Hhhh Hh.. Hhhhhh.. H.. Hhhh hh Takut untuk sendiri. Takut untuk selalu membohongi diri. Bahkan takut, membuat seseorang menjauh karena diri sendiri. Takut. Capek. Sedih. Gak berguna.

Andulka

No title available
ojovivo
Xuebing Du

pixel skylines
hello vonnie
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
we're not kids anymore.

Origami Around
Keni

★

Kiana Khansmith
Three Goblin Art
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

ellievsbear
🪼
Sweet Seals For You, Always
Claire Keane
Game of Thrones Daily
$LAYYYTER

seen from Germany
seen from Brazil
seen from Netherlands

seen from Singapore

seen from Greece

seen from Singapore

seen from Singapore

seen from United States

seen from Singapore

seen from United States
seen from France
seen from United Kingdom
seen from Netherlands
seen from Brazil
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from France

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from Brazil
@toschared
Hhhh Hh.. Hhhhhh.. H.. Hhhh hh Takut untuk sendiri. Takut untuk selalu membohongi diri. Bahkan takut, membuat seseorang menjauh karena diri sendiri. Takut. Capek. Sedih. Gak berguna.
Batas Imaji
Selalu ada gusar di selip debar jantung nada kau, tuan.. Mengerling senantiasa haru, remang dalam lampu kamar yang mana aku sendiri.. Sibuk merapal doa dengan iringan syahdu gemercik hujan di luar sana.. Duhai, sayangku.. Aku rindu.. Andai dalam hening ini aku dapat memelukmu erat.. Mendampingi malam ini, hingga esok sang fajar tiba dengan malu malu Saat itu, kita masih sama sama terpejam hangat, Lelap, di balik selimut …. 🌹🍃🌇
Belum pernah saya melihat, dua orang yang tidak sempurna saling menyalahkan dirinya, merasa begitu gak berguna, berontak dalam kesepiannya, serta berjalan mencari bahu sandarannya. Diakah seorang penyendiri dengan rasa gusar? Atau kau, si pengutuk diri dengan seribu bahasa ketegaran yang akhirnya terkikis oleh air mata.. Rangkul mereka, wahai pemeluk hati 💙
Kadang ya kadang rasanya gak berguna.. Apa karena sudah terlalu banyak mengecewakan orang lain? Perih ko ya rasanya.. :‘
Uhm..,
Lo tau bipolar? Yes. Gue kenal istilah itu dari tv. Akhir yang cukup rumit :( karena entah gimana, gue ngerasa aja ada indikasi mendekati hal tsb. No, gak seburuk apa yang lo bayangkan, atau yang lo pernah dengar ceritanya dari si tabung elektronik itu. Gue cuma pengen share, mungkin dengan begini semua yang menjalar gak karuan di otak gue bisa sedikit normal kembali. Oh yeah.. Belakangan gue baru sangat menyadari, kalo diri gue tuh ya rasanya random banget. Bisa hepi, karena gue berada di lingkungan yang mendukung, bertebaran ion positif dari orang orang terdekat. Biasanya bercanda, dan bisa deket sama Kamu tuh, yang bikin nyaman dan melonggar segala urat atau persendian ini. Pokoknya hepi kalau udah ketemu sama hal-hal yang penuh keberhasilan dan keceriaan. But im so sad..even somethin’ - yang gak seharusnya terjadi itu, bisa seketika menjalar dan merubah semua sistem energi yang ada. Gue ngerasa sepi, sedih, dan gak tau harus gimana cara berhentinya.. walau gue gak pengin nginget kejadian sebelumnya - yang padahal terdakang masalah itu gak seharusnya begitu gue masalahkan. Yes, gak penting kadang.. Sepele, bahkan sampai pada hal bercanda, tapi mungkin bisa ngaruh ke syaraf sensitif gue.. Semakin gue menenangkan diri, yang gue rasakan itu justru semakin sedih, sesak, makin kepengin nangis.. Coba aja ya, ada Kamu terus di deket aku, suerlah..i really need Your hug in thats moment :’( Sekalipun sedihnya karena Kamu, harusnya dan biasanya gue bisa gampang berhenti gak mikirin itu. But, bukan karena gue mau memperpanjang persoalan.. masalahnya gue yang versi normalnya itu, baliknya susah lagi. Seriously, even i feeling sad cause you, but i never want you