Adalah Pernikahan, Ketuhanan dalam diri Perempuan
Oleh: W Sanavero
***
“Saya ini bukan budi, bukan angan-angan hati, bukan pikiran yang sadar, bukan niat, bukan udara, bukan angin, bukan panas, dan bukan kekosongan atau kehapaan.
Wujud saya ini jasad, yang akhirnya menjadi jenazah, busuk bercampur tanah dan debu.
Napas saya mengelilingi dunia, tanah, api, air, dan udara kembali ke tempat asalnya, sebab semuanya barang baru bukan asli.”
-Syeich Siti Jenar
(Dikutip dalam situs alangalangkumintir.wordpress.com)
Tidak mungkin saya membuka tulisan ini tiba-tiba dengan kalimat “Tuhan”. Maka kutipan diatas mewakili untuk satu atau dua pengakuan di hadapanNya. Bahkan kalau dibolehkan, kutipan diatas ingin saya bulatkan menjadi himmah dalam benak saya lalu menjadi sebuah nilai ibadah dalam menuntaskan hak-hak jiwa untuk beriman. Tidakkah terlalu bertele-tele?
Simak sebentar,
Beberapa waktu lalu saya sedang mencari tentang kesejatian ‘Perempuan’ , berputar-putar menyusuri waktu, muncul dan sembunyi, bahkan menunaikan tidur panjang untuk menghindari lupa dan tua. Tapi melakukan hal-hal demikian tidak membuat saya bertemu dengan diri saya sendiri kecuali kebingungan dan kebimbangan setiap saat. Pada akhirnya saya menemukan satu literatur yang tepat menurut kejujuran hati kecil saya, bahwa makna ‘Perempuan’ dalam ekologi budaya kuno; kata ‘Perempuan’ secara morfologi berasal dari kata Hibridis, yang diurai dalam bentuk simulfiks {Per-/-an} menjadi (Per-Empu-an), yang memiliki kata dasar ‘Empu’. Dimana ‘empu’ berasal dari bahasa jawa kuno, dan dibentuk menjadi kata benda yang berarti ‘Mpu’ (Tokoh yang sangat istimewa, Tuan, atau seseorang yang mulia dan kerap kali juga diartikan sebagai tokoh religius). Dimana kata ‘Mpu’ tidak dapat berdiri sendiri, harus diberi atribut yang menunjukkan karakteristik, fungsi dan profesi. Kemudian jika Kembali pada bentuk simulfiks {Per-/-an} dapat saya peroleh sebuah pemahaman semantik bahwa kata ‘Empu’ atau ‘Mpu’ menyatakan pelaku pekerjaan. Sehingga, perempuan mempunyai arti ‘Yang melakukan pekerjaan Mpu’. Semoga ini tidak semakin bertele-tele, jadi ketika Mpu memiliki arti ‘Tokoh yang istimewa, tokoh religius’ maka Perempuan berarti tokoh yang elakukan pekerjaan-pekerjaan istimewa, pekerjaan religius. Sepenggal definisi ini akhirnya menjadikan tekad saya untuk memberanikan diri dari dimensi berfikir.
Tepat dua tahun lalu, diusia yang ke 23 tahun saya menerima hal-hal yang menjadi kebaikan dalam hidup bagi kedua orag tua, keseimbangan dalam sosial; yaitu Menikah. Waktu itu saya meyakinkan diri sendiri bahwa hal ini bukanlah keputusan yang terbuat dari keputusasaan sebagai seseorang yang mencari jatidiri ‘Perempuan’ dalam dirinya.
Hingga pada hari pertama dimana malam jum’at menjadi malam sunnah bagi sebagian pengantin, suami saya bercerita tentang hal-hal yang dapat mengenalkannya pada dirinya sendiri, menjawab pertanyaan-pertanyaan berkehidupan dengan bijak, bagaimana selamat dari rasa lapar, bagaimana selamat dari rasa tamak, bagaimana selamat dari cara berfikir. Dan segala jawaban yang akhirnya membuatnya kembali pada kalimat “Tuhan”. Pada akhir waktu sepertiga malam kami menunaikan sunnah, saya menyimpulkan bahwa seperti halnya ibadah lain, pernikahan adalah sebuah panggilan. Pernikahan betul-betul sebuah panggilan yang akhirnya membuat saya mengakui satu hal yaitu berumah tangga adalah bagian religius dalam diri perempuan. Kegiatan berumah tangga membuat kami (baca; saya dan suami) melakukan keputusan yang kami sepakati dalam menjalani proses berkehidupan. Dalam keputusan-keputusan tersebut kami melibatkan jiwa mpu (peranan, fungsi) dalam diri kami masing-masing. Dimana akhirnya perlahan hal ini mengantarkan saya pada jawaban atas pertanyaan tentang jatidiri dan perempuan dalam diri saya. Jika saya urai kegiatan berumah tangga secara konotasi, barangkali seperti matahari yang terbit dan tenggelam tepat pada waktu dan sudut tempatnya masing-masing. Rumah tangga adalah keseimbangan alam bagi saya sebagai perempuan yaitu mengantarkan pada jatidiri, jiwa, dan berakhir pada “Tuhan”.
Seperti yang saya tuliskan diatas, semua hal yang sudah saya lakukan tidakkah menunjukkan butuh bertele-tele untuk menemukan pertanyaan diri sendiri, bahwa “Tuhan” memang memiliki sisi, rumit, penuh semiotik dan kode etik. Perempuan tidak akan keluar dari mpu dalam dirinya, topik ini akan selalu diperdebatkan dengan rumit. Maka dalam tulisan ini kan saya tutup dengan berani, Pernikahan adalah ketuhanan dalam diri perempuan.
Malang, 24 Juli 2018













