Tak jarang, ramai yang paling semarak menyuguhkanmu sepi. Sementara sunyi yang paling senyap menghadiahkanmu gegap-gempita di hati.
Semoga, Sang Maha Hidup memanjangkan hidupmu dalam kebaikan, selalu.
h
Keni

tannertan36
styofa doing anything
DEAR READER

oozey mess
NASA
Monterey Bay Aquarium
sheepfilms

shark vs the universe
Cosimo Galluzzi

titsay
Misplaced Lens Cap
YOU ARE THE REASON

JBB: An Artblog!

No title available
i don't do bad sauce passes

Discoholic 🪩

No title available
Show & Tell

seen from Ireland
seen from Germany

seen from Singapore
seen from Indonesia

seen from United Kingdom

seen from T1
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from China
seen from United States

seen from Belgium

seen from United States
seen from Guatemala
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Argentina
seen from Philippines
@utarimutiaa
Tak jarang, ramai yang paling semarak menyuguhkanmu sepi. Sementara sunyi yang paling senyap menghadiahkanmu gegap-gempita di hati.
Semoga, Sang Maha Hidup memanjangkan hidupmu dalam kebaikan, selalu.
Banyak hal kau temui, tak seluruhnya perlu turut disaksikan berpasang mata lainnya. Tentu, banyak pula yang kau alami, dan tidak semuanya harus dijabarkan pada telinga-telinga biasa.
Seringnya Selalu, sepotong kalimat sudah lebih dari cukup:
"حَسْبِيَ اللهُ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ"
QS. At-Taubah: 129
"Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung."
Sudah tujuh kali pagi ini?
Beberapa hal berat ditumpahkan dalam aksara agar mengalir jutaan rasa, mereduksi massa. Sementara sebagian yang lain memilih untuk menetap lebih lama, enggan menjelma goresan kata atau suara. Ia, perlahan, hanya menambah massa dalam benak.
Barangkali, ini hanyalah bab lain dari pelajaran Seni Menunggu.
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allaah hati menjadi tenang.”
QS. Ar-Ra’d : 28
Februari ‘F’ nya apa ?
Fa inna ma‘al-‘usri yusrā
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
"fabiayyi ala irobbikuma tukadziban”
Fa idhaa faraghta fanshab.
Wa ilaa rabbika farghab.
(bisaa....biar move on)
Falyatawakkalil mu'minun..
"Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal."
Menemukan kedamaian dalam janji-janji Nya..
Fashbir shabran jamiilaa
Jadi WNI yang apa apa sulit, sabarnya harus elit 🤣
Fa alhamaha fujuraha wataqwaha
.... dibaca depan pemerintah biar dapet hidayah.
“Fafirruuuu ilallaah…”
“Maka segeralah kembali kepada Allaah… “
QS. Adz-Dzaariyaat: 50
Ada hari ketika ungkapan “memang ga rezeki” menjelma menjadi sesuatu yang amat menyesakkan.
Ingin sedikit melipur hati dengan bakso Malang, mas-masnya tak jualan. Banting setir menuju gado-gado, tukangnya pun tak ada. Teringat soto kwali Klaten, lapaknya sudah digusur.
Makin nyesek? Alhamdulillaah, enggak. Rabbku Maha Baik.
Dengan pertolongan-Nya, setiap kecewa selalu bisa diolah menjadi sebuah kesyukuran. Walau bukan dengan asbab yang sedari awal direncanakan.
Karena di balik perjalanan baik yang tak bersambut, hingga berujung mondar-mandir mencari “pelampiasan” siang ini, Allaah justru menuntunku untuk berhenti sebentar. Duduk di kursi kemudi dengan lebih sadar, bahwa yang lapar bukanlah perut, melainkan jiwa yang entah mengapa sempat merasa perlu mencari “penawar” dari luar, padahal sejatinya ia tahu ke mana harus kembali.
Melalui istirahat sejenak, menarik napas lebih dalam, lalu menghembuskannya perlahan dengan mindfulness yang diupayakan. Mungkin bisa beberapa kali, jika memang dibutuhkan.
Pada akhirnya, segala hal berat yang diterima hanya perlu dititipkan kembali kepada-Nya, dalam tengadah yang penuh percaya.