are go, apalagi diam membisu.. :’( Walaupun gue udah membuat Dia kebingungan dan capek karena harus menghadapi gue yang kayak gini, entah kenapa egoisnya gue gak pengin dia kebawa emosi.. sumpah ya, gue pengen banget gitu rasanya bilang.. i really need your hug, your smile, your laugh, meskipun gue masih keukeuh susah berhenti nangisnya… gue pengen terus deket Dia, sampe bener bener reda.. itu ya kalau emang Dia ada deket gue beneran. Mungkin bisa sampai gue ketiduran dan capek sendiri kayak anak bayi.. But, its can be problem. Even him nothing here.. Ya gue mau gimana? Gue cuma bisa bikin Dia tambah stres.. sedangkan gue lagi susah kontrol dengan mood yang gue pun gak ngerti harus gimana balikinnya. Gue cuma harus nangis sampai benar benar air mata itu berhenti sendiri. Sure, gue alamin itu bahkan sampai sesegukan. Seakan gue benar benar merasakan sedih yang sangat dalam. Entah karena apa, air mata itu jadi gampang banget buat menetes. Bahkan oleh sebab hal yang sepele banget, dan harusnya gue gak mengeluarkan air mata dalam momen tersebut..itulah kenapa, gue menganehkan diri gue sendiri akhir ini. Setelah benar benar lega, kondisi gue pun akan kembali seperti biasa, dengan kepala yang pening karena harus menangis dalam waktu yang gak bisa juga dibilang sebentar. Karena di saat gue udah mau berhenti, rasa sedih itu bisa seketika muncul lagi -_- Yang bingung itu, kalau gue lagi di depan umum, lagi ngobrol bareng temen. Sampai gue bisa ketawa sambil menitikan air mata, yang artinya..itu sangat gak seharusnya gue lakukan, seakan akan gue cengeng, tapi gue pengen banget gak ngelakuin itu..dan akhirnya gue keketawaan sendiri gak jelas demi mempertahankan biar gue gak sedih, gak ngeluarin air mata. Tapi ternyata, jadinya malah nangis sambil ketawa =_= Di samping itu, kadang gue berasa jadi sosok yang paling tegar dan kuat. Bisa tahan sedih di momen yang emang benar lagi sedih. Fungsinya apa? Entahlah..karena gak mau dibilang cengeng, atau emang gak mau memperkeruh keadaan di depan orang yang juga lagi sedih. Masa iya entar jadi sedihan berjamaah? :( sedangkan, apa fungsinya gue kalau gitu.. gue juga pengin saling menguatkan dan menenangkan.. So, i really need you Mr.Adi … ({}) jangan pernah lelah dan bosen yah sampai nanti. Mungkin sedih ini juga sebab rindu kita yang belum dapat seutuhnya menggenapi :* :’) ({}) miss you soo *abaikan jika penutupnya oot* :'(
Berkelana, numpang lewat, besok juga pulang. Sendiri lagi, sepi. YaAllah..ya robb.
Gemuruh, berdecakan bagai riak air hujan di luar sana. Ritme yang selalu begitu, sejak mata berpura seakan baik saja. Piye kabare? Kamu sehat? Terima kasih, untuk sekian kalinya.
Jika debu itu seringkali membuatmu sesak, maka debu itu memang pantas kau hapuskan.. Ya, mungkin takdirnya hanya sebatas debu. Biar dia terhempas dan berlalu.
Jika kesalahan adalah tempat manusia, jika ketidaksempurnaan sejatinya itu kita, maka aku tidak akan beranjak. Mari beriring sejalan, agar kita bisa merasakan kesempurnaan berdua. Tentu, yang lebih baik dari hari ini
Tak ada alasan untuk bisa menyukai, tak pula hadir pilihan untuk membenci. Pergi ke mana pun, jawaban akan berlalu sama. Kaukah yang ingin kutemani hingga senja nanti?
Jika saja selama ini tanyaku mengganggu, jika saja resahku ini enggan kau dengar lewat ketidakmengertianku, dan jika diam adalah jawaban yang kau tunggu.. Maka aku hanya akan menelan bulat bulat keresahan itu. Agar pertanyaanku tidak lagi mengusikmu saat kau sedang bersedih.. Hm, jika kau tak peduli. Maka aku coba untuk enggan bertanya. Walau diam itu rasanya seperti tertusuk duri. Hingga, air matakupun saat ini sedang berusaha menyamaimu untuk tak peduli .. Aku bilang saja pada hatiku, kalau aku mengerti.
