Percayalah tuan, itu bukan sepitnya si Borneo yang tertambat di dermaga sungai Kapuas, karena itu memang bukan sepit. Dan akupun bukanlah nona Mei, si gadis sendu menawan di antrian tiga belas yang kehadirannya selalu di nantikan. Di cari saat menghilang dan di tanya kenapa saat menghindar.
Juga tulisanku bukanlah ibarat Zainudin bersama bibit kecewanya yang tumbuh mekar menjadi bijaksana
Lalu pergi jauh
Merantau di sana
Menyibukkan raga
Melupakan lelah
Menyingkirkan luka
Melepas tangis dan tawa
Sirna
Dendam amerta
Penyesalan tenggelam di lautan samudera
Pun, bukanlah hayati
Yang kau menyangka bahwa
Wanita selalu terpikat dengan banyaknya harta
"""""""""""""""""”"""
~Seorang pejalan kaki yang tidak tau cara menyebrangi jalan~
واتقوا الله ويعلمكم الله
___________________________
_Merantaulah, orang berilmu dan beradab tidak berdiam diri di kampung halaman_
he loved her like the ocean loved the shore desperate, unwavering, always returning no matter how many times he was sent away. but love, he learned, was not always a force that brought two souls together. sometimes, it was the weight that dragged him under, deeper and deeper, until all that remained was longing.
a love forbidden,
she was the dream he could touch but never hold, a love written in the language of tragedy. the world had decided for them long before their hearts could, love was never theirs to claim, only to mourn in the quiet spaces between what was and what could have been.
his silent grief,
he stood by the sea, the waves crashing like the echoes of his own sorrow. love was supposed to bring warmth, yet all it left him with was a cold, endless ache. he had lost her, not to time, not to distance, but to a world that had never been kind to hearts like theirs.
the cruelty of fate,
they had built dreams upon the fragile foundation of hope, believing, for a moment, that love could defy the rules of the world. but fate is a cruel thing, merciless in its judgment, and in the end, all they had left were broken promises and the taste of tears on their lips.
what remains.
long after the waves had swallowed the past, his love for her remained, woven into the salt of the sea, in the hush of the wind that whispered her name. love did not die; it simply became something unseen, lingering in the spaces where she once was, where she should have been.
Reposted from @faarizmi Kalau kita peduli dengan nasib akhirat kita, maka kita akan berpikir berkali-kali untuk berbuat maksiat. Sebab, kita tak ingin mengorbankan akhirat yang abadi demi dunia yang hanya sebagai persinggahan bagi kita . Support kami agar tetap semangat menebar konten Islami. Silahkan DM untuk saran atau masukan buat kami @faarizmi demi perkembangan konten dakwah Islam ➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖ 📷 Picture : https://images.app.goo.gl/rcrYeejpyzRf6f997 🔊 Audio : https://www.instagram.com/p/B_sVSedB6CJ/?igshid=3ws2ci6o3d2y 🎬Kreator Video : @muhamadfair_ ➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖ #khzainuddinmz #khzainudinmz #zainuddin #zainuddinmz #almzainuddinmz #ustadzzainuddinmz #ustadadihidayat #ustadzabdulsomad_official #ustadzfelixsiauw #ustbudiasharilc #faarizmi #negeriakhirat #akhirat #akhiratselamanya #duniaislam #duniasementaraakhiratselamanya #islambertauhid #islampost #islamrahmatanlilalamin #islam❤️ #dakwahsosmed #hijrahistiqomah #hijrahsquad #politikkotor #politik #politikislam #sekularisme #demokrasisistemkufur #pemimpinislam #jokowidodo https://www.instagram.com/p/CFyg9uMBEri/?igshid=1b3mm6ami7p5e
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck : Roman Masyhur Karya HAMKA
Memasuki periode liburan semester, kejenuhan menghampiri saya. Entah mungkin tersebab sibuknya diri, hingga lupa rasanya nikmat mendaras buku-buku “berat”. Padahal sejatinya, waktu di mana tidak ada beban akademik adalah waktu yang tepat untuk merampungkan bacaan-bacaan yang tertumpuk di sudut ruangan. Maka saya pun mencoba mencari cara untuk mengembalikan semangat ini, yakni dengan mencoba menikmati karya fiksi berbentuk novel atau sejenisnya. Terpilihlah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya HAMKA yang telah masyhur di Indonesia, utamanya semenjak kisahnya diangkat dalam layar lebar beberapa tahun silam.