February 13, 2026.
Jumu’ah Mubaarak, 25 Sya’ban 1447 H
Satu di antara banyak frasa yang mengawali kalimat-kalimat bertanda tanya itu adalah
“Sejak kapan…?”
(Hampir) Tiga Puluh Tiga
Rasa-rasanya, beberapa pintu di bangunan hipokampus telah rapat terkunci.
Sebagian ingin sekali diketuk lagi dan lagi, seperti memanggil sebuah nama di masa kecil yang melengkapi cerah sore dan hangatnya hati. Ini tentang mata kecil yang berbinar pada pintu yang tak bosan ditatap.
Ada juga keping ingatan yang bertamu sendirian, layaknya sebuah judul yang tak bisa penuh disebutkan. Padahal dulu ia utuh dalam rupa. Namun kini terlalu abstrak, tak teraba.
Tetapi, ada pula memori yang tak ingin di-recall, entah karena trauma atau alasan lain yang tak menemukan kata-kata. Di hipokampus, kenangan itu ingin kau simpan rapat dengan kunci paling kuat. Ia ingin tetap tersimpan tanpa digentayangi penasaran.
Sebab, beberapa hal dipahami: kapan harus berhenti.
Semangat menuju bilangan yang jika dibalik pun tak akan membuatmu seolah lebih muda. Selamat datang di masa saat krim analgesik rasanya lebih dibutuhkan daripada krim anti tua. Namun, biarkan tubuhmu tetap memilih untuk lebih cepat mengingat bahagia dibandingkan dengan nyeri-nyeri yang terasa. Kemudian, pastikan, bertambah-tambah kebaikan dari-Nya menjadi harap terbesar yang bermukim di dada.
Bandung di awal 2026, mengutip puzzle kenangan September sembilan tahun silam.
Jantung Jelata
Kami terbangkan jutaan semoga yang saban hari diinjak negara
Ringkih dengan sayap asa yang acap kali dipatahkan pemangku kuasa
Kami telan paksa titah lagau dari singgasana lalai
Melewati kerongkongan kepahitan dengan pasrah paling parau
Selalu, teriak jelata hilang di pangkal cahaya
Meninggi hanya sebatas langit-langit mulutnya
Menguap sebelum disambut telinga para pemuka
Seolah lupa, ada masa mereka mengemis dari sumber suara yang sama
Jantung jelata terengah dalam denyut melayangkan pinta
Menadah hati para penguasa sembari saling menghapus air mata
Lisannya mengulum serapah, namun percobaan melipur duka yang termuntah
Sebab memamah keberanian lebih mengenyangkan daripada sajian persekusi sebagai makan malam
Jakarta, 6 Agustus 2025.
.
… dan ia kembali menjadi ruang-ruang sepi.
Air mata kita, masih berbicara dengan bahasa yang sama, kan?
Atau, jangankan berbahasa, mengalirpun tak kah lagi ia berdaya?
Silau mana yang membutakan nurani?
Kepekaan dan empatikah yang hari ini membenam diri di pusara sunyi?
.
… dan ia kembali menjadi ruang-ruang sepi.
Air mata kita, masih berbicara dengan bahasa yang sama, kan?
Secuplik Badai
Menanti kabar tidak pernah semencemaskan ini
Gemuruh rindu tak pernah semenggelegar ini
Satu notifikasi saja
Cukup sebaris kalimat: Kami baik-baik saja di tempat yang aman.
Hanya itu—
mungkin bisa meredakan kepala yang hampir meledak,
lambung yang terasa akan koyak,
dan dada yang bertubi dihantam sesak
Satu notifikasi yang disadari mustahil,
namun nyala harapnya tetap dijaga walau kian kerdil
Betapa sekadar sapa bisa meringankan rasa
Sebab kadang, doa-doa rahasia hanya menenangkan secuplik lembaran resah saja
Memeluk dinginnya sabar tak pernah semenggigil ini. Kami menyulam harap pada-Nya semerunduk ini.
Jakarta, November yang penuh hujan, 2025.
❔
Bermacam pungtuasi bertebaran di kepala
Kau tentu tahu apa yang mendominasi: tanda tanya.
Entah bagaimana, selalu ditemukan cara agar ia tak terutarakan
Walau menahannya bak meredam denyut pada nadi: setengah hidup; setengah mati.
Namun, kau paham, menjadi diam adalah ruang yang lebih aman.
Di salah satu sudut di antara semua yang Istimewa, Yogyakarta 2025.
