunjukkan jalan tanpa pernah merasa bahwa dialah yang paling benar.
Pada akhirnya yang kita perlukan adalah sesosok manusia yang menasihati tanpa kebiasaan menggurui.
Sesosok manusia yang menunjukkan kesalahan tanpa pernah membandingkan kita dengan orang lain.
Yang berlapang dada atas kita yang (mungkin) tidak sesuai dengan ekspektasinya.
Yang memaafkan berulang kali tanpa pernah berpikir akan menyerah dan pergi.
Sebab ia paham tentang hadirnya adalah untuk melengkapi, membersamai, menjaga tanpa letih, juga menemani dalam tiap proses memperbaiki diri.
Sebab ia paham bahwa masing-masing kita kerap kali rapuh dan lupa diri.
Sebab ia paham bahwa masing-masing kita adalah manusia yang terlampau ringkih.
10:32 p.m || 10 September 2020
Kepadamu
Aku ingin melabuhkan banyak resah setelah seharian penuh berlelah-lelah.
Aku ingin bercerita tentang rentetan kisah setelah sibuk bekerja.
Aku ingin merebah pada pangkuanmu setelah dihalau banyak masalah.
Kepadamu
Aku ingin menetap selamanya.
Merayakan banyak perasaan setelah memupuk jutaan sabar yang begitu lama.
Aku ingin menatap bola matamu dengan leluasa tanpa takut dihantui dosa.
Kepadamu
Aku ingin menghabiskan sisa usia.
Kita bercerita di beranda rumah sembari mengingat tiap rasa yang sejak dahulu kala sudah bersemayam di dada kita.
Aku ingin bersandar pada pundakmu sembari menautkan lenganku pada lenganmu.
Lalu aku akan menghitung-hitung detak waktu sebelum ia membawa kita pergi pada kehidupan selepas itu.
Kepadamu
Aku ingin mengabdikan diri.
Menjadi satu-satunya wanita yang kau cintai di sepanjang hari.
Menjadi wanita pertama yang kau temui di tiap hari.
Menjadi wanita yang mengecup punggung tanganmu sebelum kau berpamitan pergi.
Menjadi wanita yang menunggu dan menyambut hadirmu kala kau kembali.
Kepadamu
Aku ingin mengabadikan puisi-puisi ini.
Menjadikannya catatan panjang yang jika di kemudian hari kau marah, aku dapat membukanya lalu kembali mengingat bahwa kaulah sesosok lelaki yang hadirnya tidak akan pernah kusesali.
Aku ingin puisi-puisi ini menjelma doa yang terpatri pada langit paling tinggi.
Doa-doa yang kemudian terwujud satu per satu seiring rasa kita yang mengharu-biru.
Kepadamu
Aku ingin lebih dari sekadar tulisan yang disusun apik bersama diksi-diksi indah.
Aku ingin lebih nyata dari sekadar puisi dan prosa.
Sebab kepadamu aku ingin menatap dan menetap.
Aku ingin memeluk lebih lekap.
Aku ingin kita genap dan lengkap.
08:53 p.m || 10 Agustus 2020