Keselamatan dalam Kematian
Aku adalah dunia yang gelap gulita, terlahir di dalamnya dengan belenggu dosa yang membebani hari, batin dan diri. Aku telah mati ditelan oleh bumi yang kejam ini. Berharap hari menjemput pagi demi keselamatan hidupku yang sudah tiada berharga lagi, tetapi aku selalu menanti keselamatan untuk yang kesekian kali.
Bagaimana mungkin seorang pendosa seperti diriku berbicara tentang keselamatan ?
Terlahir dan hidup dalam gelap, aku tak pernah mengenal kebaikan, semua cawan dan amuk telah kuminum dan kunikmati; kejamnya kematian jiwa.
Aku telah patah, jiwaku telah hanyut terseret arus; terpengaruh iblis yang haus akan semua dosa, saksi kengerian dosa dan kengerian diri sendiri. Terlalu hina dan najis bagi kaum manusia biasa, tetapi aku tetap tak bisa melupakan bagaimana kematian merenggutku dalam gelap; memakan habis jiwa, merasuk pikiran dan hati. Telah tiada yang murni dari diri. Semuanya adalah cemar.
Aku hanya berharap akan datang Salvator Mundi bagi diri yang hancur ini sebagaimana aku merindukan keselamatan lagi. Apakah masih ada kesempatan untuk tidak mengulangi kebejatan ini?
Aku telah dihakimi oleh rasa bersalahku sendiri. Telah habis ditelanjangi tanpa harapan dihadapan alam, tetapi keselamatan untuk kesekian kalinya bukanlah hal yang baru dilalui.
Aku selalu berharap dan meminta agar diluputkan dari mati untuk yang kesekian kalinya.















