“Kau pukul aku. Ku rangkul engkau. Cinta hanyalah masalah bagaimana kita membalas.”
— cerminusang

seen from France
seen from Malaysia

seen from Romania

seen from United States
seen from Germany
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from China

seen from United States
seen from United States
seen from Bangladesh

seen from United States
seen from Sweden

seen from France
seen from China
seen from United Kingdom
seen from China
seen from United Kingdom
seen from Taiwan

seen from Germany
“Kau pukul aku. Ku rangkul engkau. Cinta hanyalah masalah bagaimana kita membalas.”
— cerminusang
「スペシャルキャストがオサ(春野寿美礼)で、楽屋には、元花組の下級生が集結だったのにも感激✨
おさ、あさこ、みず、とむ、えりたん、よっち、らんちゃん♡ こんな機会は滅多に無いので、集合写真!」 [參照]
Patah hati adalah pengalaman yang aneh. Pukul 7 pagi kamu berharap bisa menunda alarm dan bersembunyi dari sinar matahari; Pukul 10 perasaanmu tidak terbendung, mungkin hari ini adalah hari dimana patah hati akan mereda; Pukul 1 siang kamu menangis di depan meja diam-diam, berharap tidak ada yang memperhatikan saat dirimu berlari ke kamar mandi karena merasa mual; Pukul 3 sore kamu merasa bisa mengelolanya; Pukul 5 sore kamu kelelahan hingga menyebabkan putaran emosi dan otakmu tidak berhasil mengendalikannya kembali; Pukul 8 malam kamu meremas bantal, melolong pada bulan, berharap kamu bisa merasakan apapun. Apapun kecuali ini.
Puan Senja Kirana
BAHAGIA?
Sudah lelah kulapangkan segenap sesak, berserak di jalanan butir-butir pilu yang lalu, kita sampai di persimpangan bab yang membahas konflik.
Kita pernah dicabik-cabik rindu pada satu malam yang sama. Sedang sua enggan mengalah barang tiga jam saja. Aku dan kau menunggu, kita adalah dua sumbu yang jauh.
Harap kupaku di ujung tiang kebahagiaan paling tinggi, menembus awan-awan mendung bukan main, menebas angan-angan manusia lain.
Kita pernah bahagia —meramu hangat dikala hujatan yang dingin menghujam, merangkul beban yang sama-sama kita pikul disetiap pukul.
Untaian kata yang kutenun rapih sebagai puisi tak pernah absen hujani malammu. Merona merah pipimu malu padahal aku jauh. Berdegub hampir meledak aku yang tersanjung atas pujian manismu.
Dan sekarang,
jangan kau cari aku yang saat itu hampir selesai mengolah pilu. Jangan kau tanya dengan ‘kemana’ dan ‘bagaimana’ karena aku lupa dengan keduanya. Jangan sekali-kali panggil aku dengan lirihmu yang kini perih. Jangan kau tunggu puisi-puisiku yang masih sering kutulis, biar di sini, membeku dengan jemariku yang mulai mengabu.
Aku mati rasa, lupa siapa itu ‘bahagia’.
— Bandung, A.
「今日は、日本青年館で上演中の『Pukul』を観てきました。 今日観劇メンバーは、元花組の方が多くて。」[參照]