there are no women

seen from Malaysia
seen from Malaysia
seen from Malaysia
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Malaysia
seen from Germany
seen from United States

seen from Canada

seen from Malaysia
seen from China

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Argentina
seen from China

seen from United States
seen from China
seen from Norway
there are no women
A rainy day makes the forest bloom with fungus of all types and kinds.
Fisik Juga Menjadi Pertimbangan Sebelum Menikah
Oke, lanjut cerita yang semalam ya..
Mungkin perlu kujabarkan bagaimana menariknya laki-laki ini di mataku. Postur tubuhnya tidak begitu besar, sedang-sedang saja tapi gagah. Ia berkulit putih. Dan aku mudah sekali jatuh cinta dengan pria berkulit putih. Entah kenapa. Putih tapi manis. Hmm Pokoknya gitulah..
Ga usah dibayangin..
Yang kutahu, ia pekerja keras dan bertanggungjawab.
Dan itu yang membuatku kagum padanya-waktu itu.
Namun, setelah berhijrah dan sedang menikmati manisnya iman, aku tak pernah lagi mengingatnya. Obrolan terakhir via Messenger pun tahun 2016-kalau tidak salah. Dan sekarang, tiba-tiba ia hadir lalu mengajukan proposal untuk menjadi pendamping hidupku.
Waktu itu, pengen teriak rasanya. Campur aduk antara bahagia, syok, terharu dan ga percaya.
Hmmm...
Setelah istikharah-istikharah panjang malam itu, akhirnya aku memutuskan membuka hati untuk ia mengenalku lebih dalam. Prosesnya cukup lama. Karena kami memang belum saling mengenal sebelumnya. Hanya tau sebatas nama saja. Dan sekarang kami membahas masa depan bersama. Canggung banget rasanya. Terlebih dia orangnya dingin. Tidak akan memulai obrolan jika bukan aku yang memulai duluan. Cuek asli. Tapi itu yang bikin greget. Jadi ngerasa salah doa. Pengennya dapat suami yang cuek, pas di kasih rasanya ga kuat. Haha
Aku bukan tipe perempuan yang mau-mau saja terima Ikhwan tanpa kenal sebelumnya. Karena banyak pengalaman orang lain yang membuat aku menjadi trauma. Dan semakin berhati-hati sebelum menerima. Aku belum bisa seyakin itu untuk memercayai siapa saja yang datang sebagai sosok yang katanya shalih. Jadi aku harus kenal dulu ikhwannya siapa? Orang mana? Anaknya siapa? Asal usul keluarganya juga penting menurutku. Dan semua itu harus jelas sebelum aku memutuskan untuk menerima dia. Karena ta'aruf tidak sesederhana itu.
Aku mengambil pendapat ustadz Nuzul Dzikri bahwa komunikasi saat ta'aruf itu boleh. Selama masih bisa menjaga batasan-batasan syariat.
Dan sampai hari ini, belum ada cinta yang tumbuh di hati kami. Mungkin itu cara Allah menjaga agar tidak terjebak dalam bisikan-bisikan syaiton. Alhamdulillah.
Tapi kalau ketertarikan secara fisik, ya.. ga usah di tanya. Mungkin selain karena Agama, fisik juga menjadi bagian terpenting yang harus dipertimbangkan. Dan, sepertinya itulah alasan kenapa kami memiliki keyakinan untuk lanjut sampai hari ini.
Yakin bahwa suatu saat, cinta akan tumbuh setelah akad. Insyaallah
Memasuki Minggu ke-3 perkenalan, ada hal penting yang ingin ia jelaskan, katanya.
"kapan bisa saya hubungi ki'?" Tanyanya dengan logat khas Makassar.
Siang itu, adalah siang yang paling menyebalkan. Setelah sekian lama menutup pintu rapat-rapat untuk seorang pria, membuat aku merasa canggung memulai obrolan dengan calon pasanganku sendiri. Keringat dingin, gugup, gagu, dan bodoh. Iya, itulah yang bisa kugambarkan seperti apa suasana obrolan kami pertama kali via telepon waktu itu. Berkali-kali aku menarik napas panjang hanya untuk menenangkan diri sendiri.
