Undar, Masih Eksis di Hati Rakyat
Dari sekian banyak hiburan modern yang ada saat ini, undar masih menjadi satu pilihan yang menarik bagi masyarakat Kejobong. Undar? Ya hiburan rakyat yang juga disebut sebagai pasar malam di gelar di lapangan desa, bak Dunia Fantasi yang murah bagi kalangan menengah ke bawah. Mulai dari anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa nampak antusias menuju ke sana. Dengan menawarkan aneka jajanan, dagangan, dan wahana permainan minim standar keselamatan, pasar malam ini memikat masyarakat dari berbagai penjuru kecamatan.
Sebuah pemandangan yang belum marak ditemui di jalan desa. Pukul 20.00 di Kejobong hampir seperti pukul 23.00 di kota, mungkin hanya 3 sampai 4 kendaraan lewat tiap menit. Bahkan di beberapa waktu pagi, sambil menunggu bus ke sekolah yang lama, kita bisa merasakan rasanya tengah jalan raya untuk bersantai beberapa menit, tiduran (jika mau), dan jalan masih lengang. Tidak ada ancaman tertabrak sama sekali. Suara daun-daun singkong yang diterpa angin juga menyuarakan kesunyian dari tepi jalan. Namun, keadaan jalan malam Ahad kemarin luar biasa, lebih ramai. Seperti pukul setengah 8 pagi di gerbang kampus, banyak motor. Dari sorot lampu motor mereka seolah-olah membentuk formasi jajaran lampu jalan yang memang belum ada di kecamatan ini, di pusat pemerintahan pun.
Ba’da salat Ashar kemarin, terdengar diskusi ringan dari anak-anak –yang bisa disebut anak TPA, meskipun di sini tidak pernah ada nama resmi untuk kegiatan kumpulnya anak-anak itu tiap ba’da magrib— di teras musala yang merencanakan pembolosan mengaji. Magrib, sang muazin biasanya, salah satu anak tadi, tidak terdengar suaranya. Dan benar, dia bersama beberapa kawannya telah bersepakat ‘nonton’ undar. Masyarakat bermigrasi ke lapangan. Musala kemarin menjadi sepi, walaupun tidak sesepi jalanan biasanya, hingga muda-mudi pernah beberapa kali dipergoki sedang duduk diam bersama atau muda-muda yang jam 3 dini hari sedang menunggu temannya –Maling? Entahlah. “Musala isinya tinggal orang tua” pun kadang-kadang tidak sesuai dengan keadaan musala ini. Bahkan orang tua di sini juga jarang muncul di musala. Pernah salat justru hanya dengan makmum perempuan, meski di depan pintu musala ada 4 orang laki-laki yang sedang bercengkerama saat itu. Sekitar 5 survivor orang tua yang bisa menjadi harapan untuk ditunggu salat berjamaah. Ya sering juga mereka yang menunggu. Tak jarang juga muazin mencetak hatrick. Azan, iqomah, imam. Pernah tanpa makmum.
Teringat bahwa, di kampus, saya dan rekan-rekan sedang memikirkan rencana KKN ke Belitung Timur sana. Padahal ada kerja nyata yang harus dilakukan di kampung sendiri.
Seperti pancuran, membasahi tempat yang jauh dari asalnya keluar, sekitar lubang itu kering.