Kita Selalu Mengira Masih Ada Waktu
Dulu aku kira, waktu hanya soal jam yang terus bergerak.
Tentang pagi yang berubah menjadi malam, tentang kalender yang berganti pelan-pelan setiap bulan.
Tapi semakin hidup mengajarkan banyak hal, aku mulai sadar… waktu ternyata juga bisa mengubah cara seseorang merasa.
Ada orang yang dulu begitu kita perjuangkan, sekarang namanya bahkan jarang terlintas sebelum tidur.
Ada luka yang dulu terasa seperti akhir dunia, kini hanya tinggal cerita yang sesekali lewat tanpa lagi membuat dada sesak.
Dan lucunya, manusia sering baru memahami arti kehilangan setelah waktu berhasil membuat semuanya terasa biasa saja.
Padahal yang paling menakutkan dari waktu bukan tentang bertambah tua… melainkan tentang bagaimana ia perlahan membuat seseorang terbiasa hidup tanpa hal-hal yang dulu terasa tidak tergantikan.
Sebab hidup diam-diam memang terus berjalan.
Satu per satu orang yang dulu ada di sekitar kita mulai pergi lebih dulu. Ada yang dipanggil Allah, ada yang menjauh karena keadaan, ada pula yang perlahan berubah asing karena waktu.
Dan saat itu terjadi, manusia baru sadar sebanyak apa pun uang yang dimiliki, waktu tetap tidak bisa dibeli kembali.
Kita tidak bisa memutar ulang satu pelukan yang terlewat. Tidak bisa kembali pada satu makan malam yang dulu ditolak karena sibuk. Tidak bisa mengulang kesempatan untuk berbicara lebih lembut kepada orang-orang yang ternyata tidak tinggal selamanya.
Mungkin itu sebabnya, menjadi baik bukan perkara siapa yang paling kaya, paling hebat, atau paling dipuji.
Karena pada akhirnya, yang paling diingat manusia sering kali hanyalah: siapa yang pernah membuat hatinya merasa dihargai saat masih punya waktu bersama.
Namun mungkin memang begitu cara Allah menyelamatkan manusia.
Sebab bila semua rasa tinggal seutuh hari pertama, barangkali hati kita tidak akan cukup kuat untuk terus hidup sampai hari ini.
Dan dari situlah aku belajar:
Bahwa waktu tidak selalu datang untuk menghapus. Kadang ia hanya membantu manusia menerima… tanpa harus terus menangis di bagian yang sama.
Karena pada akhirnya, banyak penyesalan terbesar dalam hidup ternyata bukan tentang seseorang yang pergi… melainkan tentang kita yang terlalu yakin masih punya banyak waktu, sampai akhirnya tidak sempat mengatakan: "tinggallah lebih lama."
(foto ini diambil oleh seseorang yang sampai hari ini masih tetap hadir dengan tulus di hidupku - Neneng Sulastri. Dan di usia yang semakin mengajarkan banyak kehilangan, kehadiran orang-orang yang tetap tinggal sementara waktu masih mengizinkan… terasa sangat berharga.)
Catatan kecil - 19/05/2026 • 07:14 WIB
#TentangWaktu #TentangManusia #LateNightThoughts #CoffeeAndThoughts #YollaOlla