
seen from China

seen from Germany

seen from Brazil
seen from United States
seen from China

seen from Türkiye
seen from Norway
seen from United States
seen from Brazil
seen from United States

seen from Brazil
seen from United Kingdom

seen from Türkiye
seen from China
seen from United States

seen from Romania
seen from Germany

seen from Brazil
seen from Brazil
seen from United States
Gelas Kaca
Sepagi ini aku seperti membawa gelas kaca di kedua bilah mataku, kutenteng-tenteng dari jalan pergi, sampai ke tujuan, hingga kembali pulang. Tak urung, gelas itu pecah di perjalanan ke rumah, untung hanya bagian atasnya saja. Untung pula, sempat kulebarkan ikatan penutup hidung supaya pecahannya bisa lolos ke tanah walau pada akhirnya menempel juga pada penutup hidungku itu. Yang pecah hanya bagian atas, tapi yang sakit sepertinya sekujur tubuhku.
Aku pulang, masuk ke rumah dengan langkah lemas sebab pengait alas kakiku terus-terusan lepas. Ah, sandal murah ini. Wajarlah bila ia antara niat-tak niat hidup seperti itu. Aku pulang menyapa ibu yang sibuk merajut masa depannya dengan benang wol merah. Sayang sekali benang itu acak-acakan. Aku memperhatikan lebih dekat. Meski acak-acakan, ternyata benang rajut yang ibu pakai haluuus sekali, sehalus hitam rambutnya dulu. Dulu karena sekarang sudah lebih banyak putih yang mewarnai mahkota ibuku. Jangan salah, ibuku tetap cantik, kok. Cantiknya ibuku lestari, namun sedikit sekali yang mau menyadari.
Hari masih pagi. Aku baru saja hendak bercerita bagaimana gelas kacaku tadi pecah saat kutatap mata ibuku. Wah, rupanya mata ibu punya gelas kaca juga. Ketika kutilik dalam-dalam, gelas kaca yang ibu punya jauh lebih tebal. Ibu tidak perlu mengaku agar aku tahu gelas itu jenis yang tahan banting, tidak pecah tanpa tulisan fragile tertempel pada pembungkusnya. Ibu tidak perlu bilang padaku agar aku tahu dari maniknya yang tetap tembus itu, bahwa gelas kaca yang ibuku punya keluaran lama, menjadi berharga sebab tidak pernah tersentuh manusia.
Sepagi ini, aku memutuskan untuk tetap bercerita pada ibu. Perihal gelas kacaku yang pecah tadi kala aku jalan kaki. Ibu hanya tersenyum, lantas memelukku. Ibu tidak bilang apa-apa, selain “Ayo bantu ibu merajut.”
Ditulis di Bandung, 30 Mei 2023, ketika sedih tengah mampir bertamu.
Serangga
Entah kemarin atau beberapa hari lalu. Ada serangga masuk ke dalam kamarku. Dengan niat baik, meski takut, kubantu serangga itu keluar. Sudah beberapa kali dia mencoba, tapi tidak kunjung ketemu jalan keluarnya. Sampai dia memilih diam, menunggu, dan menempel di gorden kamarku.
Akhirnya, kubuka jendela agar dia bisa terbang kembali ke alam bebas. Jendelaku terbuka bagian bawahnya, sedangkan bagian atasnya adalah engsel jendela. Takut-takut aku buka jendela lebih lebar, biar serangga itu mudah terbang, dan menemukan jalan keluar.
Serangga itu keras kepala sekali. Konsisten terbang ke bagian atas jendela yang tidak bercelah. Berkali-kali menubruk kaca yang bening. Ingin rasanya kutangkap, lalu kulepas, tapi aku memilih diam saja. Setengah karena takut, setengah lagi karena ingin memperhatikan.
Kucoba membuka jendela lebih lebar lagi, tapi bagian engsel malah semakin tertutup rapat. Beberapa kali serangga itu sudah hampir ke tepi jendela, tapi kembali ke tengah dan berusaha sekuat tenaga menghantam kaca.
"Memang kaca itu bening, menampilkan hamparan pohon dan kebun yang luas, tapi kalau kamu terus terbang di situ, kamu tidak akan bebas," kataku bicara sendirian. Aku tahu serangga itu tidak akan paham maksud ucapanku. Terbukti dengan responnya yang malah terbang semakin keras melawan kaca yang bukan tandingannya.
"Cobalah sesekali ke bawah atau cari jalan lain yang mungkin saja bekerja. Ada kalanya kita perlu keterampilan, bukan sekadar kekuatan," tambahku lagi sambil tetap diam memperhatikan.
Aku menunggu hingga beberapa detik kemudian. Tepat ketika aku mulai tidak peduli dan berniat menutup kembali jendela kamar, serangga itu benar-benar melakukannya. Dia terbang rendah ke bawah, mengikuti panggilan angin, dan akhirnya kembali lepas ke alam bebas.
Aku pun menutup jendela sambil masih terdiam karena merenungkan andai aku-lah serangga itu.
ka.ca (n)
2018 // 2016
improvement!!!
Ada yang meretakkan kaca hati ini. Sudah. Biar serpihannya ku punguti. Agar pelakunya tak terluka.
bunny n orca !!