Aku mendengar suaranya, lembut. Di hatiku belum ada getaran apapun. Saat itu dia yang banyak bercerita tentang dirinya, keluarganya, dan rencana kedepannya akan seperti apa. Aku hanya mendengarkan. Dan yang membuat aku kembali syok adalah ketika ia menceritakan akan tinggal di mana setelah menikah, dan berapa mahar yang bisa ia berikan. Masyaallah, seketika terharu melihat keseriusannya. Padahal aku sendiri belum memikirkan sampai kesana. Dan disitulah aku mulai yakin bahwa pilihanku ini tidak salah.
Tidak butuh waktu lama untuk kami bisa sama-sama yakin satu sama lain.
Berhubung karena jarak kami yang terlampau jauh, kami tidak bisa bertemu (nadzhor) saat itu juga. Setelah bertanya ke beberapa teman dan mendengar beberapa pendapat ustadz, maka kami memutuskan untuk saling mengirim foto terbaru untuk bisa melihat fisik satu sama lain.
Deggg....
Walau sudah bertahun-tahun lalu bertemu dia, aku masih ingat betul bagaimana rupanya yang menawan itu. Dan sudah kupastikan bahwa hari ini, ia mungkin jauh lebih gagah dari waktu pertama aku melihatnya-dulu.
Dan.
Ternyata benar.
Dugaanku tidak salah.
Setelah melihat fotonya, giliran aku yang minder.
Ya Allah, dia terlalu sempurna untuk aku yang biasa saja.
Hmmmm...
Tetapi, aku berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa jodoh tidak ditentukan oleh fisik. Tetapi Allah yang menggerakkan hati seseorang untuk cenderung kepada kita.
Malam itu, aku langsung berfoto (tanpa cadar) lalu mengirimnya. Karena memang sudah serius dengannya, untuk itu aku berani mengirimkan fotoku padanya. Cuma bisa pasrah apapun keputusannya nanti. Walaupun mungkin aku akan merasa sakit hati jika ia membatalkan untuk lanjut setelah melihat fotoku. Ya, hati perempuan pasti sakit digituin. Hmm dan gw perempuan. Sekuat apapun, ya pasti mewek juga kalau gagal ta'aruf hanya karena fisik ga mendukung.
Dan.
Alhamdulillah, doi memutuskan untuk lanjut. Itu artinya, ada ketertarikan fisik yang membuat ia ingin melanjutkan proses ini ke tahap berikutnya. Dan itu artinya, bahwa gw ga jelek-jelek amat hehe.
Bersambung ...
-Episode Perkenalan
06 Okt '19
Besok lagi ya lanjutannya ..
Sekuat apapun seorang perempuan, ia tetap akan rapuh jika hatinya sedang terluka. Sedang dikecewakan. Sedang dirobek kepercayaannya. Tidak terkecuali sosok yang menuliskan ini. Selama ini, aku terus berprasangka baik pada Allah perihal pendamping untuk masa depan. Bahwa mungkin perpisahanku dengan seseorang di waktu lalu adalah cara Allah memperbaiki diri kami sebelum disatukan kelak dalam hubungan yang halal. Dalam doa selalu kupinta yang terbaik. Istikharah kulakukan berulang kali. Hingga sampai pada titik ini, di mana Allah membongkar semuanya. Seakan ingin mengatakan padaku, bahwa laki-laki yang kutunggu, tidak pantas mendapatkan ketulusanku. __ Perempuanmu ini telah berjuang banyak hal. Yang bahkan kau pun tahu bagaimana ketaatannya dan sekuat apa imannya. Kau pun pernah berkata bahwa kau butuh sosok seperti diriku untuk dikuatkan dan ditemani dalam berjuang. Lantas, atas dasar apa kau memilih wanita lain untuk kau bawa ke pelaminan?! . Ah, benar-benar sulit dipercaya!! . _ Hari ini, aku memutuskan untuk menjadi lebih baik lagi. Aku memutuskan untuk belajar lebih banyak lagi. Agar bisa jauh melampaui sosok perempuan itu yang