Namanya Dimas. Orang-orang kalau manggil dia 'Dim' atau 'Mas' kalau aku, 'mas Dimas'. Eh... hahaha.
Mas Dimas kakak kelas aku semenjak SMP. Sengaja aku daftar di SMA yang sama dengan mas Dimas supaya bisa bertemu. Sengaja aku ikut ekstrakurikuler yang sama dengan Mas Dimas supaya lebih sering bertemu.
Aku suka mas Dimas. Semuanya. Mas Dimas gak perlu tahu.
Senyumnya membuat semua orang luluh. Apalagi kalau lesungnya sudah terbentuk, aku yakin semua perempuan yang lihat wajah tampannya pasti meleleh. Dia gak pernah marah, dia selalu ramah. Dia selalu menyapa tanpa menunggu disapa.
Dia dengan sepedanya setiap pagi, dia dengan jaket coklat lusuhnya setiap hari, dia dengan keceriaannya yang selalu dibagi, semuanya tentang dia. Aku bisa saja lupa dengan tujuanku ke sekolah karenanya. Aku bisa saja bolos sekolah karenanya. Aku bisa saja mengirimkan hadiah-hadiah untuknya. Tapi dia gak suka.
Dia suka dengan orang yang kalau ke sekolah tujuannya belajar. Dia gak suka dengan orang yang kalau sekolah tapi bolos di jam-jam tertentu. Dia juga gak suka dengan orang yang kalau ke sekolah bukannya bawa buku malah bawa hadiah.
Mas Dimas juga sayang sama ibunya, dia sering mengantar ibunya ke pasar. Hihi.. aku tahu itu karena aku tetangganya. Mas Dimas juga baik terhadap ibuku juga ayahku. Kedua orang tuaku pun suka dengan sikap Mas Dimas. Aku juga suka Bu, Yah hehe.
Hari itu, ibu menyuruhku untuk mengantarkan kerupuk dari Palembang yang ayahku bawa untuk tante Mila, ibunya mas Dimas. Tentu aku senang.
Aku ketuk pintu rumahnya, tidak perlu menunggu lama, pintu terbuka dalam setengah menit. Yang membukakan pintu adalah Mas Dimas, tentu aku semakin senang.
"Mas, ini ada oleh-oleh dari ayah," kataku, tanpa basa-basi terlebih dahulu.
"Kerupuk, hehe. Enak loh mas, aku aja ketagihan," balasku.
Dia menerimanya dengan senang dan bonus senyuman terima kasih. "Wah, sampaikan terima kasih ke Om sama Tante ya Nay,"
"Siap bos!" kataku dengan hormat ala-ala prajurit.
"Haha, kamu ini ada-ada aja," katanya tertawa manis. Ah, aku jadi ingin tetap disini.
"Aku pulang ya," kataku kemudian berjalan. Baru dua langkah, aku kembali lagi, kebetulan mas Dimas masih diambang pintu, "mas Dimas ada tugas sekolah gak buat besok?" tanyaku
"Nggak, ada apa Nay?" tanyanya
"Temenin aku belajar, hehe, mau kan?"
Dia manggut-manggut. "Ehm, boleh-boleh. Di rumah Nayla aja ya," katanya
"Oke, nanti sore ke rumah ya Mas," kataku mengingatkan akan waktunya.
"Sip," balasnya dengan jempol yang diangkat.
Sore ini, aku akan menyatakan rasa suka ku padanya. Masa bodoh dengan gengsi, biar saja kalau perempuan yang menyatakan. Masalah?
Kebetulan, ayah dan ibu sedang pergi, hanya ada bibi Marni dan mang Dadang.
Pukul 16.05 mang Dadang mengetuk pintu kamarku, katanya mas Dimas sudah menunggu di ruang tamu. Saat itu aku tidak langsung membuka pintu kamarku, saat itu aku kegirangan dan hampir berteriak.
Aku pandang cermin di kamarku, apa yang kurang ya? Aku harus pakai make-up gak ya? Ah sudahlah, begini saja. Dengan baju santai aku keluar menemui mas Dimas. Membawa tumpukan buku yang nantinya kuabaikan.
"Nay," sapanya ketika ia melihatku turun tangga.
"Lihat nih, banyak kan bukunya," kataku
"Hmm," ia hanya membalasku dengan dehemannya.
