Bagian terpahit dalam proses pendewasaan hidup ketika di tengah keramaian merasa sendirian. Belum lagi ditampar realita nantinya akhir cerita manusia juga berakhir dalam kesendirian.
- Jejak awan sekitar Sudirman
seen from China
seen from China
seen from United States
seen from China
seen from Japan
seen from United States

seen from Japan
seen from Argentina
seen from Uzbekistan
seen from France

seen from Yemen

seen from United States

seen from Russia

seen from Japan

seen from United States
seen from Italy

seen from United States
seen from United States

seen from Germany
seen from Czechia
Bagian terpahit dalam proses pendewasaan hidup ketika di tengah keramaian merasa sendirian. Belum lagi ditampar realita nantinya akhir cerita manusia juga berakhir dalam kesendirian.
- Jejak awan sekitar Sudirman
BAHAGIA?
Sudah lelah kulapangkan segenap sesak, berserak di jalanan butir-butir pilu yang lalu, kita sampai di persimpangan bab yang membahas konflik.
Kita pernah dicabik-cabik rindu pada satu malam yang sama. Sedang sua enggan mengalah barang tiga jam saja. Aku dan kau menunggu, kita adalah dua sumbu yang jauh.
Harap kupaku di ujung tiang kebahagiaan paling tinggi, menembus awan-awan mendung bukan main, menebas angan-angan manusia lain.
Kita pernah bahagia —meramu hangat dikala hujatan yang dingin menghujam, merangkul beban yang sama-sama kita pikul disetiap pukul.
Untaian kata yang kutenun rapih sebagai puisi tak pernah absen hujani malammu. Merona merah pipimu malu padahal aku jauh. Berdegub hampir meledak aku yang tersanjung atas pujian manismu.
Dan sekarang,
jangan kau cari aku yang saat itu hampir selesai mengolah pilu. Jangan kau tanya dengan ‘kemana’ dan ‘bagaimana’ karena aku lupa dengan keduanya. Jangan sekali-kali panggil aku dengan lirihmu yang kini perih. Jangan kau tunggu puisi-puisiku yang masih sering kutulis, biar di sini, membeku dengan jemariku yang mulai mengabu.
Aku mati rasa, lupa siapa itu ‘bahagia’.
— Bandung, A.
Dariku yang kini tengah duduk merenung seorang diri.
Aku hanya sesosok gadis yang selalu berteman sepi, bersahabat dengan luka, dan mengembara bersama angan-angan semata.
Namun, perlu diketahui. Bahwa perjalanan ini yang dapat mendewasakan diri, Menguatkan hati, hingga menjadi penghantar mimpi disaat masa menyentuh dini hari.
21/2/19
Jika semua tulisan-tulisanku ini bisa dianggap sebagai suaraku. Wahai kau yang disana, ketahuilah... Aku sedang berbisik lirih dekat telingamu
SAYAP - SAYAP PATAH BY KHALIL GIBRAN
Wahai langit Tanyakan pada-Nya Mengapa dia menciptakan sekeping hati ini... Begitu rapuh dan mudah terluka.... Saat di hadapkan dengan duri-duri cinta Begitu kuat dan kokoh Saat berselimut cinta dan asa...
Mengapa dia menciptakan rasa sayang dan rindu Di dalam hati ini... Mengisi kekosongan di dalamnya Menyisahkan kegelisahan akan sosok sang kekasih Menimbulkan segudang tanya Menghimpun berjuta asa Memberikan semangat... juga meninggalkan kepedihan yang tak terkira
Mengapa dia menciptakan kegelisahan dalam relung jiwa Menghimpit bayangan Menyesakkan dada... Tak berdaya melawan gejolak yang menerpa...
Wahai ilalang... Pernah kan kau merasakan rasa yang begitu menyiksa ini... Mengapa kau hanya diam Katakan padaku sebuah kata yang bisa merendam gejolak hati ini... Sesuatu yang dirasakan raga ini... Sebagai pengobat tuk rasa sakit yang tak terkendali
Desiran angin membuat berisik dirimu Seolah ada sesuatu yang kau ucapkan padaku Aku tak tahu apa maksudmu Hanya menduga... Bisikanmu mengatakan ada seseorang di balik bukit sana.. Menunggu dengan setia... Menghargai apa arti cinta...
Hati yang terjatuh dan terluka merobek malam Menoreh seribu duka Kukepakkan sayap-sayap patahku mengikuti hembusan angin yang berlalu Menancapkan rindu... Disudut hati yang beku... Dia retak, hancur bagai serpihan cermin Berserakan ... Sebelum hilang di terpa angin... Sambil tertunduk lemah... Ku coba kembali mengais sisa hati bercampur baur dengan debu Ingin kurengkuh...
Ku gapai kepingan di sudut hati... Hanya bayangan yang kudapat.. Ia menghilang saat mentari turun dari peraduannya Tak sanggup ku kepakkan kembali sayap ini Ia telah patah...
Tertusuk duri-duri yang tajam... Hanya bisa meratap... Meringis... Mencoba mengapai sebuah pegangan...
Lalu berubah saat memiliki nya
Lantas aku harus seperti apa
Perubahan itu wajar
Orang menulis pun tidak sama seperti bentuk sebelumnya
Apakah aku harus menjadi orang yang berbeda
Hanya untuk membuat kalian tertawa dan tak pergi begitu saja
Untuk kesekian kalinya aku membeci konteks ini
Bilamana kau merasa terganggu katakan
Biarkan aku yang meminta maaf
Lalu bilamana tak ada lagi tempat disana
Baiklah aku akan pergi
Aku hanya tak ingin seperti ini
Menjauh seperti tak saling mengenal
Menghapus kontak karena geram
Berdamailah denganku wahai isi semesta
Seperti sedia kala dimana kita berbicara sampai lupa waktu
Semua akan baik baik saja
Selagi masih dapat menghela nafas
Selagi masih ada genangan air direlung
Hingga pada saatnya
Hening itu datang memeluk erat
Membelenggu hingga ke nadi
Dan genangan air itupun lenyap
Terganti dengan jingga bercampur rona
Sadarilah semua ini memiliki makna
LIRIH
Lamunan
Indah
Riuhan
Iman
Hamba