Ekspetasi gua turunin, tapi usaha gua naikin. Biar realita yang bertindak adil diantara keduanya.
TVSTRANGERTHINGS
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
d e v o n
Stranger Things

❣ Chile in a Photography ❣
Jules of Nature

Discoholic 🪩
Sade Olutola

if i look back, i am lost
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
One Nice Bug Per Day
No title available

ellievsbear

★
occasionally subtle
Sweet Seals For You, Always
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
hello vonnie
i don't do bad sauce passes
ojovivo
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye
seen from Norway

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Brazil
seen from United Kingdom
seen from Brazil
seen from Türkiye

seen from United States
seen from Türkiye

seen from United States

seen from United States

seen from Greece
seen from United States
seen from United States

seen from United States
@fikrigozali
Ekspetasi gua turunin, tapi usaha gua naikin. Biar realita yang bertindak adil diantara keduanya.
Konsep three-year rule
Monggo lur di baca, membahas terkait kenapa kita gampang menyerah dalam berencana. Ternyata jawabannya bukan karena kesalaha teknit, tapi karena kesalahan berekspetasi.
https://pemimpin.id/cara-berkomitmen-dengan-rencana-dan-tidak-menyerah-dengan-realitas-menurut-three-year-rule/ Tulisan baru di pemimpin.id. Baru saja kemarin merasa agak lelah ngurus komunitas dan organisasi non profit, eh langsung dikasih jawaban sama teori three-year rule.
Leader itu Insting.
Leader itu insting bukan jabatan.
Materi yang diberikan oleh Pak Heru sedikit membuat saya memahami makna kepemimpinan secara teoritis. Bahwa pemimpin atau leader itu komponen terbesarnya adalah gerakan, bahwa proses, karakteristik, kapasitas dan berbagai unsur kepemimpinan lainya hanya mengarah ke satu tujuan, yaitu timbul dan berlangsungnya gerakan.
Maka, dikatakannya seseorang menjadi leader atau pemimpin bukanlah berdasarkan jabatan atau legitimasi kekuasaan, tetapi tentang kemampuannya merencanakan dan membuat sebuah gerakan.
Berdasarkan pengalaman, biasanya seorang yang punya jabatan tetapi tidak mampu menggerakan, gerak gerik kepemimpinannya banyak ditutupi dengan branding dan pencitraan. Kesadaran tidak mampu menggerakkan, membuat harus dilakukannya pencitraan agar legitimasi kekuasaan bisa tetap terjaga.
Sehingga banyak di luar sana, orang yang punya jabatan belum tentu menjadi seorang leader karena tidak ada gerakan yang dihasilkan. Dan banyak juga di luar sana, yang tidak punya jabatan tetapi mampu menjadi leader karena mampu menggerakan.
Karena yang dibanggakan bukanlah jabatan yang kita pegang, tetapi tentang gerakan yang kita hasilkan. Selamat dan semangat menjadi seorang pemimpin!
Terjebak dengan kata nanti
Akhirnya.
Ketika perpisahan terjadi dan kita pergi ke arah masing-masing. Tolong hanya ambil yang baik-baik dariku, dan ku usahakan untuk selalu mengambil baik-baik dari dirimu.
Usaha mempertahankan kebaikan yang dulu kita pernah saling mengingatkan itulah yang menentukan pertemuan kita di persimpangan selanjutnya, apakah berjalan bersama atau akhirnya berpisah selamanya.
the best return for one year is to grow grains, the best return for ten years is to grow trees, the best return for a lifetime is to educate people-
Guan Zhong
Tentang Ide.
“Kalau anda punya ide, anda yang ekskusi ide tersebut, karena orang lain tidak akan sebaik anda dalam mengeksekusinya”
Saya sepakat dengan pernyataan di atas, karena konsekuensi dari berani membuat ide atau inovasi adalah harus siap untuk turun langsung mengeksekusinya dan paling capek dalam merealisasikannya.