dengan angkuhnya kau jadikan sebagai penggantiku. ___ Ada rasa sedih yang mendalam, namun tiba-tiba Allah menguatkanku lewat sebuah kalimat dari ceramah seorang ustadz yang sedang kudengarkan. Bahwa, "bisa jadi, rasa sakit karena pengabaian, atau ditinggalkan itu adalah bentuk dari pertolongan Allah ..." __ Aku tertegun seketika. Merasa bahwa apa yang dikatakan beliau adalah benar. Mungkin ini bentuk pertolongan Allah yang kesekian kalinya. Karena bisa jadi jika aku disatukan dengannya, cintaku akan lebih besar padanya daripada ke Allah. Rasa sakit ini bentuk pertolongan Allah. Karena jika tidak begini, aku pasti akan tetap menaruh harap yang entah sampai kapan. Rupanya ini cara Allah menghindarkan aku dari kepatahatian yang lebih mendalam. ____ Teruntuk kamu, yang saat ini sedang terluka hatinya. Sedang dihancurkan perasaannya. Sedang direnggut kebahagiaannya. Bersabarlah, karena janji Allah itu pasti. Setelah kesulitan ada kemudahan. Begitupun setelah kesedihan akan ada kebahagiaan. 💓💓 . . 📝@gadisturatea #gadisturatea #Riany https://www.instagram.com/p/ByexSFjFThb/?igshid=1rhyxfrcrkq1h
(via Pertanyaan Apa Saja Sih yang Perlu Ditanyakan Ketika Ta’aruf?)
Beginikah rasanya patah hati itu? Susah tersenyum, sulit bahagia. Susah tidur dan menangis semalaman. Ah, kupikir mereka yang lebay. Nyatanya memang sakitnya teramat mendalam. Kupikir bulan Syawal akan ada kabar baik. Nyatanya, ini kabar yang lebih buruk daripada kabar kematian itu sendiri. Kabarnya, kau telah memilih perempuan lain untuk kau bawa ke rumah, dan kau perkenalkan sebagai calon istri kepada orangtua. Saat di mana aku dengan bahagianya menunggu kamu untuk pulang. Menanti dirimu di ujung senja. Nyatanya, kau pulang ke rumah yang baru; yang mungkin lebih segala-galanya daripada aku yang sederhana dan apa adanya. Lolucon macam apa ini? Serasa tidak percaya namun begitulah kenyataannya. Kedekatan yang terlihat bukan tanpa jalinan. Perempuan itu bercadar sama sepertiku. Semoga ia lebih baik daripada aku yang dulu pernah membuatmu patah begitu hebat. . Kuhapus satu per satu butiran bening di pipi. Menegakkan badan dan berusaha untuk bangkit. Tidak mengingat kenangan dan janji-janji itu lagi. Bukankah semua kisah telah usai? Bukankah seharusnya aku tak merasakan apa-apa lagi? Mengapa hati ini begitu rumit untuk di mengerti?! . Hari ini, percayaku kembali dipatahkan. Perihal penantian, memang tak ada yang tahu kedepannya seperti apa. Manusia mungkin bisa berjanji untuk sebuah pengharapan di masa depan. Namun Allah tetap pemegang kekuasaan atas segala rencana. . Aku selalu percaya bahwa segala sakit yang Allah suguhkan, semuanya baik. Allah ingin memberitahuku atas kejadian itu bahwa ia bukanlah pria yang pantas untuk dijadikan sebagai pendamping. Allah maha tahu, sedang kita tidak tahu. Bersabarlah atas semua luka. Bertahanlah atas semua duka. Allah akan menggantikan dengan kebahagiaan yang hakiki setelah kau mampu melewati semua ini. Bertahanlah sedikit lagi, sayang. _ 📝@gadisturatea #Riany #gadisturatea #muslimahberdakwah #akhwatbercadar #30haribercerita #dakwah #islam #muslimahkartun #tausiyahku_ #tausiyahcinta #patahhati #taufikaulia #goresanpena #sabar #hijrahcinta # https://www.instagram.com/p/Byb-yN8FPng/?igshid=vst066jnn4p8
Berpendidikan, atau hafidz qur'an?
