Aku ingin memuntahkan rantai inti yang sangat panjang kali ini. Menerbangkan sudut pandang lusuh yang kurekam sejak lama. Pada hari yang kuanggap sebagai pelunasan empat tahunmu yang rumit. Kuselipkan keseluruhannya di antara jeda-jeda penghormatanku. Dan kupastikan kau menangkapnya dengan kilatanmu sendiri.
Mari awali cerita ini dengan perputaran kembali pada tahun-tahun penyesalan itu. Pada tragedi penyapuan ilusi. Waktu itu baru saja matahari tenggelam bersama para impian, yang kita terka bersama dari kejauhan. Di tempat itu, di antara daratan dan laut, kita menjelajahi kebebasan pasca ujian kelulusan.
Lalu ketika besi raksasa beroda melaju menuju persinggahan, kau mendatangiku tiba-tiba tanpa rambatan suara. Kepanikanku menjejaki jiwa hingga berlalu tanpa kata. Aku tahu maksudmu, tetapi Sang Perompak membatasi arah. Aku tahu telah mengacaukan malam itu, padahal langit sedang berkedip dengan jutaan kornea putihnya yang bercahaya.
Tidak pernahkah kau sadari bahwa gerakan itu adalah kesalahan alam bawah sadar, yang bertindak sebelum sampai ke otak? Jika tidak pernah ada sedikitpun rasa yang tabu padamu, langit merah tidak akan membawaku sejauh itu. Tetapi mungkin kepinganmu terkoyak petir, atau terlanjur menjadikanku penyihir. Aku tidak berani melempar diksi apapun, lalu tertelan waktu.
Kemudian jam pasir terus menukik berkali-kali hingga tiba pada masa ketika keangkuhanmu mengusikku. Aku menutup kotak cerita tentangmu, tanpa pernah mengira hal itu telah demikian meruntuhkanmu lagi. Maksudku adalah bukan untuk mengusirmu, hanya saja auraku sedang beku. Sampai saat ini pun penghakiman terus kulimpahkan pada jejakku yang dungu.
Hari-hari berlari, menarikku ke permukaan. Ujung pundakmu dapat kulihat lagi pada skema perjumpaan masa lalu. Kita tidak bicara. Tidak saling sapa. Aku merasa ada muram yang belum selesai, dan rasa bersalah yang mengintai. Pada akhirnya yang kupilih adalah diam, melapurkan kejanggalan menjadi hal yang biasa. Siapa yang menyangka, di ujung hari itu keajaiban mengangkasa. Jaring-jaring yang dulu kusut mulai terurai kembali. Sisa halilintar meraung-raung di kepala. Kemudian sesederhana padam yang mematikan nyawa, jutaan padi bangkit dari rundukannya. Kita kembali, menapaki skenario baru yang lebih hidup dari sebelumnya.
Meski demikian, relungmu masih kuraba. Satu per satu gelap dan pekat merambati sekat. Titik-titik mengadu pada penelusuran keingintahuanku, memulai pilu. Baru kusadari bahwa sebenarnya kau baik-baik saja di sana. Dalam dimensi lain, pesona wanita penuh lara dan muslihat telah berhasil memenuhi lukamu. Menukar tumpuan dan senja, juga antara pagi dan ambisi. Bayanganku sudah mati sejak terakhir bertemu. Kau mencoba lupa tanpa bercerita pada mereka. Kau biarkan nisanku berpapasan dengan asa. Bagimu saat itu, dia lebih nyata.
Makin menyelamimu, risau makin bergemuruh. Jatuh. Terlilit alur yang sudah berlalu. Meski sumpahmu melengking, memastikan tidak ada yang tertinggal. Tetap saja pendaratanku tersesat. Bagai orang pesakitan, aku terluka dan gila di saat yang sama. Mengutuki malamku yang pernah mengabaikanmu terlalu lama. Mengutuki langkahku yang terlambat. Mengutuki sang wanita yang menjerat.
Aku memujamu di atas batas kewarasanku. Melebihi cinta. Melebihi pengabdian. Merayap mencapai racun empedu.
Bagaimana tidak, kau pusatkan satu titik gerimis buta. Digetarkannya debu menjadi galaksi bahagia.
Bagaimana tidak, kau leburkan jutaan rasa. Ditepiskannya sepi tanpa diminta.
Kita terikat dalam damai. Memeluk tanah tua bersama. Menggugurkan firasat aneh yang mendistraksi nestapa.
Tahun-tahun penyesalan itu kini abadi di atap ruang terkunci. Kau coba meledakkannya berkali-kali dengan aliran frasa yang membasahi pagi. Kian pudar, kian tersisa sedikit sekali. Oleh sebab itu, aku ingin mencatat hari ini sebagai ingatan terakhir badai yang terhenti. Biarkan janji tiga bulan lalu dimulai lagi. Mengindahkan dunia baru yang akan kita tapaki sampai mati.