Karena kesalahan pertama dalam membuat ide, adalah kita bergantung kepada orang lain untuk bisa merealisasikannya, sehingga ketika orang lain tidak sesuai maka lahirlah rasa kecewa. Dan kecewa ini berbuntut panjang, kita menjadi tidak semangat dalam merealisasikannya lagi dan lahirlah rasa saling menyalahkan.
Pemimpin yang berhasil dalam sebuah ide adalah orang yang berhasil menggerakan orang lain untuk akhirnya puas dan kagum dengan ide tersebut. Menggerakan untuk menjalankan ide tersebut, haruslah konsekuensi pertama dari pembuat ide untuk bergerak dan merealisasikannya.
Kalau perspektif itu sudah kita terapkan di awal, setidaknya kita bisa menghilangkan kecewa kepada orang lain dalam merealisasikan sebuah ide. Selamat membuat ide!
Kita semua pendosa, bedanya kasih sayang Allah yang membuat aib kita tertutupi
Ganti Cara.
Akhir-akhir ini, saya sangat termotivasi dengan kalimat “kita tidak bisa berharap hasil yang berbeda dengan cara yang sama”.
Ketika diberi kesempatan untuk memegang amanah, yang di otak saya langsung terlintas kita harus ganti cara. Ya sebenarnya gak bisa dipastikan juga, kalau cara yang saya pakai adalah cara yang terbaik. Tetapi setidaknya saya yakin, cara berbeda ini akan memberikan hasil yang berbeda, karena mempertahankan cara yang sama hanya akan membuat hasil yang sama.
Kalau hasilnya bagus, berarti cara ini bisa diterapkan ke depannya atau lebih dimaksimalkan lagi. Kalau hasilnya kurang, kita evaluasi dan segera ganti cara lain, karena bagi saya sekarang, stag/mandeg di tempat adalah kegagalan.
Karena lagi lagi, sedikit lebih beda, itu lebih baik dari pada sedikit lebih baik.
Kalau dari kalian bagaimana, mempertahankan cara yang sama dengan memaksimalkannya atau mencoba tantangan dengan cara yang berbeda?
Sudah hari ke 3, spotify muter lagu virgoun terus, gak tahu kenapa tiba-tiba jadi terasa dalam setiap lirik lagunya.
Cuma mau kasih tahu, lagu dengan paling banyak didengar di youtube adalah “Surat Cinta Untuk Starla”, lagu yang bukan tentang cinta kepada kekasih, tapi lagu cinta seorang ayah kepada anaknya.
Bukti mahalnya lirik tentang cinta sejati.
Perubahan itu Teknis, bukan Nilai.
Saya selalu terbayang perkataan seorang teman saat dulu memimpin organisasi ekstra muslim di kampus, “Sudah, duduknya hadap-hadapan saja, kolot banget lu jal, kapan berkembangnya”.
Sejenak saya merenunginya, apakah iya, kalau selama ini, budaya-budaya ~penjagaan~ ini adalah faktor terhambatnya produktifitas atau berkembangnya organisasi saya. Lama sekali hal dilematis ini saya renungi, bahkan tidak jarang, saya banyak mengamininya, dengan sedikit-sedikit saya kesampingkan budaya ~penjagaan~ itu.
Tetapi, akhir-akhir ini saya mulai menemukan jawabannya, tidak lain ketika saya melihat teman-teman komunitas hijrah underbow HTI. Saya pernah mengunjungi dan beberapa kali mengikuti acaranya, dan mereka benar-benar menekankan nilai penjagaan, bahkan tidak jarang lebih ketat dari organisasi ekstra saya.
Disitu saya melihat, bagaimana sangat progresif sekali komunitas yang mereka jalankan. Follower instagram yang sampai puluhan ribu, kegiatan-kegiatan yang berbayar tetapi tetap ramai, ustadz-ustadz besar hadir, content creator yang masih fresh banget menandakan bahwa mereka berjalan sejauh itu, TETAPI TETAP MEMATUHI NILAI PENJAGAAN MEREKA SENDIRI.
Akhirnya saya yakin, bahwa perubahan dan perkembangan itu bukan bicara tentang nilai, tetapi bicara teknis. Caralah yang harus kita ubah dan evaluasi, menuju cara-cara yang relevan dan kontemporer, bukan justru nilai yang kita ubah dengan alasan kemajuan. Karena tak jarang, dengan alasan perubahan, kita melanggar nilai dan membenarkan kesalahan.
terakhir, mumpung lagi milad HMI, saya mengutip perkataan dari Cak Nur:
Modernisasi adalah rasionalisasi bukan westernalisasi
Selamat merenungkan kawan!
Masa pandemi ini sangat susah, bayangkan saja perusahaan sebesar mitsubishi dan toyota sampai jual mobil mereka untuk bayar gaji karyawan
