Mahen tak habis pikir dengan segala isi kepala dari Nirmala. Semua yang berhubungan dengan gadis itu akan terasa rumit. Sesungguhnya Nirmala adalah sejatinya dewi kerumitan di muka bumi ini.
Apapun yang menjadi atensinya akan selalu ia pandang dengan segala kerumitan yang ia miliki. Jika Mahen dengan sederhananya akan duduk bersandar di batang pohon lalu memandangi gumpalan awan putih sampai senja membentang mewarnai langit dengan gradasi oranye dengan merah, maka Nirmala akan menarik semua isi langit yang menggantung di atas kepalanya agar ia tahu kapan waktu yang tepat untuk ia duduk bersandar di batang pohon yang demikian.
Tatkala Nirmala dengan segala keceriaannya membawakan cerita dengan alur yang berputar-putar, tetapi menyisakan kesan yang terdalam. Semua tutur kata yang keluar dari bibir mungilnya akan terasa bak dentingan kecapi surgawi. Semua bisa Nirmala lakukan dengan begitu rumit. Seperti lebih memilih mengambil dua simpangan lagi daripada langsung berbelok kiri hanya karena tak ingin bertemu dengan tanjakan yang sebenarnya tidak seberapa.
Namun, apakah benar hanya karena itu Nirmala menjadi sosok yang kurang? Mahen jawab tidak. Anggap saja Mahen terlalu gila untuk menyukai kerumitan Nirmala.
Ini lebih baik daripada Nirmala menjadi seorang yang sederhana. Tidak, jangan. Sederhana itu perannya.
Kini giliran Nirmala yang risih dengan semua ajaran kesederhanaan Mahen. Nirmala sangat tahu bahwa lelaki jangkung ini begitu memuja dengan apa yang disebut sederhana. Jadi lelaki itu jangan sederhana-sederhana amat, protesnya.
Mahen memang lebih memilih yang lurus-lurus saja daripada ia harus tercemplung kedalam keruwetan dunia dan segala isinya. Sederhana itu enak, pikir Mahen. Ia hanya tinggal menunggu jika memang belum waktunya, lalu ia akan bergerak jika umpan sudah diterima. Jangan terlalu dibawa pikiran.
Jikalau Nirmala akan memilih kain berkualitas dengan bahan halus, menyerap keringat, dan tidak gampang luntur, maka berbeda dengan Mahen. Lelaki itu cukup mengambil apapun yang menurutnya pantas dan yang penting bahannya adem, prinsipnya.
Persetan dengan segala kesederhanaan Mahen. Nirmala sungguh kesal. Untuk apa menjadi seorang yang sederhana jika ia bisa melakukan lebih? Manusia itu harus bisa berkembang dan berpikir kritis.
"Sederhana itu tidak melulu tentang keluguan, ketertinggalan, dan apapun itu yang kamu sebutkan. Ini jauh lebih baik sebagai cara kita memandang dunia. Oh ya, tentu juga agar hidup lebih tahan lama."
Mahen dengan senyuman yang sederhana itu menjawab semuanya.
"Satu lagi, Nir. Kalau aku enggak sederhana, aku bakal enggak jatuh cinta sama kamu. Cinta itu butuh kesederhanaan katanya. Kalau aku buat rumit nanti kamu diambil orang."
Nirmala makin yakin untuk tetap tidak suka dengan yang namanya konsep sederhana.