"Seandainya aku orang kaya, aku bakal bersedekah pada mereka yang membutuhkan."
"Seandainya aku kuliah dari dulu, mungkin aku udah sukses."
"Seandainya aku hidup di zaman nabi SAW, aku akan mengikuti ajarannya. Kayanya enak juga ya, kalo ada apa-apa tinggal bertanya saja pada beliau."
Dan seandainya seandainya yang lain.
Tapi siapa yang menjamin jika kita seperti itu kita akan begitu? Tidak ada. Belum tentu saat kita jadi orang kaya kita akan banyak sedekah. Jangan-jangan malah sebaliknya, kita menjadi orang bakhil dan sombong. Lantas jika begitu dari mana kita mendapat rahmat dan bagaimana cara kita mendekat pada Allah? Belum tentu saat kita hidup di Zaman rasulullah SAW kita termasuk orang yang beriman, jangan-jangan malah sebaliknya. Kita menjadi golongan orang-orang pembangkang seperti Abu Lahab dan Abu Jahal.
Semua yang Allah takdirkan pada kita, itu yang terbaik untuk kita. Pun begitu juga dengan orang lain. Apa-apa yang mereka peroleh dalam hidupnya adalah yang terbaik untuk mereka. Semua punya bagiannya masing-masing. Keluarga, saudara, teman, harta, tempat tinggal, daerah asal, negara, zaman adalah yang Allah pilihkan untuk kita dengan sebaik-baiknya. Jadi jangan khawatir, jangan lagi katakan seandainya. Sepertinya kita lupa hadits ini.
"Bekerja giatlah pada apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah, janganlah melemah, bila sesuatu menimpamu maka janganlah kamu katakan 'andaikan aku berbuat begini, niscaya akan begini', akan tetapi katakanlah 'Allah telah menentukan dan apa yang Dia kehendaki maka Dia laksanakan. Karena kata andaikan akan membuka pekerjaan Setan. (HR. MUSLIM no. 2664).
Semoga kita bisa menjalankan tugas masing-masing dengan sebaik-baiknya. Apa pun, di mana pun, dan bagaimana pun.