"Ruhsal sıkıntıların kaynağında; anlamsız insanlarla anlamlı ilişkiler yaşama isteği ve çabası yatar."
seen from Mongolia

seen from Netherlands
seen from Romania

seen from Netherlands

seen from Türkiye
seen from China

seen from China
seen from China
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from China
seen from South Korea
seen from China
seen from United States
seen from Netherlands

seen from Switzerland
seen from United States
seen from Netherlands
seen from United States
"Ruhsal sıkıntıların kaynağında; anlamsız insanlarla anlamlı ilişkiler yaşama isteği ve çabası yatar."
When a person can't find a deep sense of meaning, they distract themselves with pleasure.
Viktor Frankl
Much of my years have been enmeshed with addiction, mental health crises, hospitalizations galore, treatment centers, and now, a psychiatric nursing home. To boot, I was legit kidnapped, held hostage for ransom, and lost all my many worldly possessions. This includes my vast library of books and vinyl. This includes torture and r@pe. Now, I'm on the other side of that and reclaiming bits of my life. In a real sense, downloading some of what I lost from Anna's Archive using Proton is a worldly salvation, a reconnection with meaning. Frankl knew of this better than I ever could in "Man's Search for Meaning." And for what it's worth, the little connections here on Tumblr mean so much to me.
portrait by Darren McAndrew, 2017
“I must interrupt myself at this point to say a word about my whole approach to Arthur Lingard's obsessions. There was a time when I would have tried to interpret them entirely in sexual terms—sublimation of an Oedipus complex, and so on. But, as I mentioned at the beginning of this account, I have come to accept increasingly the views of certain "third force" psychologists—Frankl, Caruso, Maslow, Carl Rogers, Glasser—who recognize in man what might be called 'higher instinctual needs." Of course, the basic mechanism of life is contraction and expansion, absorption and discharge of energy, like breathing in and breathing out. And there are undoubtedly many human beings of whom you can say that it doesn't much matter what they're doing so long as they're doing something. But most reasonably sensitive people prefer activities that they consider "worthwhile"—that is to say, in some way creative. It is a need, just as strong as the sexual urge.
Put it this way. Freud and most of his disciples see mental illness as the outcome of the frustration by the environment of certain basic needs, the chief one being the sexual need. A perfectly running human being ought to be like a perfectly running machine, somehow obeying the natural laws of his being. Neurosis comes from sand or rust getting into the works; it comes from outside, so to speak. But it has become increasingly clear to me that there is another kind of neurosis, that comes from inside. Human beings experience a need to develop, to mature, to realize their potentials, to become, if you like, more godlike (or more human—it's the same thing). And if it's true that inside every fat man, there's a thin man struggling to get out, so inside every dull, bored man, there's a brilliant creative man struggling to get out, like a chicken in its egg or a butterfly in its chrysalis. If circumstances frustrate his development, it may take strange turns.” - Colin Wilson, ‘Lingard’ (1970) [p. 124, 125]
«Dudo que haya ningún médico que pueda contestar a esta pregunta en términos generales, ya que el sentido de la vida difiere de un hombre a otro, de un día para otro, de una hora a otra hora. Así pues, lo que importa no es el sentido de la vida en términos generales, sino el significado concreto de la vida de cada individuo en un momento dado. Plantear la cuestión en términos generales puede equipararse a la pregunta que se le hizo a un campeón de ajedrez: “Dígame, maestro, ¿cuál es la mejor jugada que puede hacerse?” Lo que ocurre es, sencillamente, que no hay nada que sea la mejor jugada, o una buena jugada, si se la considera fuera de la situación especial del juego y de la peculiar personalidad del oponente. No deberíamos buscar un sentido abstracto a la vida, pues cada uno tiene en ella su propia misión que cumplir, cada uno debe llevar a cabo un cometido concreto. Por tanto ni puede ser reemplazado en la función, ni su vida puede repetirse; su tarea es única como única es su oportunidad para instrumentarla.»
Viktor E. Frankl: El hombre en busca de sentido. Editorial Herder, pág. 107. Barcelona, 1985.
TGO
@bocadosdefilosofia
@dias-de-la-ira-1
“When we are no longer able to change a situation - we are challenged to change ourselves.”
—Viktor E. Frankl
Age quod agis
“Jangan terlalu idealis dalam memberi nilai ke siswa, bisa jadi nilaimu dulu adalah hasil manipulasi dari gurumu saat itu”
