Sesuai namanya, dramaturgi, kita akan membahas tentang DRAMA. Mungkin untuk anak teater ataupun anak film istilah dramaturgi sudah akrab di telinga mereka. Tapi kali ini, aku mau ngebahas dramaturgi dalam prespektif sosiologi.
Aku gak akan ngebahas teori sosial ini secara njlimet. Aku bakal ngomongin teori milik Erfing Goffman ini sesuai apa yang kita temui dalam keseharian kita.
Kunci dari dramaturgi ini yaitu front stage atau front line dan back stage atau back line.
Kehidupan ini bisa diibaratkan seperti panggung sandiwara yang besar, yang menempatkan kita sebagai tokoh utama, dan dikelilingi banyak penonton di sekitar kita.
Kita membangun dan menyeting setiap sudut-sudut panggung kita sesuai yang kita kehendaki. Citra, tampilan, dan image, sangat penting di sini.
Misal, kamu mempunyai beberapa “sudut kehidupan” di keseharianmu. Di A, B, C, dan atau D. Di A, kamu membangun image sebagai seorang karyawan, yang rajin, disiplin, tegas dan irit bicara. Di B, kamu membangun image sebagai seniman yang supel, openminded, dan tidak anti kritik. Di C, image yang dibangun olehmu adalah seorang anggota komunitas yg humoris dan tidak mudah tersinggung. Sedangkan di D, image-mu adalah seorang anak yang manja. Inilah sudut-sudut front stage yang dibangun olehmu.
Bagi teman-temanmu di A, sudut-sudut B, C, dan D adalah back stage-mu. Begitu pula sebaliknya. Jika kamu berhasil menjaga sudut itu kamu adalah aktor yang hebat.
Bukan bermuka dua, tapi hanya dramaturgi.
Semua orang punya kehidupan dan permasalah yang kompleks. Mereka punya hak untuk menentukan sudut mereka berbentuk seperti apa di depanmu.
Terima saja front stage yang dibangun untuk kita. Walaupun kita tau back stage mereka, diamlah, hargailah, karena kita memang seharusnya bersikap cukup tau saja. Tunggu saja, apa kita akan menjadi bagian di A, B C, D, atau tetap di A.
Aku adalah apa yang kau lihat. Selebihnya, hmm.. itu bukan aku.