Rasulullah Tidak Akan Bohong (Volume III - Tamat)
Hari berganti bulan. Bulan berganti tahun. Tahun berganti abad. Telah delapan abad lamanya sejak Abu Ayyub Al Anshari dimakamkan di depan tembok Konstantinopel. Kota itu masih saja kokoh tak tertaklukkan.
Siapapun arsitek tembok Konstantinopel, sepertinya memang merancang agar karyanya kuat menghadapi sebesar apapun serangan. Telah silih berganti pasukan menjajal tembok kota. Tapi lagi-lagi tembok itu tetap tegak tak bergeming. Tembok tersebut bagai susunan batu penghisap nyawa yang enggan untuk beranjak.
Atau mungkin Konstantinopel memang tidak dapat ditaklukkan? Apakah Konstantinopel hanyalah angan-angan yang tak akan menjadi kenyataan? Jika benar begitu, apakah.. Rasulullah berbohong?
"Siapkan pasukan menuju Konstantinopel!", perintah pemuda itu. Para wazir terheran-heran. Baru saja pemuda itu terpilih sebagai sultan ketujuh, kondisi masa transisi masih tak menentu, dan kini ingin menyerang kota tak tertembus itu? Anak ini gila, belumlah layak menjadi sultan. Pikir sebagian mereka.
Tapi ia bukanlah pemuda biasa. Ia adalah pemuda yang sejak kecil telah diiming-imingi kemenangan Konstantinopel. Ia telah dididik oleh kelembutan Al Quran dan keluasan ilmu pengetahuan. Ia memang belia, tapi tekad dan kesungguhannya telah melampui anak seusianya. Mungkin.. pemuda ini memang adalah orang yang tepat.
Perihal gila, sepertinya sedikit ada benarnya. Setelah berbagai serangan yang tetap mentah di depan tembok penghisap nyawa itu, ia melancarkan taktik gila. Siapa lagi yang terpikir untuk mengangkat 72 kapal melintasi naik turunnya hutan dan perbukitan Galata? Tak pernah ada dalam sejarah!
Maka puncaknya adalah subuh itu. Setelah sebulan lebih pengepungan, gempur-gempuran meriam, dan kapal-kapal yang 'berlayar' melintas perbukitan, momok delapan abad itu pun runtuh. Muhammad Al Fatih, si sultan ketujuh itu, membuktikan pasukannya memang adalah sebaik-baik pasukan. Akhirnya, ia memetik Apel Merah yang telah menjadi mimpi turun-temurun para leluhurnya.
Dalam tatap tajam dan sikap tegap di atas kuda putihnya, ia seolah berteriak lantang membuktikan kepada seluruh manusia sepanjang perlintasan zaman: "Rasululullah tidak akan bohong!"
Hari itu, adalah hari ini.
29 Mei 1453 - 29 Mei 2020