Sejak Ziyan lahir, duniaku berputar di situ-situ saja: bangun pagi, memandikannya, menyusui, menimang dan mempersiapkan stok ASIP untuk kembali bekerja. Kegiatan yang kulakukan setiap hari. 24/7.
Ketika lelah dan rasanya ingin menangis sejadi-jadinya, aku selalu ingat nasihat Ibuk “Sebentar aja, nanti juga lupa capek-capeknya.”
Sejak kembali bekerja, semuanya dimulai lebih pagi. Sekarang aku paham kalimat yang dulu dikatakan orang-orang “Ibu adalah manusia yang bangun paling pagi.”. Hari ini aku bangun jam 3 pagi, terbangun karena harus pumping. Hari ini, lumayan aku bisa tidur sebentar sambil menunggu suami sholat subuh.
Ada banyak perasaan yang tidak bisa kusampaikan detilnya kepada orang lain. Kurasa hanya sesama ibu saja yang paham. Aku sedih, tapi juga bahagia dan bersyukur. Kadang aku mengeluh lelah, tapi rela melakukan banyak hal di waktu yang bersamaan (menggendong sambil mempersiapkan masakan, menimang sambil makan). Aku jadi mudah marah, meskipun aku sebenarnya tidak bermaksud demikian. Perasaanku campur aduk. Pikiranku (yang memang sudah sejak dulu penuh) sekarang semakin penuh saja, berjejalan. Kemampuanku menggunakan kaki untuk mengambil dan mengatur penempatan barang pun meningkat drastis.
Ada banyak yang kupahami setelah menjadi Ibu. Sekarang aku paham kenapa Ibuk dulu juga mudah marah dan cerewet. Sekarang aku paham kenapa perut Ibuk kendor. Sekarang aku paham kenapa untuk bangkit dari duduk saja Ibuk merasa kesusahan. Sekarang aku juga paham kenapa Ibuk dulu sudah lelah dan mengantuk meskipun baru pukul 9 malam. Ternyata, harinya sudah dimulai ketika kami masih tertidur pulas.
Sekarang aku juga paham bahwa seorang ibu adalah manusia paling sabar dan pemaaf. Tidak banyak yang diinginkan seorang ibu: semoga suami dan anaknya sehat dan bersedia memaklumi segala kekurangannya.













