Qurbankan Apa yang Kita Cintai
Momen apa yang dicintai dalam momen qurban?
Anggaran untuk membeli hewan qurban?
Dokumentasi untuk eksistensi?
Waktu sibuk hingga tak sempat menjadi saksi?
atau Ilmu dan tenaga yang mencari apresiasi?
Mencari hewan Qurban larut berhari - hari
Tanya sana, tanya sini
Kunjungi peternakan sampai lima kali
Hingga foto kambing dan domba memenuhi galeri.
Dan akhirnya hewan qurban terpilih dan tiba di lokasi.
Esok hari dalam perjalanan, ban motor bocor dan harus terhenti.
Beberapa tambal ban masih tutup, karena hari masih terlalu pagi.
Alhasil menyebabkan diri tak bisa tepat waktu tiba di lokasi.
Sempat ia berpesan untuk hewan qurbannya tak dulu disembelih, karena ia telah beli bilah golok yang digosok untuk menyembelih hewan qurbannya nanti.
Namun sepertinya panitia tidak bisa bersabar karena ada waktu yang harus dikejar, sementara dia masih jauh dari lokasi tanpa ada waktu pasti..
Setelah tragedi “kehilangan” uang dan atm, yang ternyata hanya ia lupa lokasi.
Satu, dua, tiga tambal ban mereka lewati dengan jalan kaki.
Perjalanan akhirnya dapat ditempuh kembali.
Ia mengemudi, temannya mengarahkan navigasi.
Seketika dalam perjalanan sang navigator mendapati pesan:
“Bro.. sorry, udah beres, harus kejar waktu, dzuhur harus beres.”
Seketika ia mengemudi dengan pikiran kosong..
Kok bisa hewan qurbannya disembelih tanpa nya?
Padahal hewan qurban itu "miliknya” yang ia beli dengan uangnya sendiri, secara logika dia bisa saja batal qurban disana dan mengambil kembali hewannya pergi..
Ingin rasanya ia membalas pesannya dengan kekecewaan.
Geram rasanya ingin marah.
Ingin rasanya menunjukan kesalahan2nya.
Betapa keliru keputusannya.
Namun renungan dalam perjalanannya masih dapat membendung luapan emosinya.
Apakah mungkin ini esensi Qurban pada hari raya Idul Adha kali ini?
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menginfaqkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu infaqkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”
(QS. Ali Imran: 92)
Sejatinya hewan qurban itu milik siapa?
Apa yang sebenarnya kita Qurban-kan?
Sehingga, satu patah kata pun tak ia balas pesannya,
Ia ingin peluk sahabatnya yg mengambil keputusan,
seraya berkata: “Maaf aku datang terlambat, apa yang bisa aku bantu?”
Tanpa ingin merusak suasana.
Pasalnya penduduk kampung sana konon 2 tahun terakhir tak ada satupun menyelenggarakan qurban.
Sehingga sungguh tak layak ia persoalkan hal siapa yang menyembelih dan tak ada kehadirannya dalam proses penyembelihan. Walaupun sesak ia rasa.
Mungkin memang itulah yang ia cintai, yang pada kali ini yang harus ia qurbankan.
Sementara luapan kekecewaan, amarah, dan kekesalan, tak akan membuat hewan itu hidup kembali dan mengulang hal yang telah terjadi, justru hanya akan memperkeruh situasi.
Seperti apakah qurban yang sejati?
Apakah sebatas transaksi jual beli?
atau hanya ritual seremoni?
Sudahkah kita mengQurbankan apa yang kita cintai?
Seperti Nabi Ibrahim & Siti Hajar yang mengQurbankan anaknya sendiri, atau Nabi Ismail yang mengQurbankan dirinya sendiri yang jelas mereka cintai, atas dasar keta’atan semata untuk Illahi Rabbi..