Standar sebuah novel dikatakan bagus adalah ketika isinya tidak mainstream, isinya berbobot--dengan riset yang bisa memakan waktu bulanan atau bahkan tahunan--alur dan penokohan bagus serta rapi, dan tentu saja akhir cerita yang tidak diduga. Bagi saya, buku ini benar-benar sudah mencapai kategori tersebut bahkan lebih, sampai-sampai saya sendiri hampir menyerah membacanya.
Aneh memang. Kemampuan otak saya ini terbatas, tapi kok masih nekat mencari bacaan yang tidak main-main. Ya, mungkin, memang sudah bukan waktunya lagi saya mengonsumsi novel cinta monyet anak SMA--meski ada kemungkinan saya menjual buku tersebut (yang berminat bisa mampir di lapak saya).
Sejak menulis sebuah cerita kala SMA, saya berkeinginan mencari novel yang mengangkat isu sosial yang dapat saya jadikan referensi soal penggambaran tokoh, latar, dan suasana. Saya sadar, cerita saya waktu itu masih jauh dari sempurna; apalagi saya sama sekali tidak pernah melakukan riset untuk itu. Cerita bertemakan perdagangan anak saya tuliskan benar-benar murni berdasarkan imajinasi saja. Cantik Itu Luka berhasil menjadi referensi tersebut, tapi sayangnya, saya sudah berbelok ke dunia puisi, sajak, senandika, dan sejenisnya. Belum ada niatan untuk kembali menulis cerita pendek, apalagi novel.
Meski karya Eka Kurniawan ini sudah saya sebut berhasil, saya tetap tidak bisa memberi nilai 10/10 untuk buku ini. Saya kesulitan mencerna latar waktu dan suasana zaman penjajahan, apalagi waktu kejadian tidak digambarkan secara pasti. Bagi orang yang lebih paham sejarah daripada saya, mungkin lain cerita.
Terlepas dari itu, saya hendak memuji beberapa hal soal novel ini. Pertama, tema pelacuran yang dibawakan sangat detail berikut tokoh-tokohnya. Tidak ada yang karakternya samar. Semuanya digambarkan dengan tegas, sehingga saya bisa membedakan mana tokoh Shodanco dan mana tokoh Maman Gendeng meskipun namanya tidak dituliskan. Kedua, penulis berhasil mewujudkan “Cantik Itu Luka” dalam dua arti. Satu untuk si gadis bernama Cantik yang ironisnya malah buruk rupa, dan satu lagi untuk gadis-gadis cantik--Alamanda, Adinda, dan Maya Dewi--yang pada akhirnya menjadi janda.
Setelah bergulat selama beberapa minggu dengan novel tersebut, saya memutuskan untuk banyak istirahat dengan tujuan mengurangi beban pikiran. Jujur saja, kepala saya serasa pecah karenanya.
Jika cinta membuatmu gila, maka izinkan aku untuk gila bersamamu.
Saat ini, kau tengah sibuk berurusan dengan kerasnya hidup yang terpampang di depan matamu. Sesekali, kau mengusap peluhmu, mengenyahkan keluhan-keluhanmu agar tak ada alasan untukmu menceritakan keletihanmu. Kau bukannya malas cerita, hanya saja kau lebih memilih menanggungnya sendirian. Asal kau tahu, aku beberapa kali mengintipmu bekerja dari balik pintu, dan bersembunyi jika kau mengarahkan kepalamu ke arahku. Ketika aku tak sanggup untuk berdiri lama menyaksikanmu, aku akan duduk berjongkok, menundukkan kepala, dan menangis dalam kesunyian.
Jika kau bertanya-tanya bagaimana aku bisa masuk, maka biarkan aku menjelaskan: aku membagikan beberapa bungkus rokok bahkan kopi kepada satpam, kepala divisimu, dan beberapa karyawan lain sebagai bayaran telah mengizinkanku masuk. Bahkan, tak jarang aku bertemu kawan-kawanmu; tapi tenang saja, mereka tak akan bisa mengenaliku.