Jokes bapak-bapak facebook
Belajar mendengar.
Salah aspek atau skill penting dalam bersosialisasi adalah active listening, not only hearing. Dimana kita berusaha mendengar bukan hanya sekedar untuk mendengar , tetapi mendengar untuk memahami. Sehingga pada intinya adalah menjadi pendengar yang baik.
Jujur, saya adalah orang yang sangat susah sekali mendengar, secara artian saya gak bisa dengan waktu lama mendengar orang ngomong atau sekeder curhat. Saya adalah orang yang inginnya langsung to the point, tanpa basa basi. Tetapi, saya tahu, kalau itu adalah sesuatu yang buruk dan harus saya ubah.
Tahun ini mungkin menjadi jawabannya, menjadi kakak atau senior, membuat saya harus bisa lebih menguatkan telinga saya ketimbang mulut saya. Harus belajar lebih banyak untuk mendengar dari pada memberi pandangan.
Dan kondisi tahun ini, saya dihadapkan dengan penerus yang hampir semuanya adalah perempuan, saya benar-benar dilatih untuk sabar dan banyak mendengarkan. Bahkan bisa dikatakan, waktu saya mendengar bisa hampir 90% dari waktu percakapan. Awalnya saya jengkel dan capek mendengarkan mereka, tetapi setelah saya pikir-pikir, ini bisa menjadi ajang saya melatih untuk bisa active listening, not only hearing.
Dalam setiap fenomena, kita dituntut untuk bisa mengambil hikmah dalam setiap pembelajaran. Dan sekarang, di tengah melanjutkan estafet kepemimpinan dan menjadi “abang” bagi adek-adek, adalah ajang saya untuk melatih menjadi pendengar yang baik dikemudian hari. Maka, Terima kasih adek-adek hehe
ada yang merasa sama seperti saya dan merasa susah dalam mendengarkan?
Estafet Kepemimpinan
Ada metode yang pernah saya baca dalam membentuk kepemimpinan, yaitu menggunakan metode 10/20/70.
Sistem ini membagi waktu dan usaha yang kita berikan untuk pemimpin selanjutnya. Dengan 10% memberikan pengetahuan dasar, 20% dengan memberikan mentoring atau pendampingan, dan terakhir 70% adalah memberikan kesempatan untuk mencoba.
Tadi malam saya banyak diskusi dan mendengar keluhan dari adik tingkat yang melanjutkan perjuangan di fakultas. Cerita tentang rekan kerjanya, merasa capek, merasa tidak di bersamai dan lain-lain.
Dari diskusi tersebut, saya merenung, Kenapa kita hanya perlu 30% saja untuk memberikan pengetahuan dan pendampingan. Ternyata, pengetahuan yang kita berikan belum tentu relevan dengan apa yang mereka rasakan, pendampingan dengan segala cerita masa lalu kita, belum tentu cocok dengan cara kerja mereka.
Sehingga, menurut saya memberikan 70% kesempatan mereka mencoba adalah sarana pemberian kesempatan kepada mereka untuk mencoba teori yang kita gunakan, apakah cocok dengan mereka. Melihat kesalahan di lapangan, dan mencoba cari solusi yang terbaik dan cocok untuk mereka sendiri. Karena berjalannya mereka menjadi pemimpin, adalah tanggung jawab mereka sendiri dan mereka sendiri yang merasakan.
Kita sebagai mentor, hanya bisa memberikan bayangan, karena berjalan dan bergeraknya mereka, adalah keputusan mereka sendiri. Membiarkan mereka dalam bayang-bayang pengalaman dan teori kita hanya menyebabkan mereka berada dalam ketergantungan dan bisa lemah jika pada suatu hari kita tidak bisa membersamai.
Pada akhirnya, membiarkan dan memberikan kesempatan untuk bergerak dan mengambil keputusan sendiri adalah wujud pembinaan terbesar kita untuk membentuk kepemimpinan selanjutnya.
Jadi, apakah ada cara lain yang kalian gunakan untuk membentuk kepemimpinan selanjutnya? atau kalian punya pengalaman berbeda?
Ternyata membiarkan luka kecil terlalu lama bisa berbahaya, kalau tidak berhasil kita sembuhkan, dia bisa menjadi luka yang lebih besar
Kita terlalu banyak melanggar budaya dengan alasan inovasi, padahal kreativitas itu bicara tentang teknik, bukan nilai