Ah, saya cukup sedih melihat maraknya fenomena di media sosial sekarang ini. Kenapa ya, kenapa? Kenapa bisa begini, kenapa bisa begitu? Sekali posting, ada ratusan share, ribuan komen yang entah tak henti-hentinya berlalu. Tidak cukup sehari dua hari, lebih dari seminggu pun masih terjadi ‘perang komen’. Tidak ditanggapi diburu, ditanggapi makin dipojokkan. Sepertinya ngga cukup sehari-dua hari aja ada news feed atau timeline yang cukup fenomenal. Mungkin setiap hari ada kali ya, postingan terbaru yang cukup fenomenal entah dari siapa.
Terkadang, kita seringkali ingin menunjukkan suatu kebaikan, tetapi masalahnya adalah orang lain tidak memiliki pemikiran yang sama dengan kita. Terkadang niat kita baik, tetapi masalahnya adalah kita tidak dapat mengatur persepsi orang lain tentang niat kita. Mungkin yang perlu dipertanyakan kepada diri sendiri, benarkah kita benar-benar ingin berbagi kebaikan? Adakah setitik noda yang membuat niat baik tersebut menjadi terwarnai?
Pergi ke suatu tempat bagus, post. Punya barang lucu, post. Lagi ada event menarik, post. Punya temen unik, post. Makan sesuatu yang lagi hits, post. Dikit dikit post, dikit dikit post.
Lalu (agak) tersadar waktu secara ngga sengaja ngeklik video Ust. Mufti Menk di youtube. Ngga sengaja lho, tapi berbekas buat saya. Kira-kira saya simpulkan begini:
Ketika kita ingin memberi tahu sesuatu, pasti yang kita nampakkan kebaikannya saja. Apalagi yang kita tunjukkan adalah diri kita sendiri. Pernahkah kita berbagi aib kita dengan orang lain? Saya rasa semua orang akan menghindarinya. Tapi, kebaikan-kebaikan yang terjadi di dalam hidup kita, tidak selamanya harus kita beritahukan kepada orang lain. Kita tidak bisa mencegah respon yang timbul dari mereka. Kita tidak bisa mengklarifikasi proses-proses yang kita raih, karena kita hanya menunjukkan hasilnya saja.
Saat timeline kita penuh postingan mengenai travelling, bisa jadi, orang akan beranggapan ‘ah dia mah jalan-jalan mulu’, padahal dibalik jalan-jalan itu mungkin dia harus berusaha menabung 5 tahun sebelumnya.
Saat timeline kita penuh postingan mengenai wisuda, bisa jadi, orang akan beranggapan ‘cepet banget sih lulus, perasaan dia baru dapet topik kemarin deh’, padahal mungkin dia hanya tidur dua jam sehari.
Saat timeline kita penuh postingan mengenai makanan, bisa jadi, orang akan beranggapan ‘dia makan di tempat mahal mulu ya’, padahal mungkin dia menahan uang jajan 2 minggu untuk membeli makanan yang dia pengen.
Saat timeline kita penuh postingan mengenai pakaian kita yang lucu, wajah kita yang memesona, bisa jadi, orang akan berusaha untuk bergaya sekeren kamu, lalu melupakan hal-hal lebih penting yang patut diperjuangkan.
Karena apa-apa yang kita share dalam postingan kita seakan-akan representasi dari pencapaian kita, dan tidak semua orang mudah memperjuangkan apa yang sudah kita dapatkan. Akan mudah timbul penyakit hati: iri, dengki, yang disebabkan oleh diri kita sendiri.
Ah, maafkan saya yang seolah-olah berusaha sok menasehati, padahal saya sedang bercermin dengan diri sendiri. Semoga kita sebaik-baik penjaga bagi hati kita sendiri, agar tidak ada hati lain yang ternodai.
“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pulalah seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati [jantung]”
(HR. Bukhari No. 52; Muslim No. 1599)
Bandung, 16 Ramadhan 1438 H