Dalam setiap bisu yang memilih untuk berkuasa, aku tak ingin hanya diam tak melakukan apa-apa , tapi apa daya raga sudah hilang kuasa sekarang jadi milik mereka untuk tetap berada pada jalurnya .
Kata orang “ diam adalah emas “
Sampai kapan aku harus membungkam keinginan yang terkurung dalam penjara kuasa, aku juga manusia punya rasa ingin melepas semua beban yang mengikat erat selama ini , bukan aku lari dari tanggung jawab namun batasan-batasan yang mereka buat semakin erat mendekap.
Aku tau semua karena raga dan naluriku yang merusak kondisi hingga sekitar menjadi risih. Aku merusak keharuman nama yang dibangung dengan sepenuh nyawa oleh pemilik raga ini di dunia .
Tak bisa selalu berdiam hanya menunggu untuk titik bahagia, namun yang dipunya hanya rasa bersalah dan lantunan doa, raga sudah tak punya kuasa menampakkan rasa biasa dihadapan mereka , mendelik dalam sudut ruang penuh putus asa, merunduk dalam ketakutan terus membayang.
Sampai kapan aku harus berjuang dengan pikiran agar tetap diam agar tak meluka raga,malaikat maut mungkin sudah beberapa kali berusaha menyapa ,namun pergi begitu saja dengan tega, tak tahu lagi apa yang sudah dicoba untuk kembali menyapa namun dirasa belum waktunya untuk singgah berlama di sisi raga.
Kadang aku lebih percaya diam tenang nyata saat raga sudah kehilangan jiwanya , sungkan mengatur nafas sejalan dengan pikiran yang sudah tak karuan ini .
Kepada sang pencipta aku tak tau harus melangkah bagaimana , aku ingin segera mengakhiri sakit yang bersemayam di pikiran dengan berperang dengan raga agar terlukadan tersiksa,namun tak pernah bisa terlaksana entah karena apa , atau hanya aku yang memang tak punya nyali yang sedalam palung samudra🍃