habis ndusel-ndusel mengutarakan kuesel. habis marah-marah karena merasa disepikin pujian yang tidak pada tempat dan masanya.
lalu ketemu postingan Ust. Salim berikut.
di antara tanda bahaya; suka dipuji pada apa yang kita tak miliki dan tersinggung dikatai pada hal yang memang benar ada pada diri.
nyess sekali rasanya. merasa mendapat dukungan, merasa yang saya lakukan sudah benar. saya bilang kepadanya bahwa saya tidak suka dibegitukan. saya tidak senang karena situasinya saya melakukan kesalahan, dan pujian yang dilontarkan bukan yang sifatnya menguatkan atau mengapresiasi sisi lain ikhtiar saya, tapi yang 'terdengar menyenangkan' saja. kinda lip service, rite? bukankah rasanya justru seperti disindir dan dipermakukan?
ndak tahu, ya, tapi sepertinya iya, ini ada campur tangan hormon datang bulan juga, campur tangan kelelahan juga, campur tangan.......
sebab dalam pujian terdapat ujian. bagaimana ia tersusun dan tersampaikan, bagaimana ia kemudian ditangkap dan diterima. bagaimana ia lantas dimaknai dan diolah hati.. didaur menjadi umpan balik, apakah yang buruk atau yang baik?
basically, memberikan pujian kepada orang lain di hadapan orang yang dipuji adalah boleh. tapi, dengan syarat sebagai berikut;
pertama, pujian tidak berpotensi menimbulkan dampak negatif kepada orang yang dipuji. sekiranya pujian akan menimbulkan dampak negatif bagi orang yang dipuji disebabkan timbul rasa riya’ sehingga menghilangkan keikhlasannya dalam berbuat kebaikan.
kedua, pujian bersifat faktual, tidak boleh dilebih-lebihkan sehingga menjadi kebohongan dengan maksud tertentu.
ketiga, pujian kepada orang yang suka menyombongkan diri atau merasa kagum pada dirinya sendiri yang disebut ujub sebaiknya tidak dilakukan. puijian seperti ini bisa membuatnya semakin sambong ataupun ujub.
keempat, pujian akan memotivasi orang yang dipuji menjadi lebih baik, seperti dalam masalah ketakwaan kepada Allah, rasa percaya diri, atau dalam hal prestasi belajar.
intinya, memuji, sepanjang mendatangkan maslahat dan bukannya mudharat, adalah boleh dan sah-sah saja! jadi jaga lidahmu dan perhatikan kembali situasi, jangan asal memuji.
*pakai tanda seru karena masih marah