Jadi "Jaros" buat Diri Sendiri
Satu hal yang sangat saya syukuri saat hidup di pondok adalah merasa selalu dijaga. Bagaimana tidak? Hampir di setiap kegiatan akan selalu ada mereka (yang kami sebut ustadz dan ustadzah) sebagai pengganti orang tua. Terkadang memang rasa risih juga kesal karena "hidup diatur-atur mulu" saya rasakan. Mau izin kegiatan harus berkali-kali bolak balik, mau pulang ke rumah harus punya alasan jelas, mau izin gak masuk kelas harus ada dulu surat persetujuan dokter. Salah sedikit ditegur, ketiduran di masjid dibangunin, ketauan ngelanggar ya di hukum. Tapi ternyata memang di sana peran utama seorang pendidik terasa kuat sekali, yakni menjadi orang tua. Orang yang punya tanggungjawab penuh untuk membimbing anak-anaknya. Dan tanpa saya sadari hal itu yang membuat rasa rindu pada pondok kembali hadir.
Pernah suatu ketika di tengah kumpul bersama bertempat di GSG (Gedung Serba Guna) saya teramat fokus memperhatikan khutbah mudir. Dan memang kebiasaan saya sejak dulu adalah selalu mencatat apapun yang dibahas oleh pembicara. Tak ada paksaan sama sekali, karena memang saya nyaman sekali dengan kebiasaan itu. Apalagi kalau sudah ada kata-kata motivasi dan sebagainya yang keluar, ah romantis. Terhitung lebih dari 10 notebook yang saya punya saat di pondok dulu. Saat kumpulan tersebut tak biasanya seorang ustadzah duduk di samping saya. Oh baru ingat saya kalau memang posisi waktu itu saya berada di barisan paling belakang (karena memang kami sebagai bagian pengajaran harus terlebih dulu merapihkan barisan anggota). Ustadzah memang sering seperti itu untuk mengawasi kami dari baris paling belakang. Yang berbeda adalah, saat saya sibuk mencatat apapun yang mudir ucapkan, ada suatu kalimat dalam bahasa Arab atau Inggris (saya lupa) yang saya tulis dengan format sedikit keliru. Seketika sang ustadzah meminjam pulpen saya. Awalnya saya kaget dan takut sekali, "apa saya berbuat salah?", "kerudung saya rapih kan?", "udah potong kuku kan", "dari tadi juga gak ngobrol ah" mulai pucat pasi muka ini (ustadzah tersebut memang terkenal sebagai ustadzah yang punya integritas tinggi, disiplin kuat, tak ragu menegur barang sedetik jika dilihatnya ada sedikit kesalahan, wajar hampir semua santri sangat canggung dan khidmat pada beliau). Ternyata, ustadzah tersebut tidak mengoreksi apapun dari penampilan atau perilaku saya, melainkan membenarkan sedikit tulisan saya yang keliru saat itu.
Luar biasa bahagianya kawan. Ntah kenapa senang sekali bisa di koreksi langsung oleh beliau. Terbayang jika kesalahan itu terlampau jauh dan lama, bisa saja dia lahirkan kesalahan-kesalahan selanjutnya, yang berkumpul jadi gunung ketidakbermanfaatan.
Nah, setelah kehidupan di pondok berakhir, kehidupan dunia bebas memang penuh tantangan. Apalagi bagi mereka yang memilih kembali jauh dengan keluarga, pergi merantau dalam pencarian ilmu. Ada di waktu dimana diri sendiri juga yang harus sadar bahwa peran sudah bertambah menjadi "pengingat bagi diri sendiri". Tak ada lagi bel (kami menyebutnya jaros) yang ingatkan waktu makan, belajar, bahkan sholat. Tak ada lagi teriakan-teriakan bersama "tin-tin" klakson motor asatidz yang keliling asrama. Tak ada lagi hukuman-hukuman aneh seperti dijemur pinggir jalan sembari membawa papan, diwajibkan menghafal 100 kosa kata dalam sehari gara-gara masuk mahkamah (mirip2 sidang peradilan kecil-kecilan lah) bahasa, dipanggil ke depan mushola karena baju jemuran gak diangkat :(.
Bagi kami yang kini harus bisa menjadi tangguh di dunia luar, kami harus juga sadar. Menjadi jaros, klakson, dan mahkamah bagi diri sendiri adalah sebuah kewajiban. Karena tak bisa selamanya kebaikan bagi kita bersandar pada orang lain terus menerus. Walau memang sudah pasti selalu diperlukan bimbingan dari mereka yang lebih berpengalaman untuk kita yang mau melangkah di jalan yang baru. Karena pada akhirnya saya pribadi menyadari,
Satu hal yang bisa membantu seorang manusia untuk bisa mengendalikan dirinya sendiri adalah kesadaran. Sadar bahwa dia punya tanggungjawab pada Tuhan juga lingkungannya, sadar jika hidupnya hanya sebuah perjalanan singkat menuju petualangan panjang kelak.
Akhirnya satu lagi pelajaran penting yang secara tidak langsung telah pondok ajarkan adalah Self Management. Karena selama kita hiduplah segala keputusan harus di ambil juga dijalankan dengan berbagai tanggungjawabnya.
Masih banyak sebenarnya pelajaran-pelajaran hebat tak tertulis dalam lembaran kurikulum ala pesanan modern tercinta. Akan dibagi lagi di lain waktu ya kawan! Karena besok sudah masuk One Daily Post hari ke 11, itu berarti ada tema baru sedang menunggu dieksekusi.
Selamat menyambut bulan suci, mohon maaf lahir dan batin :)
@fadhila-trifani @gugunm @mathmythic @adhit21 @sekotenggg