Kadang aku berbisik bertanya pelan, bukan tentang kenapa aku selalu gagal. Namun kenapa setiap kali hampir sampai semesta seperti menarikku kembali dan bilang "belum waktunya".

if i look back, i am lost

JBB: An Artblog!
Misplaced Lens Cap

★
Sade Olutola

Product Placement
art blog(derogatory)

#extradirty

shark vs the universe
One Nice Bug Per Day
tumblr dot com
Cosimo Galluzzi
we're not kids anymore.
cherry valley forever
i don't do bad sauce passes
ojovivo
Jules of Nature

blake kathryn
Not today Justin
Stranger Things
seen from United States
seen from United States

seen from Singapore
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Germany
seen from China
seen from Türkiye

seen from United States
seen from France
seen from Norway

seen from United States
seen from Türkiye
seen from Germany
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from United States

seen from Germany

seen from Croatia
seen from United States
@aksarapuan94
Kadang aku berbisik bertanya pelan, bukan tentang kenapa aku selalu gagal. Namun kenapa setiap kali hampir sampai semesta seperti menarikku kembali dan bilang "belum waktunya".
Umbra Part 3:
"REMNARIA"
Ada hari tertentu ketika semesta seperti menahan napas, seolah rasi bintang sengaja berhenti berputar agar ruang dalam dadaku punya cukup waktu untuk menata ulang dirinya.
Hari ini salah satunya. Dan yang mengejutkan… tidak ada gemetar, tidak ada badai. Hanya keheningan yang akhirnya memiliki wujud. Aku berdiri di bawah langit yang muram, bukan untuk menunggu siapa pun, tetapi untuk memastikan orbitku tidak lagi tertarik pada sebuah pusat yang sejak awal tidak pernah benar-benar memanggilku. Masih ada sisa-sisa kecil yang menempel seperti debu kosmik di tepi hidupku:
surat yang pernah kutulis dengan jantung terlalu telanjang; lagu yang dulu kudengarkan untuk meredam bintang-bintang gugur di dalam dada; trotoar malam yang menyimpan ritme dua langkah yang dulu seolah seirama; dan cardigan yang sempat memeluk rindunya, kini tinggal bayangan hangat yang sudah kupulangkan ke konstelasiku sendiri.
Dulu aku berpikir jarak adalah neraka. Ternyata bukan. Neraka adalah memaksa jiwa tinggal di galaksi yang bahkan tidak memberinya gravitasi...
Aku pernah tinggal di neraka itu. Aku melihatnya menyusun topeng-topeng itu dengan rapi: topeng kuat, topeng tenang, topeng tidak butuh siapa-siapa, semua ia kenakan seperti atmosfer mengelilingi sebuah planet, yang takut menampakkan retaknya. Ia berdiri seakan pusat orbit, padahal ia sendiri gentar pada cahaya yang bisa lahir jika ia berhenti bersembunyi.
Aku melihat itu semua. Sialnya, dulu aku tetap tinggal. Tinggal untuk memahami sesuatu yang bahkan pemiliknya enggan mengakuinya. Tapi waktu, makhluk purba yang tidak pernah berkompromi, telah mengajariku satu hal:
cinta yang terlalu sibuk menyelamatkan seseorang akan kehilangan cahayanya sendiri.
Ada satu detik hening ketika semesta berbisik “cukup.” Bukan petir, bukan gemuruh, bukan kehilangan dalam ledakan supernova. Hanya hampa yang tiba-tiba terasa penuh. Sebuah jeda yang membuatku sadar aku tidak perlu lagi menunggu seseorang yang bahkan tidak sanggup bernapas tanpa topengnya. Ketika akhirnya aku berjalan menjauh, itu bukan karena aku melarikan diri, tapi sebab aku memahami, aku bukan tempat ia tumbuh.
