Menambahkan dari reblog-an sebelumnya, "Kapan Harus Menikah?"
Yha, mental health itu nyata dan komentar yang sering kali terdengar terkait isu ini adalah, “Kurang iman tuh.”, padahal hal tersebut dapat menyerang siapa pun dari berbagai macam latar belakang dan usia sekalipun orang tersebut beriman.
Hal yang menarik disampaikan Ust. Bendri Jaisyurrahman hafidzahullah dalam TuturKataPodcast di channel The Sungkar Family hafidzahullah terkait mental health yang dapat memperluas sudut pandang sekaligus sebagai basic pengetahuan.
Sebenarnya cara kita memandang mental health dari setiap orang itu memang dilihat dari tidak sekadar aspek yang selama ini kita lihat, “Wah dia kan orang beriman.”, orang beriman kok tiba-tiba melakukan hal yang dianggap di luar nalar misalnya seorang ibu yang berhijab padahal banyak hal yang dapat dilihat mengapa seseorang itu mental health-nya dapat terganggu sebab mental health itu, pertama: apa yang disebut keimanan sebagai spiritualitas merupakan satu aspek dari tujuh aspek yang dapat membuat seseorang memiliki mental health yang bagus dan ke tujuh aspek tersebut adalah:
Pertama, insight yaitu kemampuan seseorang untuk mengambil ibrah dari setiap kejadian. Ketika seseorang tidak terlatih mengambil sebuah hikmah dari kejadian sejak kecil maka biasanya dalam hal ini dia akan fokus pada hal yang jeleknya dan melupakan sisi positifnya. Salah satu kebaikan pengasuhan di Indonesia ketika banyak orang mengajarkan, “Untung saja.”, kata tersebut sebenarnya mengajarkan insight lain misalnya ketika kehilangan motor, “Haduh, aku kehilangan motor.”, “Untung saja hanya motor.”, sebenarnya hal tersebut secara teknik untuk membuat orang belajar bahwa ada hal yang lebih baik lagi. Pendidikan tentang mental health itu termasuk mengajarkan kita untuk jangan fokus kepada masalah apa yang hilang.
Sering kali kita melihat misalnya ketika gelas itu setengah, orang yang sudah ter-framing bahwa ini setengah kosong akan memikirkan yang hilang, seharusnya dia berpikir setengah isi. Dia tahu bahwa masih ada, alhamdulillah. Untuk itu, di dalam Islam sendiri dilatih dalam keadaan apa pun mengucapkan, “Alhamdulillah ala kulli hal.”, dari sisi itu akhirnya orang belajar.
Itulah mengapa setiap orang walaupun ibadahnya bagus namun cara berpikir insight-nya tidak dilatih maka dia akan memandang sisi yang negatif, “Kok hidup begini banget sih ya.”, sekalipun orang beriman sebab ada situasi di mana salah satu pekerjaan setan itu adalah bukan merusak ibadah namun merusak memori kita akan nikmat Allah Subhanahu Wata’ala.
Jadi ibadah sih kencang tetapi yang terpikirkan adalah, “Kok Allah kasih saya begini ya?”, sengaja memang supaya yang dipikirkan adalah apa yang hilang, atau kemalangan yang kamu rasakan tetapi nikmat Allah Subhanahu Wata’ala yang terhitung itu akhirnya yang tidak didapatkan. Itu sisi pertama, jadi bagaimana seseorang dapat memiliki mental health itu disebabkan memiliki kemampuan insight.
Kedua, independent yaitu ketika seseorang tidak memiliki ketergantungan kepada manusia yang lain. Dia sudah terlatih dari kecil. Anak-anak yang rentan mengalami mental health adalah anak-anak yang kemungkinan besar dari kecil dia dilatih untuk apa-apa orang tua (ketergantungan) sehingga ketika orang tuanya wafat seperti itu.
Cinta kita kepada pasangan tidak boleh mengalahkan cinta kita kepada Allah Subhanahu Wata’ala sebab ada yang saking cintanya menjadi depresi karena kehilangan. Hal itu dapat terjadi sebab dia tidak mengaktifkan sisi independent-nya.
