Tentang Hujan Di Kereta
Selamat sore, Tuan. Apa kabar Yogyakarta? Aku masih di jalan, menuju kepadamu. Pulang. Di luar hujan, dan aku merindukanmu. Seperti tetes-tetes air dari langit yang turun dengan menggebu, saling berlomba agar cepat bertemu tanah. Di luar hujan, dan aku menyayangimu. Seperti sweater cokelat yang kukenakan sambil memandangi jendela kereta. Hangat, nyaman, dan menenangkan. Di luar hujan, dan aku mencintaimu. Seperti kabut tebal dan badai yang tetap diterjang keretaku. Seolah yakin pada tujuan di depan sana, meski masih bias dan belum terlihat sempurna. Di luar hujan, dan aku nananina padamu. P.s. Jemput aku di stasiun pukul sembilan. Akan kubuktikan bahwa hati untukmu masih utuh tanpa goresan. Ditulis di bangku 4A kereta api Jaka Tingkir, sisi jendela.