Saat bel istirahat tiba, kau akhirnya bisa bernafas lega. Hal pertama yang kau tuju pastilah galon air untuk menghilangkan dahagamu. Kau pernah bilang bahwa kau tak suka air minum di pabrikmu, jadi kuletakkan beberapa botol air mineral dingin di sampingnya. Tak usah ragu apalagi takut untuk meminumnya, sebab itu memang untukmu. Percayalah, kau tak akan menanggung dosa karena itu.
Asap rokok mengebul perlahan dari mulutmu. Kau duduk berjongkok dekat tembok, sedikit bersandar. Pandanganmu mengarah ke atas, entah apa yang tengah kau pikirkan. Sesekali, kau mengusap bajumu yang penuh debu sembari mendengus perlahan. Sebenarnya, aku bisa menghampirimu saat ini juga. Tetapi, bersembunyi di balik mesin besar ini lebih baik ketimbang nanti kau jadi pusing sendiri memikirkan caraku pulang.
Jam istirahat telah usai. Kau kembali ke tempatmu bekerja sementara aku menyelinap ke kamarmu. Lagi-lagi, aku harus membujuk si satpam dengan rokok, kopi, dan sebungkus nasi campur untuk itu. Aku mengambil pakaian, sprei, dan bantal-bantal beserta sarungnya yang kujemur di lantai paling atas, membawanya turun, dan meletakkannya di atas kasurmu. Baju-baju kusetrika lalu kutata di lemari, dan tempat tidur sudah kurapikan kembali. Jangan kaget ketika pulang nanti. Soal kasurmu, maaf, aku tak bisa menjemur kasurmu; aku hanya menepukinya dengan penebah.
Kau juga tak perlu bingung masalah makanan. Aku sudah menanak nasi--kupastikan ia benar-benar termasak agar kau tak kesal seperti waktu itu--dan membuat tumis sawi serta menggoreng tempe. Aku mungkin tidak selihai memasak seperti engkau maupun ibumu, tapi semoga kau menyukai rasanya. Menyedihkan bagiku ketika harus melihatmu beberapa kali hanya makan mie instan. Lain kali, jangan makan sembarangan. Kau butuh tenaga lebih untuk bekerja sedemikian kerasnya saban hari.
Ketika malam tiba, nikmatilah waktu bermainmu dengan kawan-kawan sekamarmu. Kau bebas bermain remi atau playstation, atau sekadar bernyanyi dengan diiringi petikan gitarmu yang sederhana namun merdu. Satu-satunya hal yang bisa membahagiakanku adalah melihat tawamu yang lepas dan ceria dari belakang sini. Kau tak perlu risaukan aku. Aku janji, aku tak akan menangis lagi.
Setelah kantuk menyerang, tidurlah dengan nyenyak. Semoga wangi dupa yang kunyalakan bisa menjadi pengganti nyanyian ninabobo untukmu. Jika kapan-kapan kau ingin menyalakannya lagi, tak usah bingung; aku meninggalkan sisanya di lemari. Saat kau terlelap, barulah aku datang di depanmu; mengelus rambutmu yang sedikit kasar tapi wangi, memainkannya sesekali. Wajahmu tampak lelah, sebab itu kukecup pelan supaya lelahmu sirna. Nikmati saja apa yang kau impikan; aku sudah minta pada Tuhan agar kau diberikan mimpi paling indah malam itu.
Esok pagi kala bangun tidur, kau akan temukan hansaplast di telapak tanganmu. Itu aku yang menempelkannya supaya tanganmu tidak infeksi karena luka tadi siang. Tak usah pikirkan apapun setelah itu, yang penting sarapanlah dahulu dengan buah pir dan pisang yang kutinggalkan di atas piring. Di dalam rantang, ada sayur lodeh yang hangat. Di termos sebelahnya, ada teh hangat pula. Makan dan minumlah juga supaya ikut hangat badanmu.
Meski akhirnya kau sadar bahwa semua itu benar-benar dariku, kau tak perlu repot-repot mencariku. Yang kau harus tahu, aku tidak meninggalkanmu. Aku menemani setiap detikmu dengan cintaku meski kau tak bisa temukan keberadaanku dengan mata. Cukup rasakan, aku pasti ada.