Itulah mengapa seorang wanita yang dalam hal ini mungkin mengalami sisi ketika dia misalnya sendirian (tidak memiliki pasangan) maka memang salah satu latihan dia adalah melatih sisi independent-nya dia misalnya ketika Siti Hajar dalam keadaan sendirian dilepas di negeri tandus dan tidak ada tanam-tanaman, alhamdulillah dia meyakini bahwa ketergantungan dia bukan terhadap pasangan (Nabi Ibrahim ‘alaihis salam) namun kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Ketiga, relationship (inilah yang menjadi masalah) yaitu ketika seseorang tidak dilatih untuk memiliki interaksi secara sosial dan akhirnya dia merasa hidup sebatang kara.
Untuk itu, salah satu mengapa apabila kita melihat ada orang yang sangat rentan mengalami kondisi misalnya seorang ibu tertekan dan suaminya cuek, jadilah orang yang memberikan minimal injeksi kekuatan dengan mengatakan, “Aku bersama kamu.”, sebagai orang lain misalnya tetangga harus aware.
Tetangga atau orang terdekat harus melihat ciri orang tertekan yaitu pertama: susah senyum, kedua: susah menangis (ekspresi datar saking sudah tidak ingin merasa lagi). Adanya tangisan masih bagus di mana masih memiliki keinginan untuk masuk ke dalam emosi namun ada yang tidak mau menangis dan tidak mau merasa, dia menjauhkan perasaan itu.
Nah, apabila kita melihat dari raut wajahnya susah senyum, tidak mau menangis (datar saja atau kaku), kemudian kita mengetahui itu jalinlah relationship sebab orang ini memiliki kesulitan untuk menjalin relationship, kita yang masuk dengan mengatakan, “Boleh saya temani?” (misalnya apabila sesama jenis), ditawarkan dan hal ini membangun kekuatan untuk survive sehingga dia merasa tidak sendiri.
Mengapa ada hadis, “Silaturahmi itu memperpanjang umur.”?, dibahas oleh para ahli otak sebab ketika bersilaturahmi ada hormon happiness yang keluar dan hal tersebut membantu kesehatan mental.
Keempat, kreativitas di mana hal ini mampu membuat seseorang keluar dari masalahnya, dia tidak melihat bahwa solusinya hanya A (kreatif) dan orang kreatif sangat berpeluang untuk survive.
Kelima, inisiatif yaitu kesadaran diri untuk memulai sesuatu. Apabila kreatif berkenaan dengan variasi maka inisiatif berkenaan dengan kemandirian (bagian dari independent).
Keenam, humor di mana mampu membuat orang lebih rileks dalam menghadapi masalah.
Ketujuh, spiritualitas apabila ada yang mengatakan, “Apaan tuh katanya dia orang beriman tetapi kok tidak begini?”, itu artinya banyak aspek dan tidak bisa asal menghakimi. Bisa jadi apabila dialami oleh kita yang rajin salat atau apa pun tidak mampu juga.
Kita harus melihat pertama dari sisi empati sebab ketika seseorang mengalami misalnya seorang ibu terutama ketika dia mengalami tekanan mental, kita harus melihatnya adalah bahwa sang ibu ini pun juga sebenarnya bisa jadi akumulasi dari emosi yang panjang.
Seseorang memiliki kantong jiwa di mana kantong jiwa tersebut memiliki kapasitas menampung emosi negatif yang apabila sudah penuh dia akan keluar dalam sisi yang kadang-kadang di luar nalar kita sampai melakukan hal-hal yang mengerikan.
Untuk itu, kadang kita melihat kasus-kasus tentang ibu yang menzalimi anaknya, apabila sisi pandang sekadar aspek, "Ini orang dewasa melakukan kezaliman, jahat nih.", kita memandang itu tetapi kita tidak melihat bahwa di belakangnya dia sedang menanggung banyak beban misalnya suami yang cuek.
Yang menjadi masalah ternyata kebutuhan dasar istri yang tidak terpenuhi oleh suami adalah kebutuhan terkait kebutuhan emosi. Ada istri yang merasa tidak disayang, dia tidak merasa dicintai bahkan merasa tidak dibutuhkan. Hal ini yang membuat seorang istri tertekan dan sebagai seorang suami (orang terdekat) harus memahami bahwa kesehatan mental istri itu sangat erat hubungannya nanti dengan pola asuh.
Dalam QS. Al-A’raf: 58 Allah Subhanahu Wata’ala membuat perumpamaan, “Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah.”, yang dimaksud tanah dalam ayat ini diwakili dengan makna ibu. Sebagaimana dalam QS. Al-Baqarah: 223, “Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam.”, kita lupa rumus ini sejatinya mengajarkan apabila engkau ingin anakmu terdidik dengan baik, sehat maka pikirkan kesehatan mental ibunya sebab happy mom, happy children, happy wife, happy life. Inilah rumus yang harus dipahami.
