Izinkan Aku yang Membersamai Langkahmu
Aku mungkin tidak sempurna sebagai seorang perempuan. Fisikku biasa saja. Ibadahku masih standar. Dan keshalihanku masih di bawah rata-rata. Tetapi, aku punya setitik iman yang dengannya kupastikan kau akan selalu merasa aman dan tenang. Kau tidak akan khawatir meninggalkanku sendirian di rumah.
Aku juga tidak sebaik tulisan-tulisanku. Tidak sesempurna bait kata yang terurai dalam prosaku. Namun, satu hal yang harus kau tahu. Bahwa perempuanmu ini memiliki sabar yang luar biasa. Yang dengan itu kupastikan kau akan merasa nyaman berada di dekatku. Selamanya.
Aku mungkin memiliki banyak kekurangan-kekurangan. Namun aku selalu berdoa pada Tuhan, semoga kau tidak salah memilih perempuan; Aku. Izinkan aku membersamai langkahmu. Baik buruknya di depan sana, biar kita hadapi sama-sama. Kau tahu, aku sudah terlatih melewati kepahitan-kepahitan dalam hidup. Hingga bersamaku, kau tidak akan pernah mendengarku berkeluh.
Ketahuilah, bahwa perempuan yang akan kau nikahi ini, bukan malaikat. Sekuat apapun ia, akan selalu butuh kamu sebagai sandarannya ketika rapuh. Setangguh apapun ia, tetap butuh kamu untuk ditenangkan dalam peluk. Jadilah penyabar untukku. Untuk fase-fase labilku.
Kelak ketika Tuhan menyatukan kita dalam satu ikatan yang halal, semoga kita bisa saling membersamai dalam kebaikan-kebaikan. Saling mengingatkan untuk sebuah ketaatan. Sebagaimana niat kita dari awal; menikah semata-mata hanya untuk beribadah. Bukan karena kita sudah terlanjur cinta. Melainkan karena ingin merajut kasih dalam ikatan cinta yang Ia ridhoi.
Izinkan aku membersamai langkahmu. Apa-apamu nanti, biar aku yang urus. Segala letih dan lelahmu, biar aku bantu meringankan sedikit bebanmu. Sakitmu adalah sakitku. Dan bahagiamu, adalah bahagiaku.
Kelak, aku akan mencintai kamu melebihi semua perempuan yang pernah singgah di hatimu. Sebagaimana aku, yang pernah begitu mencintai seseorang yang lain; sebelum kamu. Aku menyesal. Dan sebagai tebusannya, akan kukerahkan seluruh cinta yang kupunya, hanya untukmu. Demi sebuah ketaatan pada Rabb-ku.
Maaf jika sebelum bersamamu, aku pernah menaruh hati pada sosok yang lain. Tetapi, aku bangga padamu. Masa lalu bukanlah hal penting yang harus ungkit-ungkit. Begitu katamu. Dan itu semakin membuatku yakin bahwa kamu adalah laki-laki terbaik yang Allah kirim. Untukku.
Terimakasih untuk semua perjuangan juga pengorbanan sampai hari ini. Aku bahkan tidak menyangka bahwa kita sudah berproses sampai sejauh ini. Yang aku herankan, mengapa setiap yang ada dalam pikiranku, selalu saja sama dengan apa yang ada dalam pikiranmu. Apa jangan-jangan kita memang berjodoh? Ah, aku tidak ingin menerka-nerka. Biarlah waktu yang menjawab semuanya.