Aku hanya tempat ia berlindung dari ketakutannya sendiri. Dan ketika seseorang hanya datang untuk bersembunyi, bukan berubah, maka kepergiannya bukan duka. Itu adalah pemulangan.
Kini aku berdiri di bawah langit yang sama yang pernah kubagi bersamanya, tetapi rasanya berbeda: lebih lapang, lebih jernih, lebih setia pada nadiku sendiri. Tidak ada kehancuran yang tersisa. Yang ada hanya kesadaran bahwa yang hilang… hanyalah bayangannya.
Jika suatu hari ia menoleh dan menemukan ruang kosong, itu bukan karena aku menghilang. Itu karena aku tidak pernah menunggunya di sana. Aku hanya tinggal beberapa waktu untuk menentukan arahku. Dan ketika akhirnya aku melangkah, aku pergi tanpa marah, tanpa dendam. Tanpa ingin dilihat lagi olehnya.
Hanya perempuan yang akhirnya pulang ke galaksinya sendiri...
“Never allow loneliness to drive you into the arms of someone you know you don’t belong with.”
— Unknown
“The pain that you feel is only temporary. The growth that you experience will last forever”
— Nicole Addison
𝚖𝚊𝚢 𝚢𝚘𝚞𝚛 𝚗𝚎𝚡𝚝 𝚝𝚎𝚊𝚛𝚜 𝚋𝚎 𝚝𝚎𝚊𝚛𝚜 𝚘𝚏 𝚓𝚘𝚢
˚. ✦.˳·˖✶ ⋆.✧˚
Ternyata yang kembali itu bukan orangnya. Tapi kejadiannya. Namun rasanya… begitu mirip.
Seperti membaca buku baru dengan alur yang sudah pernah kualami. Dialognya mungkin tak persis, tapi aku merasa familiar.
Aku sempat menyangkal.
“Mungkin ini beda.”
“Mungkin kali ini tidak akan sama.”
Tapi tubuh dan perasaanku tidak pernah benar-benar bisa dibohongi. Ada bagian kecil dalam diriku yang berbisik,
“Aku pernah berdiri di titik ini.”
Dan benar saja, ketika semuanya mulai retak, rasanya bukan sekadar kecewa yang baru—melainkan luka lama yang seperti dibuka kembali.
Yang menyakitkan bukan hanya kejadiannya. Tapi kesadaran bahwa aku kembali berada di situasi yang serupa. Seakan-akan hatiku mengulang ujian dengan soal yang hampir sama.
Aku bertanya pada diri sendiri,
Apakah aku memang seburuk itu?
Apakah memang aku tak baik?
Aku sering memberi makna pada perhatian yang sederhana. Sering berharap lebih dari yang diucapkan. Sering bertahan lebih lama dari yang seharusnya.
Tapi kali ini, rasa yang tertinggal di dadaku sama: perasaan tak cukup dipilih, tak cukup diperjuangkan, tak cukup dihargai.
Aku tidak ingin menyalahkan siapa pun sepenuhnya. Aku hanya ingin belajar.
Bahwa aku boleh memilih berhenti lebih cepat. Bahwa aku boleh menjaga diriku lebih dulu. Bahwa aku boleh memilih untuk bahagia.
Mungkin memori yang terputar ini bukan untuk menyakitiku lagi,
tapi untuk menyadarkanku:
Aku pantas berada di tempat yang membuatku merasa berharga, bukan tempat yang membuatku terus mempertanyakan nilai diriku.
Agar mampu menghadapi kecewa, sisakanlah ruang untuk kemungkinan terburuk.
Karena kita tahu sebaik apapun design rencana kita, ada rencanaNya yang lebih baik, meski kadang kebanyakan dari kita kecewa ketika menerimanya.
Bahagia di usia jelita ke atas bukan lagi tentang romantisme yang meledak-ledak, tapi tentang dua jiwa yang sudah selesai berdamai dengan dirinya, lalu bertemu tanpa ingin menyelematkan -- hanya ingin menemani, saling menitipkan diri...
Dan mungkin, yang paling sulit bukan menemukan pasangan sejati, melainkan menjadi diri yang siap untuk ditemani...
Tentang Sebuah Luka yang Nyata, dan Allah yang Jauh Lebih Nyata
Aku tahu, rasanya sesak sekali. Ada hari-hari di mana kamu hanya ingin diam, karena menjelaskan rasa sakitmu pun terasa melelahkan.
Luka itu nyata. Kecewa itu ada. Dan aku tidak akan memintamu untuk langsung berpura-pura baik-baik saja.
