Nasihat Tentang Terlambat
pernah melewatkan sesuatu lalu merasa kosong? seakan ada bagian dari diri yang hilang? hilang daya, menyesal sejadi-jadinya.
lalu,
kita memutuskan untuk hanya menyimpannya karena merasa sudah tahu dunia akan berkata apa. "paling itu-itu saja, paling itu-itu lagi, seputar nggak ada kata terlambat untuk berbenah," dan seterusnya, dan seterusnya.
merasa bukan itu yang perlu kita dengar, bukan itu yang ingin kita terima. "percuma saja," bantah kita, "tidak ada membantu-membantunya."
bahkan menjadi tak yakin tentang apa yang sebenarnya kita butuhkan? apakah bahu, apakah telinga, apakah makanan enak ataukah perjalanan ke alam seperti yang biasa kita lakukan, ataukah tidur, ataukah menangis?
pernah?
atau tengah?
mari, kawan, mari saya tunjukkan nasihat yang hebat dari seorang sahabat.
qadarullah. qadarullah, kawan. apa-apa yang menimpa, ingat dan yakinlah selalu bahwa memang demikianlah ketetapan-Nya. nggak perlu kita pertanyakan, nggak perlu kita sesali.
"Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: 'Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.' Akan tetapi hendaklah kau katakan: 'Ini sudah jadi takdir Allah (Qodarullah wa maa-syaa-a fa'ala). Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.' Karena perkataan seandainya dapat membuka pintu syaitan." —HR. Muslim
qadarullah, kawan. percayalah pada ketentuan Allah. meski sesak dan kecewa tetap mampir di dada, meski porak-poranda rasanya, jaga rukun iman kita. sebab wama indallahi khayr, dan apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik.
maafkan dirimu, kawan. everything shall pass, right? insyaa Allah.













