Yes to Life, buku ke tiga dari Viktor E. Fankl yang saya baca setelah karya fenomenalnya Man's Search for Meaning dan dilanjutkan dengan The Will to Meaning.
Entah apa yang membuat saya begitu menyukai buku-bukunya Viktor E. Frankl, yang jelas setiap pengalaman membaca bukunya membawa saya pada sebuah perjalanan untuk menemukan makna pada kehidupan.
Kalau di dalam buku Man's Search for meaning Frankl lebih banyak bercerita tentang pengalamannya menjadi tawanan di kamp Konsentrasi Nazi, sedangkan buku ini semacam sekumpulan surat yang dia kirimkan, dan catatan setelah ia terbebas.
"Saya letih tak terkira, sedih tak terkira, kesepian tak terkira. Di kamp kamu sudah merasa mencapai titik terendah dalam hidup. Lalu saat kembali pulang kamu menyaksikan segala sesuatu yang coba kamu pertahankan telah hancur".
Ketika di kamp konsentrasi, hal yang membuat Frankl bertahan adalah keinginan yang kuat untuk kembali bertemu dan berkumpul dengan keluarganya. Tapi ketika sudah benar-benar terbebas, semuanya sudah tidak ada. Orang tua, istri dan anaknya meinggal di dalam tawanan.
"Saat kamu menjadi manusia lagi, kamu bisa tenggelam bahkan lebih dalam ke sumur penderitaan yang tak berdasar. Kalau aku tidak membuat sikap positif seperti sekarang ini pada kehidupan, jadi apa aku selama pekan-pekan terakhir".
Buku ini mengajak kembali merenungkan bagaimana kembali menemukan makna disaat kehilangan harapan, di tengah kesepian, keputusasaan dan penderitaan yang terkira. Bahkan saat kita berpikir untuk mengakhiri hidup.
Frankl berhasil menemukan kembali makna hidupnya setelah kehilangan semuanya. Jika saja dia menyerah seperti tawanan-tawanan lainnya, mungkin dia tidak akan pernah ada tulisan-tulisannya seperti sekarang.
"Jika kita tak mampu mengubah nasib kita, setidaknya kita bisa ikhlas menerimanya. Selalu katakan ya pada kehidupan, apa pun yang terjadi."
Satu kutipan yang paling saya suka dari buku ini "Aku tidur dan bermimpi bahwa hidup adalah kegembiraan. Aku terjaga dan melihat bahwa hidup adalah kewajiban. Aku bekerja dan menemukan, kewajiban adalah kegembiraan".
Ulasan Buku : ibnufir