Oleh sebab itu, masyarakat pun harus concern terhadap hal ini, Alquran ketika berbicara tentang wanita yang sedih, Allah Subhanahu Wata’ala langsung mengutus utusan-Nya malaikat untuk menghibur, tidak boleh wanita sedih sebab apabila wanita sedih dampak paling fatal adalah pada anaknya. Untuk itu, Allah Subhanahu Wata’ala mengutus malaikat Jibril untuk menghibur Siti Maryam pada saat dia hampir merasakan kekecewaan sebab orang memfitnahnya lalu malaikat Jibril mengatakan, “Alla tahzani, janganlah kamu bersedih.”, diperintahkan. Untuk apa? Supaya recovery mental segera dilakukan sebab membiarkan seorang istri sedih berkepanjangan adalah kezaliman dari seorang kepala keluarga.
Oleh sebab itu, seorang kepala keluarga harus aware membaca bahasa tubuh. Di antara pemahaman yang harus dilatih sebagai seorang suami apabila tiba-tiba istri sudah muram, jarang senyum apalagi bahasa tubuh sudah tidak nyaman, suami harus aware, “Wah dia lagi bete nih.”, segera lakukan recovery sebab apabila dibiarkan itulah yang akan menghancurkan.
Dan dari sisi ilmu psikiatri, akhirnya ibu-ibu yang mengalami tekanan ini dia mengalami halusinasi, psikosis, otak kecerdasan atau otak sehatnya sudah tidak nalar lagi, untuk itu ada ibu yang berpikir, “Daripada dia mengalami seperti yang saya rasakan mendingan dia dibunuh saja.”, sebab nalar sehatnya sudah hilang dan masuk kepada pikiran-pikiran yang orang lain pikir, “Ini kan sudah tidak benar.”, namun baginya benar sebab terlalu lama dia dibiarkan berpikir sendiri dan tidak ada yang mengajak obrol dan solusi yang paling mudah untuk setiap ibu yang sedih atau mengalami tekanan adalah dengan memberi ruang untuknya mengobrol, entah suami, adik, tetangga atau siapa pun.
Harus mengajak obrol, buka pembicaraan dan ingat jangan menghakimi dahulu atau langsung menutupi emosi yang diceritakan dengan segudang nasihat, dengarkan dahulu. Teknik yang paling mudah adalah teknik respon, ”Oh.”, “Uhm.” (teknik merasa dipahami) atau apabila perlu menebak perasaannya, “Jadi kamu kecewa sekali ya dengan suami?”, jangan biarkan misalnya tiba-tiba atau seringnya kita mudah mengatakan, “Sudah sabar saja.”, padahal sebenarnya ini bukan konsep tentang sabar.
Ada strategi di dalam Alquran, apabila ingin menasihati sebagaimana dalam QS. Al-Baqarah: 151, sebelum mengajarkan lakukan tazkiyah dahulu (membersihkan jiwa). Di antara cara membersihkan jiwa yaitu dengan mendengarkan dahulu. Ketika istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengalami keluh kesah, beliau tidak mengeluarkan ayat melainkan dengarkan saja dan belajarlah menyimak.
Salah satu strategi atau komunikator yang baik bukan dengan banyak bicara melainkan banyak mendengar. Inilah yang harus dilatih dan juga ini perihal kesadaran kita atau siapa pun yang memiliki orang terdekat apabila memandang bahwa ciri-ciri orang yang mengalami gangguan mental health itu lebih baik kita rangkul atau dekati, apalagi jika sesama jenis misalnya laki-laki rangkulan di bahu, perempuan di punggung, punggung yang diusap akan membuatnya tenang. Pelukan kakak kepada adiknya misalnya, hal ini membantu sekali.
Dan didengarkan adalah salah satu hak seorang istri. Seorang wanita memiliki 20.000 perbendaharaan kata perharinya sehingga jangan pernah katakan, “Istri saya pendiam.”, sebab sejatinya tidak ada wanita pendiam; yang ada adalah wanita yang sedang terluka hatinya.
Dari penjabaran di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa siapa pun dapat terganggu mental health-nya namun siapa pun juga dapat membantu; mendampingi tanpa menghakimi.
Yok bisa yok (,^^)9