Nokturnal 30 (Pulang)
Lelaki tua di ujung peron itu langkahnya tertatih-tatih: di ujung tangannya tergantung TV kecil yang dibungkus kardus dan tali rafia. Tak banyak yang ia bawa pulang ke rumahnya di kampung selain TV kecil itu, kecuali sebungkus rindu.
Malam-malam sebelumnya, rindu itu ia bungkus sedemikian rupa ––sangat rapi, tak lupa ia ikat dengan doa agar bisa dibawa-bawa ke manapun ia pergi. Ikatannya sederhana, tak banyak simpul, yang penting erat dan melindungi. Setiba di kampung, hujan turun. Dijelangnya hujan yang perlahan memeluknya hingga sampai ke rumah. Ramai orang berdoa. Rindunya tumpah. pulang seutuhnya.
Jakarta, 2017-2018