Tapi, bolehkah aku membisikkan satu hal?
Terkadang, Allah membiarkan hati kita dipatahkan oleh dunia, hanya agar tidak ada lagi ruang untuk selain Dia di dalamnya. Kita seringkali terlalu erat menggenggam sesuatu yang sejatinya bukan milik kita. Kita menaruh harapan setinggi langit pada manusia yang dasarnya adalah tempat salah. Lalu saat semua itu hilang, kita merasa hampa. Padahal, rasa hampa itu adalah undangan. Undangan dari Allah agar kamu kembali bersujud.
Bahasa-Nya begitu halus... Dia tidak memaksamu, Dia hanya membuatmu menyadari bahwa hanya di sajadah itulah kamu benar-benar menemukan telinga yang mendengar tanpa menghakimi.
Luka ini bukan hukuman. Luka ini adalah "alarm" kasih sayang-Nya. Dia merindukan rintihan doamu. Dia merindukan air mata yang jatuh karena takut dan harap kepada-Nya, bukan karena meratapi hamba-Nya.
Jangan fokus pada siapa yang menyakitimu, tapi fokuslah pada Siapa yang sedang menunggumu kembali.
Allah itu nyata. Kasih sayang-Nya melampaui rasa sakitmu. Janji-Nya tentang "kemudahan setelah kesulitan" itu pasti.
Pelan-pelan ya...
Biarkan luka itu sembuh bersama waktu dan ketaatan. Kamu tidak perlu berlari, cukup melangkah kecil menuju Dia. Sebab saat kamu mendekat pada-Nya sejangkal, Dia akan mendekat padamu sedepa.
Semoga hatimu segera diberikan ketenangan yang luas, seperti luasnya ampunan dan rahmat-Nya.
Amin.
Simfoni Tak Sama
Tak perlu mencuri pandang pada lintasan yang bukan milikmu, tiap telapak kaki memiliki peta dan rahasianya sendiri. Biarkan detak menuntunmu pada jalan yang telah digariskan, tanpa perlu merasa tertinggal oleh binar yang tampak di mata orang lain.
Menjadi rapuh bukanlah sebuah kekalahan atau tanda bahwa kau telah hancur, itu adalah bukti bahwa jantungmu masih berdenyut dengan hangat, bahwa kau adalah makhluk yang memiliki rasa dan batas yang nyata. Tak selamanya harus berdiri tegak menantang angin yang kencang.
Tanggalkan topeng yang memaksamu untuk selalu tampak pahlawan di hadapan dunia, tak ada kewajiban untuk memahat tawa saat batinmu sedang merintih perih. Kau berhak atas segala emosi yang hadir tanpa perlu merasa bersalah.
Sangat lumrah jika hari ini kamu merasa sedang tidak berdaya, karena keberadaan paling murni, duka adalah tamu yang sah untuk disambut. Hingga nanti kesiapan itu datang kembali bersama fajar yang baru.
Jujurlah pada lukamu, agar ia tahu cara untuk pulih.
Rahasia di Balik Pintu yang Tertutup
Pernah nggak, udah ngerasa "all out", udah berdoa sampai nangis-nangis, tapi hasilnya tetep fail?
Rasanya kayak kita udah di depan pintu sukses, tapi kuncinya malah patah. Di saat itu, kita sering bertanya: "Ya Allah, salahku apa?” “Ya Allah, salahku di mana?" Padahal, seringkali yang kita sebut sebagai "kegagalan" sebenarnya adalah intervensi Arrahman.
Kita sering terlalu fokus pada satu titik yang hilang, sampai lupa kalau Allah sedang menyiapkan satu lanskap kebahagiaan yang lebih luas. Ibarat lagi baca buku, kita baru sampai di bab yang sedih, tapi kita udah buru-buru pengen nutup bukunya. 📖✨
Padahal, Penulis Skenario kita adalah Dia yang Paling Mencintai kita. Mungkin "Tidak" dari-Nya hari ini adalah cara-Nya menjauhkan dari luka dan keburukan yang lebih besar di masa depan. Mungkin "Belum" dari-Nya adalah cara-Nya melatih pundak kita agar cukup kuat memikul amanah yang lebih hebat nantinya. Jangan dulu nyerah sama keadaan. Istirahat sejenak, tarik napas dalam-dalam. Percaya bahwa plot twist dari Allah selalu lebih indah daripada rencana paling matang yang kita punya.
