Idul adha kali ini masih sama seperti tahun sebelumnya. Merasakannya di lingkungan pondok bersama teman-teman seperantauan. Namun, kisah indah yang selalu menginspirasi saat idul adha tiba adalah kisah yang sama, kisah yang selalu menarik untuk didengar dan diselami maknanya. Yaitu tentang keta'atan keluarga Nabi Ibrahim 'alaihissalaam. Aku suka sekali pada bagian saat beliau diperintahkan untuk menyembelih anaknya, dan sang anak menuruti titah itu. Maa syaa Allah. Mengetahuinya membuat diri ini malu. Malu lantaran perintah-perintah yang masih ringan saja kadang rasanya berat untuk melakukannya.
Berikut akan ku ceritakan ulang tentang keta'atan dari seorang Nabi yang dijadikan kekasih oleh Sang Maha Penyayang.
Tatkala seorang anak yang telah dinantikan lahir, sang ayah diperintah untuk meninggalkannya di padang tandus yang belum banyak penghuninya bersama ibunya. Betapa berat hati sang ayah melakukannya, namun karena itu adalah perintah Tuhannya, maka ia ta'at dengan titah sang Maha Kuasa.
Jadilah Ismail kecil bersama Ibunda berdua di padang gersang. Sang Ibunda bertanya-tanya mengapa suaminya tega melakukan hal tersebut kepada dirinya dan anaknya. Tapi setelah tahu bahwa itu adalah perintah Allah. Maka ia pun rela ditinggalkan di padang tandus itu. Ia meyakini bahwa jika memang itu adalah perintah Allah, Allah tak akan menyia-nyiakan mereka.
Beberapa waktu berselang, Ismail kecil menangis kehausan, sementara perbekalan sudah hampir tiba pada penghabisan. Maka naluri keibuan muncul dari diri ibunda Hajar. Ia berlari-lari kecil dari bukit shafa menuju marwa. Terus dan terus sampai pada tujuh balikan. Sementara dalam hatinya terus berharap semoga Allah berkenan menurunkan air untuk mereka minum. Hingga akhirnya terkumpulah air yang akhirnya menjadi air terbaik sepanjang masa. Ialah zamzam.
Waktu berlalu, Ismail kecil tumbuh dewasa. Hingga tibalah pada masa di mana ia bertemu dengan sang ayah. Namun pada pertemuannya itu sang ayah membawa titah Tuhan untuk menyembelihnya. Dengan tauhid yang kuat, Ismail menyetujuinya, ia merelakan dirinya untuk disembelih oleh ayahnya sendiri. Dari kepatuhan ini, maka Allah menggantinya dengan seekor hewan sembelihan yang baik.
Maka dari kisah agung ini kita sepatutnya merenungi kembali tentang makna patuh yang utuh yang membuat jiwa tetap teguh dengan berbagai ujian yang tak ringan. Ayahanda Ibrahim mencontohkan hal itu, tatkala ia tetap rela saat harus meninggalkan anak dan istrinya. Meski dalam naluri kemanusiaannya menganggap hal itu adalah hal yang berat. Ayahanda Ibrahim mencontohkan kepada kita untuk tetap patuh apa pun yang Allah titahkan. Maka ia tetap melaksanakan perintah menyembelih sang anak. Meski setan berkali-kali mengguncangkan keyakinannya, ia tetap berusaha untuk bisa melakukannya.
Ibunda Hajar mengajarkan pada kita tentang makna perjuangan dan kesabaran yang luar biasa saat ia harus berjuang menghidupi diri dan anaknya di padang tandus yang mereka tempati, di sinilah makna perjuangan terukir. Bahwa usaha kita tak boleh berhenti sampai Allah sendiri yang akan memberi hasil dari jerih payah kita. Ibunda Hajar telah mendidik anaknya dengan baik. Hingga ia tumbuh menjadi anak yang memiliki kesabaran luar biasa. Hebatnya, Ismail tak pernah membenci sang ayah meski dari sejak bayi ia ditinggalkan di padang tandus itu. Justru ketika ia bertemu dengan sang ayah dan ia harus disembelih, dengan patuhnya ia merelakan dirinya untuk itu. Inilah teladan tauhid yang kuat.
Maka pada 'idul adha kali ini bagaimana tauhid kita? Masihkah ia teguh seperti teguhnya keluarga Ibrahim dalam melewati ujian yang mengguncangkan keyakinan itu? Semoga begitu, semoga Allah senantiasa menguatkan hati-hati kita untuk tetap teguh di atas agamaNya.Dari waktu ke waktu, idul adha mengajarkan kita makna keta'atan yang sesungguhnya. Makna pengorbanan yang akan mengantarkan kita pada kedekatan dengan Allah SWT.
Semoga setiap idul adha, kita bisa mendekatkan diri dengan berqurban. Jika tahun ini belum tercapai, semoga tahun depan dimudahkan.
Semoga kita juga mampu menjadi insan yang dapat mencontoh teladan-teladan Nabi dan Rasul serta salafus sholih dalam meniti berbagai hidup ini. Aamiin.