Ramadhan menyapa, jiwa-jiwa beriman bersuka cita.
Kanak-kanaknya, tua mudanya, ikut berkeliling membawa obor bercahaya. Menyeru, menyambut dan mengingatkan sesama, bahwa bulan yang dinanti segera tiba.
Dahulu rasaku pun begitu.
Sambut bulan mulia dengan bahagia, tanpa ada keluh kesah dan gerutu.
Pikirku, dewasa membuatku merasa Ramadhan tak seindah itu.
Beralasan suasana istimewanya tak lagi terasa, membuatku melonggarkan semangat meraih mulia.
Hari pertama kulalui begitu saja, berdalih adaptasi dan berkata pada diri bahwa wajar saja jika masih belum berjuang sepenuh hati.
Nyatanya, hari kedua dan hari-hari selanjutnya tak jauh berbeda.
Pikirku, aku butuh lebih banyak waktu untuk penuh dalam patuh.
Janjiku, penuh ragu, setelahnya akan beribadah lebih khusyuk.
Satu pekan berlalu, semangat yang kutunggu tak kunjung muncul.
Ku salahkan suasana yang tak mendukung, kerjaanku yang menumpuk, keletihan di penghujung hariku.
"Yah, namanya juga sudah semakin dewasa yang harus kukerjakan semakin banyak, waktu luangku tak seberapa", aku kian sibuk (atau merasa sibuk).
Lekat dan dekapku pada Ramadhan semakin jauh.
Mengapa tak ada rasa menggebu-gebu, tak merasa butuh memenuhi sunnah dalam tarawih dan tahajud.
Mengapa mengisi ibadah dengan seadanya, merasa kalau terlewat,
"Yang wajib sudah tertunai. Ya, sudahlah, mau bagaimana".
Rasanya aku di Ramadhan tak berbeda dengan aku di bulan lainnya. Hanya bertambah berat sebab aku harus tetap menjalani hari dalam keadaan lapar dan dahaga.
Kian lama, kian hampa, kian bertanya-tanya,
"Bagaimana bisa di bulan penuh barakah tapi jiwaku padam tak membara, tak merasa?"
Menuliskan ini sebagai renungan untuk diri,
agar Ramadhan tak terlewati dan berakhir hilang dalam sekejap tanpa tersisa apa-apa, agar terus menelisik hati akan permohonan ampun yang butuh terus dipanjatkan pada Ilahi, agar tak abai pada kebaikan dan mengalihkan atau bahkan menutup mata akan cahaya petunjuk-Nya.