Kesurupan atau Waham? (1)
Menjelang sore yang tidak biasanya. Seusai aku meracau tentang tanggal 19 Januari yang aku baru sadar ternyata tulisanku tidak runtut hanya berisi curahatan hati yang kurang terstruktur. Saat itu aku sedang rebahan di kamar, temanku menerima sebuah telpon yang tidak biasanya. Dia hanya mengiya-iyakan. Aku sok peduli menanyakan ada telpon apa? Dia menjawab namun aku tak paham. Aku biarkan menjadi angin lalu. Azan ashar berkumandang lalu kami pergi ke masjid menunaikan fardu.
Sepulang dari masjid temanku mengajakku untuk menemaninya ke sebuah tempat. Aku menolaknya. Aku beralasan mengerjakan skripsi. Temanku sebut saja namanya Muhammad mengatakan hal serius, "Bukh tolong temenin aku. Ada temanku yang kesurupan." Akupun masih malas-malasan untuk menemaninya. Imanku sedang lemah. Takutnya aku malah yang gantian kesurupan. Lalu temanku menceritakan sebuah fakta baru. Muhammad adalah mantan pejabat utama di sebuah lembaga dakwah. Temannya yang kesurupan adalah partner kerjanya, seorang perempuan yang menjadi pejabat utama juga di sana. Hal yang membuatku terkejut adalah temanku bercerita bahwa dia dikabari perempuan tersebut menyebut-menyebut nama temanku berulang dan mencari-carinya. Ustaz yang sedang meruqyah perempuan itu memutuskan untuk menghadirkan temanku di hadapan perempuan itu. Aku menganggap ini hal yang serius. Demi kebaikan bersama aku memutuskan untuk menemani temanku pergi ke indekos perempuan itu.
"Muhammad, kita berangkat sambil baca Al-Ma'tsurat ya. Takutnya malah kita yang gantian kesurupan." Akhirnya kami sepakat berangkat sambil zikir, demi kebaikan bersama.
Tiba kami di sebuah gang sempit. Kami tiba di tujuan. Kami dipersilakan masuk ke ruang tamu kos muslimah dan kami dipertemukan dengan ustaz, ustazah yang meruqyah, dan tentu saja perempuan yang sedang diruqyah beserta ibu kandungnya. Saat di dalam kami lebih sering hanya menunduk saja karena memang biasanya di lembaga dakwah pertemuan laki-laki dan perempuan dihiasi dengan hijab pembatas. Muhammad dan perempuan ini adalah simbol di lembaga dakwahnya. Bertemu face to face seperti ini adalah hal darurat.
Percakapan serius ini dimulai. Muhammad ditanya oleh ustaz apa hubungan Muhammad dengan perempuan ini. Temanku dengan tegas mengatakan bahwa dia hanya mantan partner kerjanya di organisasi dan itu sudah selesai di tahun 2018. Ditanya lagi apakah ada hubungan selain itu. Temanku menjawab tidak ada. Setiap komunikasi hanya membahas organisasi.
Akhirnya kami diberi penjelasan. Bahwa sejak kemarin perempuan ini berkeyakinan bahwa temanku ini adalah imam mahdi dan perempuan itu adalah permaisurinya. Aku langsung curiga wah sepertinya perempuan ini mengidap waham akut.