Bagian terpelik dari sepotong nostalgia adalah kau tidak bisa menolak sisi pahit yang ikut serta
Seolah ia tak pernah benar-benar hilang seperti remah kenangan yang ingin kau buang
Ia hanya sedikit bersunyi-sunyi di sudut dada, menunggu waktunya untuk kembali dijemput rasa
ty
sekeras apapun kita berpura-pura melanjutkan hidup. akan ada bagian dari diri kita yang hancur pasti akan selalu muncul kembali ke permukaan, yang mana pada akhirnya membuat terasa sesak sampai tidak bisa bernafas.
kau tau siapa yang paling menderita dari akibat kematian?
yaitu, orang yang ditinggalkan.
maka berdukalah sampai kau merasa puas dan perlahan-lahan melupakannya. jangan dipaksa, jangan pernah memaksa untuk langsung kuat dan bahagia. menangislah, berdukalah sampai kau benar-benar merasa cukup untuk melepaskannya. meski aku tau tidak akan pernah ada orang yang akan baik-baik saja setelah ditinggalkan.
-even the sun needs to set-
sudut ruang || 08.45
Jika aku saja masih harus menarik napas panjang beberapa kali sebelum bisa mengucap “Allaahummaghfirlahu…”, bagaimana pula denganmu, Ma?
Saat hujan reda sebelum maghrib, 29 Oktober 2025. Hari ini, tepat sebulan.
September Kami, Ber-nya adalah Berduka
Lebih dari sepekan, orang-orang masih berdatangan.
Beberapa hari ini selalu terlintas di pikiran, bahwa sungguh hidup orang-orang terus berjalan. Hanya kami, barangkali, yang merasa waktu seakan berhenti di Senin malam itu, saat dokter di ujung gawaiku berkata, “tidak ada yang bisa dilakukan lagi, batang otaknya telah mati”.
Ia datang ke hidup kami tidak sejak awal. Namun sungguh, sampai akhir, ia telah tinggal.
Sore itu, di sofa yang biasa ia duduki, aku menghabiskan waktu sejenak, membaca catatan pembukuannya yang ditulis tangan, dan menangis lagi.
Ternyata, kehilangan tidak mengenal lama waktu kebersamaan. Ia hanya memahami sejauh mana keterikatan. Dan yang bertaut sampai ke hati membuat sebelas tahun terasa seperti sejenak yang kekal dalam memori.
Allaahummaghfirlahu
warhamhu
wa’aafihi
wa’fu ‘anhu
Langsa, 7 Oktober 2025 dan diselesaikan di Jakarta, 22 Oktober 2025.
Beberapa pagi datang bersama kenangan
Beberapa pagi datang suguhkan genangan
Dada-dada yang menambal luka kembali gaduh
Tabah-tabah yang dijaga kembali gemuruh
Bisakah kita selesaikan? Katanya, di sore sendu itu. Ataukah terus dijalani beriringan?
Seumur napas menambal
Sepanjang hidup menyesakkan
Kita hanya punya kita, batinku.
Memori Pertiwi
Tahukah, Tuan?
Jantung peradaban pernah berdenyut merupa hentak berpasang-pasang kaki menuju tempat sujud paling tenang
Berima hening yang gigil menempuh hari teramat dini
Gerak beriring meniada kata, sebab mulut dipenuhi napas menjelma doa tiap dada
Di kaki cahaya, buih-buih harap menggelegak di atas nyala
Nyala asa piawai dijaga tangan-tangan gemulai
Penggenggam aksara Maha Mulia memangku lusinan tengadah mereka
Aduhai, Puan!
Nyanyian waktu menerbangkan ingatan akan satu tujuan
Bukan mendaku nada paling tinggi, melainkan alunan merdu rendah hati langit Pertiwi
Kokohlah tiang berbatu tekad satu-padu
Himpun kelimpahan agar cukup saling mengulur tangan
Rampak: menginsyafi bahwa kehendak-Nya memapah kita pada derap yang serempak
Jemari kecil digenggamkan pemahaman
Bahwa cita mengangkasa dengan kepak yang tak sendirian;
bahwa rajutan pelangi elok dengan rupa-rupa warna;
bahwa pada akhirnya, dedaunan jiwa dari penjuru ranting berbeda mengharap lepas dahaga oleh sumbu akar yang sama
Rampak!
Untuk terus menginsyafi bahwa guyub tak tumbuh dari bambu yang menjunjung cakrawala sebatang kara
Jakarta, di penghujung Juli yang tidak hujan, 2025.