Mencintaimu dengan segalamu,
Mengagumi walaupun tak jarang kau abaikanku,
Menyayangimu walaupun sering kecewa dengan sikapmu.
Meyakini begitu besar kita akan bersama karena baiknya sikapmu terhadapku.
Meyakini begitu besar kau akan membalas rasaku karena pedulimu terhadapku.
Mematahkan kata-kata mereka bahwa kau memang baik dan peduli dengan semua orang.
Membantah semua opini yang memperingatkan hatiku dengan berkata "aku yang merasakan, melihat dan berkomunikasi dengannya, jadi aku yang tahu keadaan sesungguhnya."
Iya, aku pernah sekeras kepala itu.
pernah sangat rela jatuh, bahkan pernah merasa sangat siap jika harus terluka.
Aku benar-benar jatuh, terluka dan hancur. Aku tak pernah benar-benar siap dengan luka, aku tak pernah siap karena yang datang adalah luka yang tak pernah terbayangkan sedikit pun.
Semua yang aku yakini dan aku percaya dipatahkan oleh kenyataan dan dengan berat hati aku harus mengubur semua keyakinan dan harapan itu. Pada bagian ini, aku tak pernah mengira akan sesakit ini.
Akhirnya aku pun menyerah dengan keras kepalaku.
Nyatanya memang kau tak mencintaiku, bahkan mungkin tak akan pernah mencintaiku.
Mereka benar, memang kau hanya baik terhadap semua orang.
Aku pun tak lagi mampu berharap dan meyakini bahwa kita bisa bersama, karena melihat kenyataan lain tentangmu, aku tak mampu membayangkan untuk sanggup bersamamu.
Sisi lain darimu menciptakan tembok yang sangat tinggi.
Yang aku minta sekarang hanyalah satu yaitu persahabatan kita jangan pernah pudar. Yang tak pernah berubah adalah rasa syukurku dapat bersahabat denganmu. Selebihnya biarkan hatiku menyembuhkan luka dengan caranya sendiri, dan belajar mengiklhaskan kenyataan.
Semoga setelah semua ini tidak tumbuh keras kepala baru untuk membuka hati, walaupun memang aku pun telah menciptakan tembok sendiri.