Tadi pas scrolling Instagram, saya nemu postingan tentang bayi-bayi panti asuhan. Mereka ditelantarkan orang tuanya, dengan berbagai alasan, seperti sakit, cacat, atau alasan klasik: orang tuanya tidak siap punya anak. Lalu, takdir pun membawa mereka ke sebuah panti asuhan.
Saya nangis. Membayangkan badan-badan mungil itu harus tidur tanpa dikelonin ibu dan ayahnya. Wajah-wajah malaikat itu, mungkin takkan pernah tahu siapa nama ibu dan ayah yang mewariskan mata, telinga, hidung, dan rambut pada mereka. Jika mereka menangis di tengah malam, apakah ada yg datang untuk mereka? Jika mereka terbangun dari mimpi buruk, siapa yang menenangkan mereka? Lalu saya jadi inget anak-anak saya sendiri, yang bikin air mata saya makin deras.
Syukur, masih banyak orang baik yang bersedia menjaga dan membesarkan mereka. Semoga Allah memuliakan mereka semua.
Yang membuat saya terhanyut lebih jauh adalah pertanyaan ini: kenapa seorang manusia bisa membuat keputusan setega itu? "Membuang" anaknya sendiri?
Saya tahu, seringkali, hidup memang tentang memilih. Dan para orang tua itu telah memilih untuk menyerah atas anaknya sendiri. Tapi, bukan berarti semua pilihan bebas dan boleh untuk dipilih. Di era yang dikit-dikit menyinggung kebebasan individu seperti sekarang, kita perlu membedakan antara pilihan dan tanggung jawab.
Mengurus anak itu tanggung jawab. Kita ngga memilih, akan ngurus atau enggak. Harusnya ga perlu ada pilihan itu. Seberat apapun sebuah tanggung jawab, kita tetap menjalaninya. Kenapa? Ya karena bakal dipertanggungjawabkan. Sama kayak kalau kita dititipin rumah untuk dijaga dan dibersihkan. Kita ngga milih, akan ngurus rumahnya, atau kita biarin, atau kita jual aja rumahnya? Yang nitip udah ngasih tugas dan tanggung jawab. Kita? Ya jalani tanggung jawab itu dengan maksimal. Harusnya ga ada pilihan di situ. Tapi manusia suka bikin-bikin alasan. Apalagi kalau dalihnya kebebasan. Bebas dari tanggung jawab maksudnya? Nanti, ada waktunya. Yang jelas, dunia mah tempat untuk menjalani tanggung jawab.
Di beberapa negara, aborsi (tanpa alasan medis) dianggap pilihan. Saya ngga setuju. Kita yang menghadirkan bayi-bayi itu ke dunia, kita juga yang semestinya bertanggung jawab atas hidup mereka (yang belum bisa mereka tentukan sendiri). Ngga perlu ada pilihan di situ. Harusnya sesederhana itu. Harusnya.
Lalu, saya jadi berpikir semakin jauh. Tentang latar belakang yang membuat seseorang melakukan tindak kejahatan (membuang anak itu kejahatan). Pasti ada teorinya, dari sisi kriminologi, psikologi, ekonomi, dst. Tapi pikiran saya sederhana aja. Ngga jauh-jauh dari persoalan ibadah dan hubungan dengan Tuhan.
Saya dan mungkin kita semua tahu bahwa agama adalah tuntunan agar manusia hidup secara benar. Tapi, seringkali itu sulit saya resapi dalam ibadah. Apa yang saya bayangkan ketika menunaikan salat? Seringkali, salat hanya sebatas untuk menggugurkan kewajiban. Zakat? Puasa? Sedekah? Ngga jauh beda. Malah ngga jarang, saya giat ibadah hanya ketika kita punya kemauan. Ketika pengen bayar hutang, punya rumah, mobil, lancar bisnisnya, dst.
Kadang saya sulit memahami apa yang dimaksud para ustaz dengan, "Kita yang butuh ibadah, bukan Allah. Allah ga butuh ibadah kita!"
Gimana penjelasannya? Kenapa manusia butuh ibadah? Berhubung saya tipe orang yang suka dengan penjelasan yang operasional, jadi ceramah model konseptual sulit meresap hingga ke hati.
Tapi, ketika melihat kebiadaban manusia hari ini, membaca berita-berita soal kejahatan orang-orang yang makin di luar akal, termasuk membaca postingan tentang bayi-bayi yang ditelantarkan orang tuanya itu, saya jadi lebih bisa meresapi makna ceramah itu.