Aku ingin menyampaikan keresahanku pada semesta perihal keinginan para orangtua untuk menyekolahkan anak-anaknya sampai ke jenjang pendidikan tertinggi demi sebuah gengsi. Iya, gensi.
_
Kuliah itu keren katanya. Nanti bisa kerja di kantor, dan tak perlu susah-susah lagi karena jaminan hari tua akan terus ada. Miris. Aqidah orangtua kita tergantikan dengan adanya Tuhan-Tuhan baru dalam hidup mereka. Uanglah, jabatanlah, kedudukanlah. Sekarang aku tanya, bisakah itu semua menolong di akhirat kelak? Apakah ketika di hari perhitungan nanti, ada jalur khusus untuk yang berpangkat? Atau ada jalur vip untuk yang punya jabatan tinggi?
_
Sayangnya, semua itu tidak berarti apa-apa pada kehidupan setelah kematian. Dan sangat disayangkan sebab orang-orang yang mati-matian menyekolahkan anaknya demi jaminan di hari tua adalah orang-orang yang memiliki status sosial dibawah rata-rata. Sayang sekali tidak menggantungkan semuanya kepada Pemilik alam semesta.
_
Aku termasuk salah satu yang mengikuti perkuliahan sampai D3 saja. Alhamdulillah tidak sampai beberapa tahun. Aku baru menyadari betapa banyak waktuku terbuang demi sebuah titel yang tak berarti apa-apa di mata Allah. Sisanya, hanya banyak belajar dari pengalaman hidup. Bisa saja pendidikan membawa kita ke surga. Menjadi Bidan, yang hapal qur'an misalnya. Menjadi polisi, yang hapal qur'an misalnya. Bukankah itu jauh lebih keren?
_
Tidak ada salahnya kuliah sampai 4 tahun. Jika itu semakin mendekatkan hatimu kepada Pemiliknya. Yang kutakutkan, semua itu menjadikan kau lupa diri. Seakan kau yang paling hebat karena statusmu yang sudah menjadi mahasiswi. Hingga dunia bukan lagi digenggaman, melainkan di hati. Hingga pendidikan yang tinggi tidak membuat hidupmu jauh lebih baik.
_
Betapa ruginya orangtua yang berpayah-payah dalam berjuang demi anak-yang tak bisa menjadi syafaat bagi mereka.
_
Dunia hanya sesaat. Sekejap mata bisa hilang digenggaman. Bukankah begitu yang kita lihat pada bencana akhir-akhir ini? Sayangnya tak banyak yang memahami. Bahwa hapalan al-qur'an jauh lebih penting daripada sebuah titel demi gengsi. -
*Ukuran bahagia*
Memang kebahagiaan tidak bisa diukur dari banyaknya like, bertambahnya followers, serta banyaknya pujian dari orang-orang tidak mengenal diri kita yang sebenarnya.
Betapa menderitanya jika kebahagiaan kita tergantung pada pengakuan orang lain, apalagi pada sebuah media yang di dalamnya penuh dengan kepura-puraan.
Semakin zaman kian maju dan memaksa siapa saja untuk menjadi terkenal, semakin tinggi pula pemicu tingkat depresi yang akan di alami oleh setiap orang.
Bagaimana tidak?!
Kebahagiaan yang mereka pamerkan di media sosial, membuat sebagian yang lainnya merasa iri hati bahkan dengki.
Maka, bukankah sebaiknya kita bersikap bijak dalam menggunakan sosial media?!
Menyebar kebaikan-kebaikan dengan tulisan atau barangkali membuat video-video yang lebih bermanfaat.
Bijaklah.
Dan ingat bahwa kebahagiaan tidak diukur daripengakuan orang lain di sosial media, namun kebahagiaan yang tulus sesungguhnya ada di dalam hati kita masing-masing.
Seberapa bahagianya kita saat melakukan hal-hal yang kita senangi, dan kita tidak perlu orang lain untuk mengakuinya.
Cukup katakan "Alhamdulillah, aku bahagia, Ya Allah. Terimakasih"
©Gadisturatea 5 agst '18