Kalimat yang akhirnya membungkam semua hal yang ingin saya katakan!
Pikiran saya mengulang pada tahun-tahun putih merah, putih biru, putih abu, rak buku perpustakaan, tumpukan buku tulis semua mata pelajaran, ruang kelas, senyuman para guru, tawa, dan amarah teman-teman, membayangkan bagaimana jadinya bahwa semua itu adalah ilusi.
Harus saya akui bahwa semua itu kenangan termanis saya, yang masih tersimpan rapi dan berharap agar tetap manis.:D
Pengalaman menjadi guru yang bahkan belum memasuki umur jagung, cukup memberi saya kejutan yang kadang harus disambut gelak tawa, senyum juga amarah [yang harusnya disimpan saja]. Tingkah para siswa yang seolah cerminan diri, membuat haru dan tawa bahkan dalam waktu bersamaan.
Tahun pertama, seorang siswa laki-laki menangis saat jam pelajaran saya berlangsung, hanya karena diminta untuk duduk di bangku terdepan. Dia menuruti perkataan saya, dengan setengah hati sambil menyeka air matanya. Saya gelagapan saat itu melihat reaksinya, panik [berusaha tenang] menanyakan apa perkataan saya menyakitinya? Geleng, tunduk, dan air mata yang terus mengalir. Dengan bahasa nan lembut saya membawanya keluar kelas dan mengajak ke ruang guru. “Jika ada yang ingin kamu ceritakan boleh cerita kok, bisa ke saya atau ke guru BK.” Tidak ada jawaban, lagi-lagi tunduk dan terus menangis. Akhirnya saya putuskan untuk membawa ke guru BK. Kelas berjalan kembali sebagaimana harusnya.
Masa adaptasi, membuatmu mulai memahami benang merah yang tersembunyi di balik ruang gerakmu.
Hingga akhir pelajaran, barulah saya mendapat informasi, bahwa pagi sebelum berangkat sekolah, siswa tersebut menyaksikan pertengkaran hebat orangtuanya.
Saat itu saya menyadari bahwa; hubungan siswa dan guru adalah tentang perihal ‘menjemput’, ‘menemani’, dan ‘menghantar’. Menjemput bersama dengan kelebihan dan kekurangan yang bahkan keduanya tidak saling mengenal dengan baik. Menemani bahkan sampai pada titik dimana keduanya ingin menyerah lalu menemukan secercah harapan untuk kembali bangkit. Menghantar untuk memastikan hal baik telah dibawanya pulang dan dijadikannya pijak untuk setiap tutur dan tindak.
Saya kembali teringat celetukan salah seorang teman guru; “Kita ini bekerja berhadapan dengan makluk hidup, bukan mesin atau komputer, karena itu tuluslah, dan hal baik selalu ada untuk orang-orang yang bekerja dengan sepenuh hati.”
Saya yang saat itu hanya tersenyum getir, mengingat rentetan keluhan dan umpatan yang terlanjur ucap, menunduk; i'm nothing more than a loser! Saya tidak ingin membenarkan diri dengan mengatakan; i'm just a human, tapi karena saya manusia jadi, saya harus tahu, bagaimana seharusnya.
Dunia kerja menghantarkanmu pada rahasia hidup, kebenaran pahit dan manis, langit yang terang lalu mendung kemudian gelap. Hamparan pasir berkerikil dan tanah lapang yang ditumbuhi bunga mawar berkelopak indah menjuntai pada tangkai berduri. Dunia dimana nyata dan palsu sulit dibedakan. Atau, bisa jadi sebaliknya; mudah dibedakan, mengingat saya atau juga kamu telah bertumbuh, dan bertahan sampai pada titik ini.
Percaya bahwa orang-orang disekitarmu memberi pengaruh besar akan pola pikir dan perilakumu, tidaklah salah, tapi apakah kamu akan membiarkannya? Seolah kamu dituntun pada jalan yang bukan menjadi inginmu. Saya, atau juga kamu tidak pernah tahu dengan pasti akhir kisah seperti apa yang sedang menunggu di ujung jalan, tapi bukankah kita berhak memilih jalan kita sendiri?
Terkadang saya bersikap seolah bukan saya, senyum yang dipaksakan, tawa yang tak lepas, empati yang tak berdasar, tatap yang kosong, lalu mempertanyakan bagaimana seharusnya menjadi peduli, sementara saya memilih menarik diri dari percakapan monoton dan membosankan. Menarik diri dari keramaian yang penuh dengan skenario, ketika berakhir kita saling membicarakan satu sama lain. Saling memuji lalu menjatuhkan. Hidup terlampau pura-pura.
Berkecimpung di dunia pendidikan bukan berarti kamu hanya akan berhadapan dengan orang-orang berkarakter baik. Orang-orang yang memiliki kemauan tinggi untuk belajar, orang-orang yang merasa sudah banyak belajar, bahkan orang-orang yang kurang diajar, pantas disambut dengan senyuman termanismu lalu takhlukan.
Menjadi bagian dari orang-orang ini bukanlah sebuah kesalahan, juga jangan lupa bahwa kita berhak memilih.
Saya teringat akan sebuah kutipan Frankl dari Man’s Search for Meaning; “apa pun bisa dirampas dari manusia, kecuali satu: kebebasan untuk menentukan sikap dalam setiap keadaan.”
Dan benar adanya bahwa kita tidak ingin dipermainkan oleh keadaan.
Saya harus lebih memahami diri saya, agar setiap tutur dan tindak saya, dipahami baik oleh mereka yang memanggil saya dengan panggilan Bu Guru.
Cakung, 08 Mei 2022