Perubahan itu Teknis, bukan Nilai.
Saya selalu terbayang perkataan seorang teman saat dulu memimpin organisasi ekstra muslim di kampus, “Sudah, duduknya hadap-hadapan saja, kolot banget lu jal, kapan berkembangnya”.
Sejenak saya merenunginya, apakah iya, kalau selama ini, budaya-budaya ~penjagaan~ ini adalah faktor terhambatnya produktifitas atau berkembangnya organisasi saya. Lama sekali hal dilematis ini saya renungi, bahkan tidak jarang, saya banyak mengamininya, dengan sedikit-sedikit saya kesampingkan budaya ~penjagaan~ itu.
Tetapi, akhir-akhir ini saya mulai menemukan jawabannya, tidak lain ketika saya melihat teman-teman komunitas hijrah underbow HTI. Saya pernah mengunjungi dan beberapa kali mengikuti acaranya, dan mereka benar-benar menekankan nilai penjagaan, bahkan tidak jarang lebih ketat dari organisasi ekstra saya.
Disitu saya melihat, bagaimana sangat progresif sekali komunitas yang mereka jalankan. Follower instagram yang sampai puluhan ribu, kegiatan-kegiatan yang berbayar tetapi tetap ramai, ustadz-ustadz besar hadir, content creator yang masih fresh banget menandakan bahwa mereka berjalan sejauh itu, TETAPI TETAP MEMATUHI NILAI PENJAGAAN MEREKA SENDIRI.
Akhirnya saya yakin, bahwa perubahan dan perkembangan itu bukan bicara tentang nilai, tetapi bicara teknis. Caralah yang harus kita ubah dan evaluasi, menuju cara-cara yang relevan dan kontemporer, bukan justru nilai yang kita ubah dengan alasan kemajuan. Karena tak jarang, dengan alasan perubahan, kita melanggar nilai dan membenarkan kesalahan.
terakhir, mumpung lagi milad HMI, saya mengutip perkataan dari Cak Nur:
Modernisasi adalah rasionalisasi bukan westernalisasi
Selamat merenungkan kawan!