Barangkali telinganya lelah dengan aksara~


#batman#dc comics#dc#bruce wayne#tim drake#batfam#batfamily#dick grayson#dc fanart

seen from Ecuador
seen from China
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Tunisia
seen from Brazil
seen from United States
seen from Russia
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from Yemen
seen from Singapore
seen from Canada
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from China
Barangkali telinganya lelah dengan aksara~
Hari ini diawali dengan hujan yang turun cukup deras.
Hujan.
Di bulan Mei.
Ini tidak sesuai dengan fakta yang diajarkan pada zaman sekolah dulu. Tentu saja karena pemanasan global, perubahan iklim, cuaca tidak bisa diprediksi lagi.
Aku jadi penasaran bagaimana pembagian musim diajarkan di sekolah sekarang. Mungkin begini:
"Indonesia merupakan negara dengan dua musim: kemarau dan penghujan. Kapan periode musim itu berlangsung? Kapan saja, suka-suka alam ini lah kapan mau mengirimkan badai, kapan mau mengeringkan sungai."
Aku lagi ngerasa kayak browser yang penuh cache. Udah lemot, loadingnya lama, dan sering error. 😓
Cuaca di takalar kota begitu panas, pengennya minum yang seger-seger. 🍧🍨🍦🤤
Kaki ini perlahan-lahan melampaui dunia yang tak tau dimana batasnya; menjumpai banyak manusia dengan begitu menyenangkan – sampai badan ini terasa berat saat merebahkanya di dalam bayangan. Puisi yang tercipta di kala musim hujan bulan Desember itu, masih mengisahkan perpisahan yang memilukan kedua rongga dada yang terhimpit atas kedurjanaan yang memilukan. Kali ini, aku ingin melupakanmu lagi – tapi, lagi-lagi, aku tidak ingat bagaimana caranya untuk lupa. Biarkan rasa ini tertahan dengan luka yang ternganga begitu lebar.
Surat Dari Niskala, yang tak akan pernah tersampaikan.
KACAU
Lama tak bersimbah gurau
sedikit tersinggung meracau
inginnya kubuat pulau
tak ada siapa, hanya beberapa bangau
agar tak ada yang halau.
Namun ada juga engkau
yang binar ranumnya menyilau
yang lekuk tubuhnya memukau
lambai tangan tak dihirau
habis suara sampai parau
tak sedikitpun kau berkicau.
Aku semakin kemarau
berdoa suntuk di surau
minta kau mau dihimbau
karena kini aku sakau
sendiri tak berarti bagai tungau.
— Bandung, A.
Kita pernah menjadi larik-larik patah yang dihempas musim kemarau. Kemudian hujan menumbuhkan tunas-tunas baru. Mari, tumbuh bersamaku.
Aku harap kemarau sedang tak berada di kotamu bulan ini dan bersiap-siaplah wahai wanita yang sedang duduk manis disana. Hujan kali ini akan banyak mengandung rindu. Yang tak sempat kusampaikan lewat kata melankolis. Biar semilir angin dingin setelahnya menjadi penambah rasa rindu ini.
Tanah itu tandus kekeringan, kasihan. Debu itu berseliweran mengikuti arah angin berhembus. Ah! Dinding langit mungkin sedang tebal dan kokoh, hingga air hujan pun tak sanggup menembusnya.