Jangan menakar hasil dari pupuk yang ditebar hari ini; sebab tanah pun memiliki adabnya sendiri dalam menyimpan dan mengurai,
Benih tidak pernah berunding dengan musim, hanya setia pada tugasnya—membelah gelap, menembus sunyi, lalu tumbuh tanpa banyak suara.
Maka bila hari ini yang terlihat baru sebatas tanah yang diam, mungkin saja kehidupan sedang bekerja di kedalaman yang tak bisa ditafsir,
Yang tergesa biasanya hanya ingin panen, sementara yang tau proses akan bersabar merawat akar.
Tuhan, aku titip satu nama. Setidaknya jika kabarnya tak kunjung aku terima, aku harap Tuhan menjaganya agar ia tetap baik-baik saja di mana pun sekarang ia berada. Itu sudah lebih dari cukup.
Setiap pagi hujan selalu turun, begitupun dengan pertolongan Allah akan segera turun. Maka segera turunkanlah kekhawatiranmu, lalu naikanlah ketaqwaanmu. Dan biarkan Allah ikut andil, pada bagian yang menurutmu mustahil.
Perihal Mencintaimu
Puan, aku mengerti, kok, kalau kamu masih belum bisa beranjak dari perasaan yang pernah begitu lama mendiami dadamu. Meskipun, entah butuh waktu berapa lama kamu mampu melewatinya, rasanya menunggu bukanlah menjadi pekerjaan yang membosankan untukku.
Puan, mungkin kalau suatu hari nanti kamu menemukan tulisan ini, bisa jadi kamu tak merasa apa-apa. Karena pada akhirnya, aku telah begitu terlambat untuk menyampaikan rasa, sedang kamu telah melupa perihal keberadaanku.
Mengetahui saja pun, mungkin tidak.
Tapi, tidak mengapa bagiku. Pertemuan denganmu yang tetiba, sudah cukup untuk meniupkan nyawa ke dalam perasaanku yang telah lama mati. Senyummu, menjadi alasan mengapa perlahan cahaya mulai menyelusup di antara kegelapan ini. Tawamu, menjadi alasan mengapa aku ingin memulai hari demi hari.
Dan dengan mencintaimu, aku bisa menemukan diriku lagi.
Namun, jika akhirnya perasaanku berbalas, aku hanya ingin kamu tahu, bahwa aku masih di sini menunggumu. Bahwa perasaan ini telah berlayar di lepas samudra, menunggu untuk berlabuh di dermaga hatimu.
[Jakarta, October 2024]
Ternyata mengunjungi laman yang telah terlewati tidak ada salahnya. Membaca lagi cerita yang hampir usang. Mengingatkan aku bahwa perjalananku sudah sejauh ini. Empat tahun lalu, Tuhan menitipkan sedikit perasaan bahagia di semestaku. Beberapa waktu kemudian, perasaan itu harus tercabut. Menyisakan luka besar menganga. Aku berjalan sendiri menjahit luka itu. Dengan darah juga airmata. Kini luka itu sudah membaik. Aku sudah menemukan tenangku. Aku tidak lagi rindu aku yang dulu. Sebab aku yang baru jauh lebih menyenangkan. Terimakasih telah datang membawa pelajaran. Aku tidak membenci, hanya saja jarak di antara kita harus benar2 terjaga. Aku lihat hidupmu sudah bahagia. Doakan aku juga setepatnya bertemu manusia yang akan melengkapi aku selamanya.
#desember #sembuh
Lukaku yang kali ini. Aku tidak tahu bagaimana cara menyembuhkannya. Sebab, dia datang dari orang yang aku cintai 30 tahun lamanya. Orang yang sudah aku sukai sejak napas pertamaku di dunia. Membencinya aku tidak bisa. Tapi, semenjak hari itu aku jadi bertanya-tanya. Apa cintaku untuk dia masih sama. Apa jika nanti aku kehilangan dia, sakitnya akan tetap terasa.
Aku dibuat patah, oleh orang yang ku panggil Ayah😭