Pop Cosmopolitanism: NSYNC Rasa Korea
Selama 200 tahun terakhir, peradaban dan budaya barat mendominasi dunia. Mulai dari Mickey Mouse hingga Beyonce, kegemaran terhadap pop culture barat sudah menjadi hal yang lumrah. Namun, pada tahun 1990-an, peradaban dan budaya timur juga mulai menunjukkan eksistensinya di ranah global. Salah satu guncangan terbesar berasal dari negeri gingseng, Korea Selatan, pada pertengahan tahun 1999. Korea mulai mencuri perhatian masyarakat dunia dengan pergerakan budaya Korea dari segi musik (K-Pop), konten audiovisual (TV drama dan film), juga gaya hidup (K-Beauty dan gadgets). Pergerakan ini disebut sebagai ‘Hallyu’, yang artinya korean culture wave.
Tentunya kalian juga pasti familiar dengan beberapa pengaruh Korea di industri hiburan. Pernah dengar drama Full House dan Stairway to Heaven? Atau pernah nonton musik video dari Super Junior dan Girls Generation? Sejak awal tahun 2000-an, konten hiburan Korea mulai menyebar dengan pesat. Pengaruh ini tidak hanya dirasakan di Asia, tetapi juga di Amerika. Beberapa musisi asal Korea pun telah memasuki tangga lagu populer Amerika, yaitu Billboard, seperti BTS, Big Bang, dan WINNER.
Sejatinya, bentuk boyband dan girlband di industri musik bukan lah hal yang eksklusif berasal dari Korean Pop. Di Amerika, beberapa grup musik seperti NSYNC, Backstreet Boys, Spice Girls, dan Destiny’s Child sudah lebih dulu populer. Yang mendefinisikan musik K-Pop bukanlah bentuk boyband atau girlband-nya, tetapi musiknya yang berbahasa Korea.
Kegemaran terhadap Korean Pop yang telah mengglobal ini dapat dikaitkan dengan konsep Pop Cosmopolitanism. Menurut Henry Jenkins (2006), Pop Cosmopolitan merupakan orang-orang yang merangkul dan menggemari media yang populer secara global yang dapat menjadi bentuk pelarian atau jalan keluar dari budaya atau media yang digemari oleh sebagian besar komunitas lokal. Bentuk kegemaran terhadap K-Pop sebenarnya tidak hanya dengan sekadar mengonsumsi kontennya saja, tetapi juga kemudian mendorong minat untuk ikut terlibat di dalam industrinya.
EXP Edition
Photo Credit: http://www.sbs.com.au/popasia/blog/2017/05/22/american-k-pop-group-exp-edition-hope-bring-new-style-k-pop
Dilansir dari laman NBC News, pada awal tahun 2015 lalu untuk pertama kalinya dalam sejarah K-Pop, terbentuk sebuah boyband bernama EXP Edition yang mengklaim diri mereka sebagai boyband Korea asal Amerika pertama. EXP Edition beranggotakan empat orang member bernama Koki Tomlinson, Frankie DaPonte, Hunter Kohl, dan Sime Kosta yang seluruhnya bukan merupakan orang Korea. Boyband ini awalnya dibentuk sebagai proyek eksperimen tiga mahasiswi Columbia University di New York, yakni Bora Kim, Karin Kuroda, dan Samantha Shao, yang ingin meneliti fenomena Korean Wave dan kesuksesan boyband K-Pop di ranah global. Tidak hanya beraktivitas di New York, boyband ini juga melakukan official debut di Korea Selatan. EXP Edition merilis single berjudul ‘Feel Like This’ yang dinyanyikan dalam bahasa Korea walaupun sebenarnya bahasa tersebut bukan bahasa utama mereka.
(Informasi selengkapnya tentang EXP Edition dapat dibaca di tautan berikut: http://www.nbcnews.com/news/asian-america/new-york-born-k-pop-band-makes-debut-south-korea-n749291)
Di industri musik Korea sendiri, penambahan anggota boyband atau girlband yang berasal dari luar Korea sebetulnya sudah menjadi taktik yang sengaja dilakukan untuk menarik perhatian masyarakat global. Namun, belum pernah ada grup K-Pop yang semua anggotanya tidak berasal dari Korea seperti EXP Edition. Kemunculan mereka tentunya menarik banyak perhatian, baik dari dalam maupun luar Korea. Respon tersebut dapat dilihat dari komenter netizen di akun YouTube EXP Edition. Pada foto di bawah ini dapat dilihat bahwa sebagian besar netizen memberikan respon negatif.
Photo Credit: youtube
Photo Credit: twitter
Dari respon-respon negatif ini, terlihat bahwa masuknya EXP Edition ke industri K-Pop masih dipandang sebagai sesuatu yang asing meskipun K-Pop itu sendiri sebetulnya sudah diakui secara global. Fakta bahwa anggota EXP Edition merupakan orang-orang yang berasal dari Barat tetapi menyanyikan lagu dalam bahasa Korea tidak bisa diterima oleh sebagian orang. Namun demikian, ada beberapa orang yang tetap mendukung EXP Edition. Bahkan, debut mereka di Korea Selatan disambut dengan baik.
Photo Credit: youtube
Photo Credit: youtube
Tebentuknya EXP Edition yang anggota-anggotanya tidak berasal dari Korea tetapi ikut memproduksi produk budaya Korea melalui K-Pop ini merupakan salah satu bentuk dari Pop Cosmopolitanism yang menunjukkan kekuatan pergerakan Hallyu dalam mempengaruhi perilaku masyarakat global. Ini juga membuktikan bahwa sekarang bukan hanya budaya Barat yang dapat mendominasi, tetapi budaya Timur juga sudah memiliki pengaruh besar di ranah global.
References:
Buchori, H.F. (2016). Korean Wave Sebagai Sarana Soft Diplomacy dan Pengaruhnya Terhadap Dunia Hiburan di Indonesia. Bandung: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pasundan
Cologne. (2013, Agustus 13). Power of culture – Hallyu, the Korean wave. Retrieved from GlobeOne: http://globe-one.com/power-of-culture-hallyu-the-korean-wave-4636/
EXP EDITION (이엑스피 에디션) - LUV/WRONG MV 뮤직비디오 TEASER 최초공개! [Video file]. (2015, November 4). Retrieved May 23, 2017, from https://www.youtube.com/watch?v=sQ19pFXAEGs
Fuchs, C. (2017, April 21). New York-Born K-Pop Band Makes Debut in South Korea Amid Criticism. Retrieved from NBC News: http://www.nbcnews.com/news/asian-america/new-york-born-k-pop-band-makes-debut-south-korea-n749291
Humanities at Stanford. (2010, December 1). Why the West Rules—For Now. Retrieved from Stanford Humanities Center: http://shc.stanford.edu/news/research/why-west-rules%E2%80%94-now
Jenkins, H. (2006). Pop Cosmopolitanism: Mapping Cultural Flows in an Age of Media Convergence. In H. Jenkins, Fans, Bloggers, and Gamers: Exploring Participatory Culture (pp. 152-172). New York: New York University Press
Show Champion EP.226 EXP EDITION - FEEL LIKE THIS [Video file]. (2017, April 26). Retrieved May 23, 2017, from https://www.youtube.com/watch?v=QonVnVwU6Pc
- UTS PTIK
Hasna Shabrinisa (1506736045), Intan Syafira G. (1506685914), Melody Herawati Sitorus (1506755561)