Dari segi latar belakang penulisnya, novel ini menarik karena dikarang oleh salah satu ulama besar di bumi Melayu. Suatu perkara yang jarang dijumpai mengingat novel ini berbau roman. Pun HAMKA dalam kata pengantarnya mengakui bahwa tidak lazim sebuah roman lahir dari tangan seorang ulama, Namun faktanya, roman ini begitu disukai sampai-sampai banyak pula yang berharap pada beliau untuk menghasilkan karya sejenis.
Masuk ke inti cerita, nampaknya kisah Zainuddin dan Hayati menjadi satu kisah yang memilki kedalaman makna tersendiri. Dimulai dari latar belakang Zainuddin yang terombang-ambing karena nenek moyangnya yang bercampur. Di tanah ibunya di Mengkasar ia merasa menjadi orang luar, pun di tanah Batipuh, di negeri asal ayahnya, ia dianggap orang asing. Roda cerita berlanjut menuju pertemuannya dengan Hayati, salah satu gadis yang acapkali menjadi perbincangan pemuda di Batipuh. Di titik inilah hidup Zainuddin dan Hayati mulai mengalami pasang-surut sampai berujung pada peristiwa yang tertulis di judul karya ini, “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.” Barangkali bukan tempatnya bagi saya untuk menceritakan lebih dalam mengenai kisah ini, biarlah para pembaca sekalian yang membacanya sendiri, biarlah kalian yang merasakan naik turunnya perasaan selama memaknai kisah mereka berdua.
Beranjak ke segi bahasa, penggunaan Bahasa Melayu sebagai ruh dari roman ini sangat mempesona bagi saya. Tak diragukan lagi, HAMKA memang seorang sastrawan ulung. Susunan bahasa dan diksi-diksinya agaknya sudah jarang kita jumpai di dalam khazanah kepenulisan Indonesia. Namun sebagai seorang yang mulai tertarik dengan sastra Indonesia lama, saya pribadi pun sedikit banyak terpengaruh oleh karya-karya beliau perihal kepenulisan. Ah, mengingat hal ini, ingin rasanya kembali berbincang hangat dengan kakek saya ihwal perkembangan dunia sastra dan “kematiannya” akhir-akhir ini, semoga kami masih diberikan waktu kembali.
Terakhir, saya sangat menyarankan novel ini untuk dibaca oleh “para angkatan muda”, yang masih bergelora jiwanya. Bacalah perlahan dan resapi makna-makna hidupnya. Karena tak diragukan lagi, HAMKA bukanlah sosok sembarangan yang menuliskan suatu roman dengan maksud demi kesenangan belaka.
Selanjutnya, saya akan mencoba mendaras karya HAMKA yang lain, yakni Peladjaran Agama Islam. Semoga hajat ini dapat terlaksana dan dapat saya tuliskan sepatah dua kata untuk saya bagikan kepada segenap pembaca sekalian.
Yogyakarta, 27 Desember 2019
Dan Yusuf, meresapi sastra lama ulama Nusantara
Enam Pelaku Tertangkap, Kasus Asmara Berujung Maut Zainuddin Semakin Jelas
MALANGTODAY.NET - Para pelaku dalam kasus pembunuhan Zainuddin (22) sudah tertangkap. Saat ini, mereka sudah diamankan jajaran Polres Malang. “Iya betul sudah tertangkap semua. Insyaallah besok (04/09) akan kami rilis,” kata Kapolres Malang Kota AKBP Hoiruddun Hasibuan, beberapa saat lalu. Sebelumnya, petugas terlebih dahulu berhasil mengamankan AS, di kawasan Kedung Kandang, Kota Malang, Rabu (30/08) malam. Hal ini berdasarkan keterangan para saksi dan oleh TKP yang dilakukan penyidik. Setelah itu, kepolisian mengantongi nama – nama pelaku lain atas tewasnya Zainuddin di Kebun Tebu, sekitaran sungai Amprong (Rolak), Kedung Kandang, Kota Malang itu. “Ada enam orang, nama – namanya nanti kami sampaikan dalam rilis,” jelas Kasubbag Humas Polres Malang Kota, Ipda Made Marhaeni. Seperti diketahui, kasus ini tengah menjadi perhatian publik karena terdapat luka gorok pada bagian leher Zainuddin. Kuat dugaan, kasus tersebut terkait masalah asmara korban berpacaran dengan istri orang.
Tewas Karena Leher Digorok, Ini Pengakuan Adik Korban
Korban dugaan pembunuhan yang tergeletak di Kebun Tebu, RT 01 RW 06 Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Rabu (30/8) pagi tadi telah diketahui identitasnya