"Ekonomi akuntansi. Ribet deh, masa gak balance-balance," dumelku
"Makanya yang teliti kalau ngerjain akuntansi," tegurnya "mana bukunya?"
Kuberikan buku akuntansi yang sudah kukerjakan dan benar tidak balance. "Nih mas," mas Dimas menerimanya.
"Aku ambil minuman dulu ya, masa mejanya sepi gitu," kataku yang dibalas anggukan olehnya.
Sengaja aku berlama-lama di dapur padahal minumannya sudah siap, supaya mas Dimas lebih lama disini, supaya aku lebih lama bersama mas Dimas. Aku suruh mang Dadang untuk membeli beberapa kue. Jadi, aku ke ruang tamunya nunggu mang Dadang datang, supaya sekalian bawa kue.
Dari dapur, aku perhatikan dia yang sedang memeriksa bukuku, ia mengambil pensil dan memperbaiki jawabanku. Aku yakin, bibi juga pasti kelepek-kelepek lihat mas Dimas yang hanya duduk seperti itu. Aku juga yakin, ibu pasti gak nahan lihat mas Dimas yang pintarnya kelewatan itu. Aku juga yakin, ayah pasti membandingkan dirinya semasa muda dengan mas Dimas, yang jelas berbeda.
Akhirnya mang Dadang datang membawa satu keresek pesananku. Kusimpan kue-kue kering itu kedalam Tupperware dan membawanya untuk mas Dimas. Setibanya aku di ruang tamu, mas Dimas langsung mengomel panjang lebar tentang tugasku yang salahnya keterlaluan.
Tentang aku yang menggarisnya kurang lurus lah, tentang angka nol yang lupa kutulis, tentang kesalahan tempat yang harusnya peralatan menjadi perlengkapan. Pokoknya panjang deh. Bukan hanya itu, dia juga mengajariku materi baru supaya nantinya saat guru menjelaskan aku sudah paham.
Lelah, dia meminum sirupnya. Mengambil beberapa potong kue. Kemudian mengobrol hal lain yang bukan pelajaran.
"Mas Dimas pernah pacaran gak?" tanpa berpikir ini-itu lansung kutembak dia dengan pertanyaanku.
Ia tersenyum dan lesungnya terlihat, aku suka. "Kamu kenapa nanya begitu? Mau jadi pacarku ya?" deg. Dia malah balik tanya dengan pertanyaan seperti itu, kalau aku gak sadar kan bisa saja aku mengangguk. Untungnya aku masih sadar, hanya terdiam sebentar.
"Ih, mas Dimas pede banget, aku kan cuman tanya, soalnya mas Dimas kalau di sekolah gak pernah ngobrol sama cewek sih,"
"Mas Dimas pernah pacaran?" tanyaku setengah kaget.
"Pernah ngobrol sama cewek, sama bu Rini, bu Wina, sama guru cewek yang lainnya," ia tersenyum sedikit, "sama kamu juga, aku kan pernah ngobrol sama kamu." lanjutnya.
Kenapa mas Dimas jadi begini ya? Aku kan jadi gak tahan ingin nusuk pipinya pakai pensil. "Hehe, iya ya, sama kak Hani juga pernah ya, sama anak PMR juga pernah ya, lupa aku,"
"Pernah pacaran atau suka sama orang gak?"
"Aku gak pernah pacaran," jawabku kemudian meneguk minuman jerukku "tapi pernah suka sama orang."
"Orangnya cakep, aku suka sama dia dari kecil, aku selalu ikut-ikutan sekolah bareng dia, baik, aku suka pokoknya," kataku memberi kode.
Ia terlihat berpikir dan seperti akan menebak. "Doni kan Nay?" dengan wajah datarnya ia menyebut nama Doni, teman kecilku, teman kecil mas Dimas juga.
"Bukan mas," elakku "aku sukanya sama mas Dimas, dari kecil aku mau sekolahnya sama mas Dimas, ikutan ekskul yang mas Dimas ikuti, ikut memilih jurusan yang mas Dimas pilih, aku gak pernah suka sama Doni dianya aja yang ikut-ikutan sekolah bareng aku, aku sukanya cuman mas Dimas." Jelasku kemudian menghela napas panjang.
"Makasih Nay," balasnya. Apa gak salah? Aku tadi menyatakan perasaan ke mas Dimas dan dia hanya bilang makasih?
