"Audisi Biskuat” Sukses Lahirkan Banyak Prosumer
Akhir-akhir ini, netizen sangat antusias dengan video audisi pencarian bakat salah satu merk biskuit “biskuat” yang menjadi viral karena kesuksesannya menghibur siapa pun yang menontonnya. Aksi innocent dari anak-anak yang berumur 7 sampai 13 tahun ini memang sangat menggelitik. Meskipun program yang berjudul “Program Biskuat Kreasi Semangat” ini sudah diselenggarakan pada pertengahan tahun 2013 yang lalu, namun sontak video-video audisi casting-nya justru baru terkenal tahun 2017 ini. Tingginya minat netizen untuk mengeksplor lebih jauh kelucuan dari audisi ini menyebabkan semakin banyaknya video-video program tersebut yang diunggah ke internet melalui berbagai media sosial seperti facebook, instagram, twitter, youtube, dan lain sebagainya.
Berikut salah satu contoh videonya:
Menyikapi hal ini, netizen berusaha untuk mengekspresikan berbagai macam emosinya terhadap video ini dengan memberikan feedback yang luar biasa kreatif. Mulai dari yang sederhana seperti meme, mereka yang tadinyahanya berstatus sebagai consumer berusaha untuk terus memperbarui konten aslinya dengan membuat konten-konten baru dari berbagai platform media. Dapat kita lihat, dari yang tadinya merupakan moving image atau video, dapat berubah menjadi still image atau gambar biasa, namun dengan nilai yang sama.
Hal ini tentu bertujuan agar konten tidak berhenti disitu saja. Seperti prinsip dalam konvergensi media yang selalu fluktuatif dan terus menerus membuat konten media dengan cara yang baru. Tidak hanya itu, banyak sekali feedback dari netizen terhadap video ini dengan berbagai bentuk seperti reaction video -- video berupa reaksi setelah menonton video tertentu, video kompilasi atau kumpulan dari video-video yang berjenis sama, dan yang terbaru berupa remix dari video audisi biskuat yang dibuat oleh composer YouTube bernama Eka Gustiwana. Contoh-contoh dari perkembangan itu semua adalah contoh-contoh yang baik dan harusnya lebih banyak dari pengguna internet yang menyalurkan nya ke hal-hal diatas.
Fenomena prosumer tersebut semakin menyadarkan kita bahwa batas antara produser dan konsumer pada era konvergensi seperti saat ini semakin blur atau tidak jelas lagi. Konsumer media pada saat ini tidak pasif lagi dalam menerima informasi, namun justru aktif dan hal ini menimbulkan pemikiran kreatif untuk memperbarui suatu konten dengan platform media lain.
Ini juga menjadi contoh positif dimana orang-orang selain menggunakan juga dapat memproduksi sesuatu, mereka menuangkan nya dengan contoh-contoh seperti diatas.
Seperti contoh lain, karena viral di media sosial, awalnya media massa yang tidak pernah memberitakan fenomena ini justru sekarang beramai-ramai memberitakan dengan bentuk yang halus (soft news). Ini juga adalah contoh bukti nyata bahwa semua hal dapat menjadi viral dan menjadi bahan untuk memproduksi sesuatu di media sosial.
Menurut Henry Jenkins, media lama memang memiliki audiens yang pasif, tidak seperti media baru seperti sekarang ini yang lebih interaktif. Konsumen yang memiliki kontrol atas konsumsi, produksi, dan distribusi media membuat konsep prosumer lahir ditengah era konvergensi.
Memang sebaiknya audiens tidaklah pasif melainkan aktif seperti sekarang ini karena memang diperlukan konsumen dan audiens yang aktif agar menimbulkan kesan positif tidak hanya melihat dan mengkonsumsi.
Henry Jenkins, Worship at the Alter of Convergence: A New Paradigm for Understanding Media Change.
Jasoncktham. Media convergence. St. Cloud State University.
Tribunnews - http://style.tribunnews.com/2017/05/18/8-anak-berikut-jadi-viral-di-internet-karena-audisi-biskuat-kocak-banget-videonya?page=all
Facebook - https://www.facebook.com/notes/biskuat/syarat-dan-ketentuan-audisi-biskuat-kreasisemangat/495361200512382/
Luki Indra Malik (1506756570)