KALUS
Mereka bilang, temukan keindahan dalam hal-hal kecil. Jatuh cintalah pada aroma hujan, pada kehangatan secangkir teh, pada baris-baris kalimat dalam sebuah buku. Sebuah nasihat yang terdengar begitu mudah, begitu ringan.
Aku mencoba. Sungguh. Aku menadahkan tangan saat hujan pertama turun, berharap merasakan semacam keajaiban. Tapi yang kurasakan hanyalah air dingin yang membuat kulitku lengket. Aku menyeduh teh paling mahal, menghirup uapnya dalam-dalam, mencari ketenangan yang mereka janjikan. Tapi yang kudapat hanyalah cairan panas yang membakar lidah. Aku membuka buku yang kata mereka bisa mengubah hidup. Aku membacanya, halaman demi halaman, tapi jiwaku tidak bergetar. Aku hanya membalik kertas.
Semua orang tampaknya memiliki koneksi rahasia dengan dunia. Mereka bisa berbicara dengan senja, menari dengan angin, dan menemukan pelipur lara dalam secangkir kopi. Mereka memiliki bahasa yang tidak kumengerti, sebuah frekuensi emosi yang tidak bisa ditangkap oleh radioku.
Seharusnya ada sesuatu yang bergetar di dalam dadaku. Sebuah senar yang ikut beresonansi saat musik yang tepat dimainkan. Tapi senarku diam. Atau mungkin putus. Jadi saat dunia menyajikan keindahannya, tubuhku hanya merespons dengan keheningan. Sebuah keheningan yang canggung, seperti tamu di sebuah pesta yang tidak mengenal siapa pun.
Jadi saat mereka bertanya apa yang aku sukai, aku tidak punya jawaban. Aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk, berpura-pura mengerti keindahan yang mereka lihat dengan begitu mudahnya.
Roni. | 12 Agustus 2025