Magelang, 3 Mei 2020
nb: aku menambahkan dua tagar #TulisanBercerita sekaligus #TulisanBersastra karena aku tak bisa memilih salah satu di antara keduanya.
Sejauh ini, buku karangan Alm. Rusdi Mathari ini menduduki nominasi buku non-fiksi paling waras yang pernah saya tamatkan dari sekian koleksi buku non-fiksi yang berjajar di lemari kamar. Nominasi tersebut saya canangkan atas dasar keberhasilan saya menuntaskan buku tersebut hanya dalam waktu sekian jam, tidak seperti buku-buku lainnya yang baru bisa habis dalam kurun waktu beberapa minggu. Bahkan, tak sedikit yang justru bernasib kembali ke lemari dengan alasan “tidak paham”. Sebagai informasi, 7 dari 9 buku non-fiksi yang saya miliki saat ini adalah seputar Islam. Saya juga tidak mengerti kenapa saya pada akhirnya memutuskan nekat membeli mereka, padahal saya tahu bahwa kemampuan saya memahami Islam sungguhlah cetek.
Sejujurnya, saya lebih dulu tertarik dengan Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya setelah membaca beberapa kalimat isinya yang ditayangkan di media sosial. Tetapi, begitu berhadapan dengan toko buku online yang saya pilih, lagi-lagi saya membeli buku lain yang tidak tercantum dalam waiting-list saya.
Meski begitu, saya tidak menyesal membelinya. Laki-Laki yang Tak Berhenti Menangis layak saya masukkan dalam rekomendasi bacaan, sebab model penulisan cerita pendek yang digunakan penulis membuat penyampaian hasil olah pikiran beliau menjadi ringan dan lebih santai, sehingga mudah dipahami oleh berbagai kalangan masyarakat. Membaca buku ini membuat saya mengalahkan anggapan saya bahwa mempelajari seluk beluk Islam lebih dalam pasti memusingkan kepala saya seperti yang sudah-sudah. Bagi saya, buku ini memang cocok bagi orang-orang yang baru hendak memahami Islam lebih jauh. Selain soal Islam, beliau juga menuliskan hasil refleksi diri beliau sebagai seorang manusia pada umumnya.
Kesan yang paling membekas di mata saya adalah adanya perasaan seolah "diajak" Alm. Rusdi Mathari untuk merenungkan pertanyaan berikut:
Apakah kita sudah benar melakukan tugas kita sebagai manusia?
Ah, ya, satu lagi. Saya masih bertanya-tanya, apakah benar bab "Perayaan" pada buku tersebut benar-benar menceritakan pertanda bahwa beliau mengerti jika ia hendak meninggalkan dunia ini? Sebab, jujur saja, saya tidak merasakan hal serupa.
Ini adalah tulisan keduaku setelah berada di Jogja.
Pada akhirnya, aku bisa mengunjungi tempat yang sudah lama hanya terpendam dalam puisi--dan akan menjadi tempat favorit untukku.
Kau pernah bilang bahwa tempat itu bahkan tidak cantik. Kau bertanya-tanya mengapa kemudian aku memilih bertandang ke sana. Sejujurnya, aku bukan tiba-tiba ingin ke sana, melainkan memang ingin merasakan kehadiranmu.
Jiwaku telah bersemayam di sana dan tak akan bisa kembali.
Bagaimana kakimu? Masih sakit seperti kemarin, ya?
Tentu sulit beraktivitas dengan kondisi yang seperti itu; tapi, aku yakin kau pasti akan berusaha semampumu. Aku tahu kau bukan orang yang lemah apalagi manja. Tak apa jika sesekali atau berkali-kali mengaduh--tak ada yang melarang seorang lelaki mengaduh, bukan?
Omong-omong, jika kau tak kerja sekarang, pasti kau sedang sendirian ketika aku menuliskan ini. Padahal, kau pernah bilang bahwa kau tak suka sendirian. Lantas, bagaimana kau menjalani harimu sejak pagi tadi? Apakah kau baik-baik saja dengan kesendirianmu?
Magelang, 14 Juli 2020
aku jadi sering menulis di sini agar bisa menyembunyikan ini darimu.