Tentang “Istirahatlah Kata-Kata”
Bulan Januari 2017 ini saya menonton film di bioskop sebanyak 4 kali. Untuk orang yang pelit dan hobinya copy film dari warnet, ini sebuah pencapaian tersendiri bagi saya. Bahkan, si Kikir ini rela nonton La La Land di hari Jumat, yang notabene harga tiketnya lebih mahal daripada hari Senin (yang ada promo Buy 1 Get 1 dan t-cash). Besokannya, saya nonton Cek Toko Sebelah. Iya, hari Sabtu. :”) Setelah La La Land, saya nonton XXX: Return of Xander Cage. Di sini saya baru tau ada aktris ganteng banget namanya Ruby Rose. Karena dialah saya berencana untuk nonton Resident Evil: The Final Chapter.
Film terakhir yang saya tonton bulan ini adalah Istirahatlah Kata-Kata. Sebuah film Indonesia yang bagi saya bukan sekadar film. Film yang berlatar belakang tahun 1996-1997 ini disutradarai oleh Yosep Anggi Noen berkisah mengenai Widji Thukul (diperankan oleh Gunawan Maryanto), seorang penyair dari Solo yang terlibat dalam berbagai aksi demo semasa Orde Baru. Meskipun ia cadel, kata-kata yang tertuang dalam puisi-puisinya membuat Thukul menjadi sosok yang ditakuti oleh pemerintah saat itu. Ia pun menjadi buron, pergi jauh meninggalkan keluarga. Berpindah dari rumah teman yang satu, ke rumah teman yang lain.Dari Solo, ke Pontianak.
Di Pontianak, Thukul awalnya tinggal bersama Thomas, yang rupanya seorang dosen. Kemudian, Thukul pindah ke rumah Markus, seorang Batak yang lari dari Medan karena dituduh menyulut demonstasi di kota tersebut. Di Pontianak inilah Thukul mendapat identitas baru, namanya menjadi Paul.
Scene favorit saya adalah saat Thukul dan Markus pergi untuk potong rambut. Di tempat potong rambut tersebut, mereka bertemu seorang perwira TNI. Karena beliau ini aparat, jd beliau diistimewakan. Dicukur lebih dahulu, padahal datang belakangan. Bahkan beliau berseloroh dengan si Tukang Cukur, kalau perwira itu tidak perlu bayar karena cuma bisa punya satu model rambut, jadi tidak perlu banyak model dan usaha ekstra.
Mengapa scene ini menarik buat saya? Dalam adegan ini, tidak ada backsound yang menunjukkan suasana mencekam, layaknya di sinetron. Namun, entah bagaimana saya seakan merasakan ketakutan Widji Thukul, seorang buron, justru bertemu aparat ketika ia akan potong rambut. Menurut saya, adegan ini menggambarkan betul bagaimana Orde Baru itu. Represif, Petrus (Penembak Misterius), militer yang berkuasa dan istimewa, ketakutan. Kepala tertunduk dengan muka yang tertutupi topi, Thukul tidak mau wajahnya terlihat oleh si Perwira. Menjadi lucu bagi saya betapa pertemuan itu bisa tidak terduga di tempat yang lebih tidak terduga. Sudah jauh-jauh bersembunyi, bertemu juga di tempat pangkas rambut.
Adegan yang tak kalah menarik bagi saya adalah adegan dimana Thukul memasang karet gelang pada pangkal pensilnya. Karet gelang ini ia pakai sebagai penghapus. Ia hapus tulisan sebelumnya, dan ia gunakan kembali kertas itu untuk menulis. Sungguh berbeda dengan era digital sekarang. Kalau salah, tidak perlu cari karet gelang. Cukup tekan tombol backspace atau delete. Bersih kembali.
Meski menjadi buron, Thukul tidak pernah berhenti menulis. Pemadaman listrik kala malam pun tidak menghalangi ia untuk merangkai kata di atas kertas. Di bawah temaram lilin, ia merenung, menulis, sambil ditemani tuak, hingga akhirnya tertidur di samping tulisan-tulisannya.
Berbeda dengan film-film Orde Baru yang umumnya mengambil sudut pandang mahasiswa, seperti GIE dan 98, atau aksi kekerasan militer. Film ini justru sama sekali tidak menunjukkan aksi kekerasan aparat, namun memperlihatkan bagaimana bermain-main dengan kekuasaannya.
Film Istirahatlah Kata-Kata ini wajib ditonton oleh masyarakat Indonesia sebab ia mengangkat tokoh grass-root, tokoh kelas bawah yang tidak duduk di bangku kuliah. Ia yang belajar dengan membaca berbagai buku, melahirkan kata-kata yang membangkitkan semangat berjuang rakyat Indonesia untuk melawan pemerintah Orde Baru yang otoriter. Ia hanyalah bagian dari rakyat kecil yang mengkritisi pemerintah saat itu, pemerintah yang lupa pada siapa ia harus mengabdi.
Karena “kemerdekaan itu nasi, dimakan jadi tai”, sudah selayaknyalah kita membuat bangsa ini merdeka dari rasa benci, iri, dan penuh dengan stereotipe. Kita sudah merdeka sebagai satu negara, kiranya janganlah kemerdekaan yang sudah dibayar dengan banyak darah ini menjadi sia-sia karena teror dan rasa haus akan kekuasaan. Saya rasa, kita tidak ingin kembali merasakan represi pemerintah di tengah zaman modern ini. Oleh karena itu, baiklah kita menjadi Indonesia yang dewasa dan senantiasa mawas diri.
Ini ada link video lagu Darah Juang yang dinyanyikan John Tobing. Lagu ini disiulkan oleh Sipon (Marissa Anita), istri Widji Thukul, ketika ia menerima kabar dari suaminya yang berjarak ratusan kilometer.
https://www.youtube.com/watch?v=mquySD7MC4c