Aku menoleh kearahnya yang sekarang sedang menatap ke tumpukan buku. Aku gak tau harus berkata apa, aku hanya bisa melihatnya. Aku gak habis pikir, segampang itu dia bilang makasih?
Ia menoleh kearahku, mata tajamnya menatapku, kemudian berkata, "Makasih kamu udah suka sama aku. Maaf, aku gak tahu. Aku mau fokus UN dulu Nay,"
Aku tidak lagi menatapnya, aku gak boleh nangis dihadapannya, nangisnya nanti aja kalau dia sudah pulang. "Kalau UN nya selesai, mas Dimas bakal suka aku?"
Dia menggeleng. "Setelah UN, aku mau fokus SBM,"
Aku tersenyum, dalam hatiku bertanya, fokus ke akunya kapan mas?
"Mas, kayaknya pr-nya selesai nih, makasih ya udah bantu aku," kataku mengalihkan pembicaraan.
"Aku pulang ya Nay," pamitnya, yang kubalas dengan anggukan dan senyuman.
Ingin nangis tapi mata gak mau nangis. Muncullah bayangan-bayangan ketika aku bersamanya sejak kecil dulu sampai sekarang ini. Aku ini bego atau apa ya? Berani-beraninya menyukai sosok Dimas yang sempurna, berani-beraninya menumbuhkan perasaan yang kurang ajar ini.
Sefokus itu kah kamu belajar? Aku ingin membencimu tapi aku tak mampu. Aku harus memasang wajah seperti apa ketika aku berjumpa denganmu di sekolah? Mas, emang aku salah ya suka sama kamu?
Harusnya perasaan ini gak tumbuh begitu aja, kalau perasaan ini gak ada mungkin aku masih bisa bercanda bersamanya. Aku ini bego atau apa?
Setelah pernyataan suka ku ke mas Dimas tersampaikan, aku menjadi jauh. Padahal, biasanya dia selalu menyapaku. Sejujurnya, aku masih suka, aku gak bisa mematikan perasaanku begitu saja. Sebetulnya, aku ingin kembali seperti dulu. Seharusnya, aku tidak menyatakan perasaanku padanya, biarkan saja.
Sampai tiba waktunya, dia akan menghadapi ujian nasional. Aku ingin menyemangatinya tapi, apa aku berani? Dengan keberanian yang aku kumpulkan setengah jam, aku keluar rumah pukul 06.00 sambil olah raga yang biasa saja karena tujuan utamanya adalah mas Dimas.
Pukul 06.15 mas Dimas keluar dengan seragam yang rapi, mengeluarkan sepedanya dan berpamitan pada ibunya. Kuberhentikan dia di depan rumahku.
Ya, aku menunggunya di depan pagar rumahku. Aku berhasil mengobrol dengannya meski sebentar.
"Mas, tungguuu!" kataku, lalu mas Dimas berhenti mengayuh sepedanya.
Tepat di depan pagar, dengan kaki kanan mengijak aspal dan kaki kiri menginjak pedal, ia tersenyum.
Kubalas senyumannya itu. "Mas Dimas semangat ya UN nya, pokoknya harus jadi yang terbaik!"
Ia tersenyum lagi, "Udah berhenti nih diemannya?" candanya diimbuhi tawa kecil yang manis.
"Ih, aku serius ih," balasku dengan wajah kesal tapi senang.
Ia menegapkan tubuhnya dan memberi hormat seperti aku memberi hormat padanya beberapa waktu lalu. "Siap bos!" ucapnya bersamaan dengan hormatnya.
"Hm, kamu libur ya, curang." Katanya.
"Iya dong, enak aku mah,"
"Jangan santai, belajar. Aku berangkat ya, nanti telat."
"Siap bos!" kemudian ia pergi, punggungnya semakin tak terlihat.
Aku tersenyum sendiri mungkin kalau ada orang lewat orang itu akan mengejekku gila. Ah, masa bodoh, yang terpenting hari ini mas Dimas banyak memberi senyum untukku.
Aku yakin, dia pasti menjadi yang terbaik pada UN tahun ini. Aku juga yakin, dia pasti akan suka aku pada waktunya. Biar saja kalau sekarang cintaku bertepuk sebelah tangan, toh tangan satunya sedang dipakai untuk menghitamkan LJKUN.