Kenapa kita butuh ibadah? Sederhana aja. Menurut saya, kita perlu beribadah, karena kita punya potensi untuk jadi orang jahat. Ya, setiap orang punya potensi untuk ngejahatin orang. Ngejahatin anak, pasangan, kakak, adik, orang tua, teman kerja, guru, teman sekolah, tetangga, dll. Apa yang terjadi kalau semua orang menjadi jahat satu sama lain? Dunia ngga aman. Chaos. Kacau. Kehidupan manusia hancur. Peradaban akan berakhir.
Ibadah, sebagaimana tujuannya, adalah sesuatu yang bisa mencegah kita dari perbuatan jahat, oleh diri kita sendiri. Kita butuh ibadah untuk menjaga diri kita dan orang lain.
Sederhana aja. Dengan beribadah, kita jadi diingatkan bahwa kita punya Tuhan. Kita jadi ingat bahwa Tuhan Mahatahu. Kita jadi berhati-hati kalau mau ngapa-ngapain. Kita jadi mikir berulang kali ketika mau ngejahatin orang lain. Karena kita tahu, setiap perbuatan ada balasannya.
PR-nya, gimana supaya kita menikmati ibadah sebagaimana fungsi utamanya itu? Sebagai sarana mencegah sebanyak-banyak perbuatan buruk di dunia ini? Bukan sebatas kewajiban. Bukan sekadar sarana mencapai kejayaan. Bukan pula karena kita lebih mementingkan kesalehan pribadi saja (misal: ingin masuk surga), tapi lupa bahwa ibadah juga harus berdampak pada kesalehan sosial selama kita hidup di dunia.
Menurut saya, kita perlu merasa takut. Takut bikin hidup orang susah, takut bikin orang celaka, takut bikin orang tersakiti, takut ngejahatin orang, takut menciptakan neraka bagi orang lain. Yang karena itu, Allah jadi nggak rido sama kita. Lalu, hidup kita jadi susah. Banyak orang benci sama kita. Banyak orang doain yang jelek-jelek buat kita. Banyak orang menghukum kita. Hidup kita pun jadi lebih banyak mudaratnya dari manfaatnya. Wallahua'lam di akhirat gimana nasib kita. Tapi kalau di dunia kita menciptakan neraka buat orang lain, apa pantas mengharapkan surga di akhirat nanti?
Dengan merasa takut, menurut saya, kita bisa ibadah lebih khusyuk. Kita jadi lebih berserah pada Allah. Kita tahu, kita tuh punya potensi jahat, sebagaimana yg disebutkan dalam Al-Quran surat Asy-Syams ayat 8. Dan kita takut banget potensi jahat itu jadi kenyataan.
Coba deh ketika salat, kita bayangkan betul-betul. Bahwa tangan kita, bisa menyakiti tubuh orang lain. Lidah kita bisa menyakiti hati orang lain. Sikap dan perbuatan kita bisa berdampak buruk pada orang lain. Atau malah kita sudah sering menyakiti dan jahatin orang? Allah Mahatahu.
Ibadah adalah momen paling tepat untuk kita menyerahkan diri pada Allah, memohon ampun, dan berlindung kepada Allah, dari kejahatan diri kita sendiri.
Ibadah adalah momen pengingat agar kita selalu sadar bahwa semua perbuatan kita bisa berdampak pada orang lain. Jika kita tak cukup tergugah dengan pengingat itu, mungkin kita butuh digugah dengan ancaman soal dosa dan neraka.
Ibadah yang berkualitas akan berbanding lurus dengan keteraturan sosial. Seseorang bisa menjadi saleh secara pribadi dan saleh secara sosial. Saleh secara sosial yang paling minimal, ya, tidak ngejahatin orang. Saleh secara sosial itu bisa berarti: kita hidup secara bertanggung jawab, pada keluarga kita, pada anak kita, pada lingkungan kita, pada pekerjaan kita, pada customer kita, pada tugas-tugas yang jadi amanah kita, dan pada hidup kita secara umum.
Ya, tulisan ini, sebagaimana judulnya, adalah tentang tanggung jawab. Sesuatu yang amat berat untuk kita, manusia, hadapi. Sesuatu yang terasa semakin berat ketika usia kita bertambah. Dan singkatnya, sebenarnya output dari ibadah adalah membuat seseorang jadi manusia yang bertanggung jawab.
Berat. Tapi itu semua demi keteraturan dunia. For a better world. Untuk menghadirkan rahmat bagi seluruh alam.