Begitupun, angin menerbangkan doa doamu. Doa mana yang sampai lebih dulu? Harapku, hanya ingin beriring denganmu menujuNya, atau khusnul khotimah..
Langit di Penghujung Tahun
Selamat malam. Hai, langit. Sapaanku ini akan selalu memelukmu ketika rintikan air langit turun membasahi bumi. Aksaraku senantiasa mengecap setiap jengkal kulit tubuhmu dan sentuhan jemari yang haus menggenggam. Spasi ini menjejak jarak tiap kata dalam kalimat untuk ruang yang tak pernah habis merindumu. Oh, ya Langit. Aku memanggil namamu, membisik, membias haru, membayang langit pagiku hingga senja akan bersamamu. Walau jauh, aku tahu kau yang kerap memayungiku. Walau rapuh, aku yakin kau tersenyum manis untukku di senja waktu. Langit sang penghangat dan peredam keluh yang sesekali geram melihat tingkah menyebalkanku. Namun dia, langit.. tetap bersimpul penuh cinta merangkul setiap puing asa dan cita yang tak akan tergerus waktu. Kamu, Langit.. Bersama waktu, kepingan mimpi kan tersusun syahdu. Menyembulkan sinar keniscayaan baru dengan damai dan utuh. Ya, benar benar utuh bersamamu.. Aku Yang selalu ingin mendekapmu, Bintang.
Aku tidak sanggup mengeluhkesahkan di hadapanMu. Malu untuk meminta, lemah dalam menghamba. Sujudku dan istighfar ini, terimalah..Allah
Kutipan Malam
“Jika mencintaimu adalah dalam kesalahan, maka aku tidak akan lantas diam. Aku ingin bersamamu menujuNya, mencintaimu melalui kebenaran itu. Mau, kan?.. Ayok, ” #MenunggumuUntukHalal ({})
Untukmu, cerminanku
"Ketika aku menghilang, bukan padamu sungguh. Ya, akun hanya marah dengan diriku sendiri. Bukan marah padamu.." Di balik diam pun, kalimat lain terus saja selalu membisik sama. "Ketika belum mampu menyempurnakannya, kamu hanya bisa berdoa, dan tetap menyukainya dalam kata sabar yang tiada batasan.." Aku tak pernah menyimak seseorang yang lebih menenangkan dari itu, terlebih sosok yang lamat kuperhatikan dapat sesabar dan seindah itu kalimatnya. Hm, menyejukkan. Tapi, kukira lihat implementasinya. Kurasa aku hanya sebagai batu sandunganmu yang kerap membuatmu terjatuh. Yang seringnya membuatmu patah, lalu bersedih. Tidakkah aku terlalu bodoh? Tidakkah aku hanya si pembuat onar? Aku tak pernah memaksa untukmu bertahan. Tapi melihatmu bertahan, tentu aku sangat menyukainya. Entah, aku tak dapat menjelaskannya. Mungkin, sisi lain bercerita aku menyukai akan sosok yang dapat menerima lebih kurangku. Aku bisa apa? Hanya sesosok yang banyak cela. Yang baru saja kemarin bangkit berdiri dari jahilia. Itupun kurasa aku masih terlalu lengah untuk dilepas. Masih terkungkung ego yang seharusnya aku melawannya. Ya, musuh terbesarku. Aku sendiri. Kadang merasa lelah. Karena apa? Karena mungkin aku terlalu banyak mengecewakan sosok yang selalu beritikad baik padaku. Aku kerap kali abai, tak begitu memahami akan karakter dasarnya. Tapi tunggu, sebenarnya aku ini mau mempelajarimu. Aku sedang berproses mengerti rangkaian benang kusut yang ada di pikiranmu. Terakhir, padamu selalu kuhaturkan maaf. Aku tidak bisa membalas kebaikanmu. Perhatian maupun ketulusanmu yang dalam. Tapi yakinlan, semua indah bukan untuk hari ini. Kau boleh buatku jatuh cinta berkali-kali yang bukan hari ini. Dan aku akan menjadi hak ku untuk mendekapmu erat-erat, hingga tak kan kuizinkan sedetikpun pandangmu berlalu ke arah lainnya. Ya, akhir kata Jika memang sosokmu ini lebih banyak membuat luka, Lebih baik kau tenang dalam sendirimu. Hingga waktu yang akan kembali memberi jawaban. Akankah kita bertemu di hari yang benar sama didoakan itu? Semoga sabarmu menjadikan rasa itu dapat lebih damai dalam diam. Menunggu sampai benar aku halal bagimu.
Selalu ada cara dan waktu yang lebih tepat untuk mengungkap. Bukan sebab menyembunyikan. Pada hati, yang lebih tahu kemana dia harus berpulang. Hanya terus diam dan bertanya. Kaukah itu, di sudut pintu?