Belakangan, belajar sungguhan untuk tidak begitu peduli bagaimana orang menilai dan memandang diri ternyata bermuara di ketenangan.
Apapun itu Tuhanku dan akulah yang persis tahu keseluruhan isi lakon dan bagaimana segenap emosi yang bergejolak di setiap denyut rasanya.
Di kebanyakan yang terjadi, kujalani dengan keluh yang membisu, bahkan tangisku pun sama kerapnya tak bersuara.
Untungnya ada rasa syukur dan keikhlasan yang mesti disengajakan sebagai bentuk penghiburan untuk memampukan diri terus bertahan.
Dari sudut pandang pribadi, hidup ini didominasi kisah sedih, pilu dan tidak adilnya. Tapi untuk hidup yang sudah dipercayakan, aku tetap memilih menjalani berdasarkan nurani yang masih ada walau nyatanya sudah mati rasa. Tetap percaya Tuhan itu baik dan selalu demikian adanya.
Batam, 04 September 2024
19.13 WIB











